#30 tag 24jam
Mimpi Salmi Bawa Terbang Resep Emak ke Pasar Global, Cangcomak Tumbuh Bersama BRI
Kisah inspiratif Salmi merawat resep ibu lewat Cangcomak, bangkit dari menganggur hingga siap go international didukung Rumah BUMN BRI. - Bagian all [1,155] url asal
JAKARTA, iNews.id - Setiap Lebaran, dapur rumah Salmi selalu lebih sibuk dari biasanya. Sang ibu akan mulai memanggang kacang, lalu melapisinya dengan cokelat hingga menjadi camilan.
Salmi tidak pernah berpikir resep tersebut suatu hari akan mengubah jalan hidupnya. Kacang cokelat itu pun tak lagi sekadar hidangan khas hari raya.
"Jadi setiap tahun cuma (dibuat) sekali, kacang cokelat. Kan autentik bikin sendiri, ya sudah kita bikin aja deh, kenapa gak dijual aja," ujar Salmi kepada iNews.id pada Selasa (23/6/2026).
Setelah kehilangan pekerjaan pada 2018 dan sempat menganggur, Salmi memutuskan menghidupkan resep tersebut. Dari dapur rumahnya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat, lahir Cangcomak, singkatan dari Kacang Cokelat Emak pada 2020.
Salmi mengolah resep tersebut dengan menyediakan tiga varian kacang, yakni kacang tanah, almond, dan kacang mede. Harganya dibanderol mulai dari Rp8.000 untuk kemasan ekonomis, hingga Rp30.000 dengan kemasan besar.
Omzet yang diperoleh pun cukup besar. Salmi mampu meraih sekitar Rp70 juta hingga Rp80 juta per tahun.
Salmi mengakui perjalanan Cangcomak tidak berhenti ketika produk berhasil dipasarkan. Tantangan berikutnya justru dimulai setelah usaha berjalan.
Dia harus belajar membuat kemasan yang lebih menarik, menyusun laporan keuangan, memahami pemasaran digital, hingga membangun merek agar produknya bisa bersaing di tengah semakin banyaknya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di tengah proses itulah dia mengenal Rumah BUMN BRI. Salmi bergabung pada 2021 dan mulai aktif mengikuti program-program pendampingan yang diselenggarakan.
"Setelah ikut berbagai macam pelatihan kita mulai tahu ada Rumah BUMN BRI. Dari 2021 udah ikut di situ," katanya.
Camilan yang dulu hanya dinikmati Salmi dan keluarganya perlahan menembus pasar yang lebih luas. Berbekal pendampingan Rumah BUMN BRI, Salmi tak lagi sekadar bermimpi menjual produknya di dalam negeri.
Dia mulai menyiapkan langkah agar warisan resep ibunya suatu hari bisa dinikmati konsumen di berbagai negara. Salah satu upaya yang dilakukan yakni mengikuti berbagai pelatihan Rumah BUMN BRI.
Rumah BUMN BRI kemudian menjadi tempat Salmi belajar mengembangkan usaha secara lebih terarah. Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah wajah produk Cangcomak.
"Orang lain kemasannya masih pakai stiker, kalau Cangcomak itu udah cakep. Akhirnya dari BRI dikasih fasilitas kemasan gratis, standing pouch," tutur Salmi.
Manfaat terbesar yang dirasakannya dari program-program Rumah BUMN BRI bukan semata pada perubahan kemasan. Melalui berbagai pelatihan yang rutin diadakan Rumah BUMN BRI, dia mulai memahami banyak aspek penting dalam menjalankan usaha, mulai dari pemasaran digital, pengelolaan keuangan, hingga penguatan legalitas produk.
Menurut Salmi, materi yang diberikan selalu mengikuti perkembangan kebutuhan pelaku UMKM. Peserta pun bebas memilih kelas yang paling sesuai dengan tantangan usahanya.
"Kita tinggal pilih saja (pelatihan) apa yang kita butuhin nih, nah kita ikut. Misalkan AI, sekarang lagi rame apa nih, misalnya pelatihan laporan keuangan digital, nah kita ikut," ujarnya.
Kesempatan yang diperoleh semakin luas seiring keaktifannya mengikuti berbagai program. Salmi mengaku rutin menghadiri pelatihan, baik secara daring maupun luring.
Dari situlah dia beberapa kali terpilih memperoleh fasilitas tambahan, termasuk pendampingan sertifikasi halal yang saat itu hanya diberikan kepada UMKM tertentu.
Rumah BUMN BRI juga membuka akses promosi yang lebih luas. Salmi berkesempatan memperkenalkan Cangcomak kepada pasar melalui berbagai pameran dan showcase, seperti Brilianpreneur dan Pesta Rakyat Simpedes. Kesempatan itu membantunya memperluas jaringan sekaligus mengenalkan produk kepada lebih banyak konsumen.
Kini, menurut Salmi, manfaat yang paling terasa setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI adalah semakin dikenalnya Cangcomak di tengah persaingan produk makanan ringan. Berbagai pelatihan yang terus diperbarui juga membuatnya bisa menyesuaikan strategi pemasaran dengan perkembangan teknologi.
"Pasti lebih dikenal, terus pelatihannya gratis. Misal training live TikTok, affiliate juga ada. Jadi sesuai sama yang kita butuhin. Bantu banget sih," katanya.
Bekal yang diperoleh dari Rumah BUMN BRI kini membawa Salmi ke tahap berikutnya. Jika dulu dia hanya memikirkan bagaimana produknya laku dijual, kini dia mulai belajar bagaimana membawa Cangcomak menembus pasar internasional.
Melalui program pendampingan BRI bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), Salmi menjadi salah satu pelaku UMKM yang mengikuti sekolah ekspor. Dia mengakui dunia ekspor semula terasa sangat asing.
Salmi bahkan belum memahami bagaimana mekanisme pembayaran, pengiriman barang, hingga penyusunan dokumen yang dibutuhkan.
"Ini lagi disekolahin ekspor sama BRI. Jadi BRI kerja sama dengan Kemendag, itu kayak UMKM terpilih diajak perkenalan ekspor," ujarnya.
Pada tahap awal, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar ekspor. Setelah memahami fondasinya, materi pelatihan berkembang menjadi lebih teknis, mulai dari menghitung biaya logistik, menentukan harga jual, hingga memperkirakan daya tahan produk selama proses pengiriman ke luar negeri.
"Kalau sekarang tuh advance, lebih spesifik. Kayak cara ngitung perhitungannya, instrumen biaya kirim. Kalau dijual berapa. Harus disiapkan. Terus kalau makanan baiknya tahan berapa lama," katanya.
Ilmu yang diperoleh mulai membuka peluang baru. Produk Cangcomak telah diperkenalkan kepada calon pembeli dari Singapura, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, hingga Australia melalui berbagai showcase.
Bahkan, salah satu calon pembeli dari Rusia sudah meminta rincian penawaran harga.
"Rusia sih kemarin, tapi belum follow up lagi. Udah minta penawaran, dia minta dibreakdown soal harga, harga LCL (less container load) berapa, harga FCL (full container load) berapa, (kontainer) 20 feet berapa. Tapi belum (follow up). Mereka di sana emang lagi nyari cashew, pas banget," ujarnya.
Keseriusan Salmi membangun Cangcomak tak hanya terlihat dari kemasan yang semakin profesional atau peluang ekspor yang mulai terbuka. Berbagai pembenahan yang dilakukannya juga berbuah pada kepercayaan pelanggan.
Salah satunya datang dari Tania, warga Kelapa Gading. Dia mengenal Cangcomak melalui media sosial sebelum akhirnya memutuskan membeli produk tersebut.
Menurutnya, Cangcomak menawarkan sensasi yang berbeda dibanding camilan cokelat pada umumnya karena rasa kacangnya tetap menjadi karakter utama.
"Dia kan cokelatnya enggak begitu banyak, tapi masih ngacang aja. Menarik aja sih konsepnya. Cokelatnya enggak tebal ya dan enggak terlalu manis jadi saya suka banget," kata Tania.
Kesan positif itu membuatnya kembali membeli Cangcomak. Bahkan, camilan tersebut kini menjadi salah satu menu pelengkap sarapan yang rutin dia konsumsi.
"Ternyata cocok dimakan buat sarapan. Saya biasanya sarapan pakai yoghurt, dicampur sama yoghurt tuh enak. Terus pernah juga coba dicampur sama susu, enak. Bahkan digado juga enak. Jadi puas sih selama ini, oke banget. Rasanya enak, cokelatnya light, dan sehat juga kayaknya ya karena kacang," ujarnya.
Pengalaman itu pula yang mendorong Tania merekomendasikan Cangcomak kepada orang-orang di sekitarnya. Dia bahkan beberapa kali membawa produk tersebut ke kantor agar rekan-rekannya ikut mencicipi.
"Sudah, aku sudah rekomendasiin, dibawa ke kantor mereka coba katanya enak. Ya sudah aku kasih akun TikTok-nya," katanya.
Perjalanan sukses Cangcomak mencerminkan bagaimana intervensi Rumah BUMN BRI mampu mengubah peta bisnis pelaku usaha mikro. Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan kehadiran Rumah BUMN berperan krusial dalam menjembatani para pelaku usaha untuk naik kelas melalui peningkatan kompetensi, perluasan jaringan, dan pembukaan akses pasar baru.
Langkah ini, lanjut Dhanny, merupakan wujud nyata BRI dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif. Untuk merealisasikannya, BRI kini telah membina 54 Rumah BUMN di seluruh Indonesia dengan total pelaksanaan pelatihan mencapai lebih dari 18.218 sesi guna mengasah daya saing UMKM.
"Pemberdayaan yang terarah dan integrasi teknologi digital menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan. Sangat membanggakan melihat para pengusaha kecil yang dulunya hanya mengandalkan penjualan lokal, sekarang bisa berselancar di pasar online hingga menembus pasar ekspor," ujar Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Resep Lebaran Bawa Cuan, Cangcomak Naik Kelas Didukung Rumah BUMN BRI
Berawal dari resep Lebaran, Cangcomak berkembang menjadi UMKM beromzet puluhan juta berkat pendampingan Rumah BUMN BRI dan kini mulai membidik pasar ekspor. - Bagian all [1,330] url asal
JAKARTA, iNews.id – Olahan kacang berlapis cokelat menjadi titik balik kehidupan Salmi. Di tengah ketidakpastian setelah kehilangan pekerjaan, dia membangun usaha dari resep keluarga yang selama ini hanya muncul setahun sekali saat Lebaran.
Produk itu kini dikenal dengan nama Cangcomak, singkatan dari Kacang Cokelat Emak. Berawal dari dapur rumah pada 2020, usaha tersebut perlahan berkembang menjadi bisnis makanan ringan dengan omzet puluhan juta rupiah per tahun.
Perjalanan itu tidak dilewati sendirian. Berbagai pelatihan, pendampingan, hingga kesempatan promosi yang diperoleh melalui Rumah BUMN BRI menjadi bekal penting bagi Salmi untuk terus mengembangkan usahanya.
Sebelum menjadi pelaku UMKM, Salmi bekerja di salah satu perusahaan swasta. Namun, perusahaan tempatnya bekerja bangkrut pada 2018 sehingga dia harus menganggur.
Saat itu, dia mulai memikirkan usaha yang bisa dijalankan sendiri.
"Dulu saya kerja kantoran yang istilah orang bilang budak corporate ya. Tahun 2018 kantornya bangkrut, 2019 nganggur. Terus ya sudah pengin punya usaha aja," kata Salmi saat ditemui iNews.id di rumahnya, Palmerah, Jakarta Barat pada Selasa (23/6/2026).
Keinginan berwirausaha pun muncul. Hanya saja, Salmi belum mengetahui produk apa yang akan dijual. Hingga akhirnya dia teringat camilan buatan sang ibu yang selalu hadir setiap Lebaran.
"Cuma kan bingung ya pengin punya usaha apaan gitu. Kebetulan emak kan punya makanan ciri khas buat Lebaran, namanya kacang cokelat. Itu dibuatnya setahun sekali pas Lebaran. Hari-hari biasa tuh enggak bakalan ada, Lebaran aja. Jadi setiap tahun cuma sekali, kacang cokelat. Kan autentik bikin sendiri, ya sudah kita bikin aja deh, kenapa enggak dijual aja," ujarnya.
Sebelum mulai memasarkan produk, Salmi lebih dulu mengikuti pelatihan keamanan pangan melalui Jakpreneur pada akhir 2019. Dari sana dia belajar mengurus berbagai perizinan usaha, termasuk sertifikasi halal.
"Kalau kita mau jual itu kan harus jelas ya ada izinnya. Nah mulai tuh awal-awal ikut Jakpreneur. Akhir 2019 tuh ikut pelatihan keamanan pangan. Akhirnya kan ngerti tuh proses buat bikin perizinan," katanya.
Tak lama setelah produknya mulai dipasarkan, pandemi Covid-19 melanda. Kondisi itu justru mendorong Salmi belajar memasarkan produknya secara digital.
"Pas lagi kita udah mulai punya produk kan Covid-19, tapi pas Covid-19 itu kan kita tetap aktif ya. Mulai belajar online. Sampai sekarang," ujarnya.
Kini Cangcomak hadir dengan tiga varian utama, yakni kacang tanah, mede, dan almond berlapis cokelat. Seluruh kacang dipanggang terlebih dahulu sebelum dilapisi cokelat, sehingga menghasilkan tekstur renyah dan tidak berminyak.
"Jadi kalau ditanya unique selling point-nya Cangcomak apa, kacangnya tuh dipanggang, full baked, enggak lengket, enggak berminyak, cokelatnya crunchy, renyah. Jadi kan kalau cokelat itu kena matahari lumer, lengket. Nah kalau Cangcomak enggak, dia crunch gitu," katanya.
Tak hanya mengutamakan kualitas, Salmi juga mengusung konsep social impact. Bahan baku kacang tanah dipasok dari petani di Tuban, Jawa Timur, sedangkan kacang mede berasal dari Sumba. Pesan tersebut bahkan dicantumkan pada kemasan produknya.
"Kita di Cangcomak ada gerakan sosial, 'Dengan membeli produk ini, Anda turut membantu para petani'. Karena ambil kacangnya dari Tuban, Jawa Timur. Dia kacangnya besar, terus bersih, enggak kotor. Kacangnya juga utuh, full," ucapnya
Perjalanan Cangcomak berkembang semakin pesat setelah Salmi bergabung dengan Rumah BUMN BRI pada 2021. Dari sana dia mulai mendapatkan berbagai pelatihan yang membantu meningkatkan kualitas usahanya.
"Setelah ikut berbagai macam pelatihan kita mulai tahu ada Rumah BUMN BRI. Dari 2021 udah ikut di situ," katanya.
Salah satu perubahan yang paling terasa adalah tampilan produk. Melalui pendampingan Rumah BUMN BRI, dia memperoleh bantuan kemasan standing pouch yang membuat produknya tampil lebih profesional.
"Orang lain kemasannya masih pakai stiker, kalau Cangcomak itu udah cakep. Akhirnya dari BRI dikasih fasilitas kemasan gratis, standing pouch," ujarnya.
Selain itu, Salmi rutin mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI, mulai dari digital marketing, penyusunan laporan keuangan, hingga strategi pemasaran berbasis teknologi.
"Terus ikut-ikut pelatihan Zoom, pelatihan digital marketing, laporan keuangan, segala macam. Terus difasilitasi sertifikasi halal di BRI itu 2022," katanya.
Menurut Salmi, pelatihan yang diberikan selalu mengikuti kebutuhan UMKM sehingga peserta dapat memilih materi yang paling relevan.
"Itu sih pelatihan, tapi kan pelatihannya banyak. Kita tinggal pilih saja apa yang kita butuhin nih, nah kita ikut. Misalkan AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan), sekarang lagi rame apa nih, misalnya pelatihan laporan keuangan digital, nah kita ikut," ujarnya.
Dia mengaku aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan Rumah BUMN BRI. Keaktifan itu membuat Cangcomak beberapa kali terpilih menerima berbagai fasilitas pendampingan, salah satunya sertifikasi halal.
Tak hanya pelatihan, BRI juga membuka akses Salmi mempromosikan Cangcomak melalui berbagai pameran dan showcase, seperti Brilianpreneur hingga Pesta Rakyat Simpedes.
"Terus ikut Brilianpreneur, terus Pesta Rakyat Simpedes, banyak ikut event," ujarnya.
Dia merasa manfaat terbesar bergabung dengan Rumah BUMN BRI bukan hanya kesempatan mengikuti pelatihan, tetapi juga meningkatkan eksposur produknya.
"Pasti lebih dikenal, terus pelatihannya gratis. Misal training live TikTok, affiliate juga ada. Jadi sesuai sama yang kita butuhin. Bantu banget sih," katanya.
Pendampingan yang diterima Salmi kini tidak lagi sebatas pemasaran dalam negeri. Melalui program yang difasilitasi BRI bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag), dia mulai mempelajari seluk-beluk ekspor.
"Ini lagi disekolahin ekspor sama BRI. Jadi BRI kerja sama dengan Kemendag, itu kayak UMKM terpilih diajak perkenalan ekspor," ujarnya.
Dia mengatakan pelatihan tersebut dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahun pertama peserta diperkenalkan pada dasar-dasar ekspor, sedangkan tahun ini materi yang diberikan lebih mendalam.
"Tahun lalu tuh pengenalan dasar ekspor. Kita kan buta nih, ekspor tuh ngapain aja sih, pembukuannya apa, bayarnya gimana, dibuka deh tuh mindsetnya," ucap dia
"Kalau sekarang tuh advance, lebih spesifik. Kayak cara ngitung perhitungannya, instrumen biaya kirim. Kalau dijual berapa. Harus disiapkan. Terus kalau makanan baiknya tahan berapa lama," imbuhnya.
Hasil pendampingan tersebut mulai membuka peluang baru. Produk Cangcomak telah diperkenalkan kepada calon pembeli dari sejumlah negara, meski masih dalam tahap penjajakan.
Dia memerinci, sejumlah negara yang menunjukkan ketertarikan terhadap Cangcomak antara lain Singapura, Malaysia, Rusia, Korea Selatan, hingga Australia.
Bahkan, salah satu calon pembeli dari Rusia telah meminta penawaran harga secara terperinci. Meski demikian, Salmi memilih tidak terburu-buru mengejar pasar ekspor sebelum kapasitas produksinya benar-benar siap.
Hingga saat ini, kata dia, seluruh proses produksi masih dilakukan dari rumah bersama dua orang karyawan.
"Kalau ekspor itu kalau kapasitas kita sudah mampu ya, jangan paksain," tutur dia.
Kualitas Cangcomak mendapat apresiasi dari pelanggan. Salah satunya Tania, warga Kelapa Gading, yang mengaku tertarik mencoba produk tersebut karena konsepnya berbeda dari camilan cokelat pada umumnya.
Menurut Tania, lapisan cokelat pada Cangcomak tidak terlalu tebal sehingga rasa kacangnya tetap dominan. Hal itu justru menjadi alasan dia menyukai produk tersebut.
"Aku tertarik saja, dia kan cokelatnya enggak begitu banyak, tapi masih ngacang aja. Menarik aja sih konsepnya. Cokelatnya enggak tebal ya dan enggak terlalu manis jadi saya suka banget," kata Tania.
Setelah mencoba, Tania mengakui Cangcomak menjadi salah satu camilan favoritnya. Dia bahkan kerap menjadikannya pelengkap menu sarapan karena dinilai cocok dipadukan dengan berbagai makanan dan minuman.
"Ternyata cocok dimakan buat sarapan. Saya biasanya sarapan pakai yoghurt, dicampur sama yoghurt tuh enak. Terus pernah juga coba dicampur sama susu, enak. Bahkan digado juga enak. Jadi puas sih selama ini, oke banget. Rasanya enak, cokelatnya light, dan sehat juga kayaknya ya karena kacang," ujarnya.
Kepuasan itu membuat Tania tak ragu merekomendasikan Cangcomak kepada orang-orang di sekitarnya. Bahkan, dia membawa camilan tersebut ke kantor untuk dicicipi rekan-rekan kerjanya.
"Sudah, aku sudah rekomendasiin, dibawa ke kantor mereka coba katanya enak. Ya sudah aku kasih akun TikTok-nya," katanya.
Kisah Cangcomak menjadi salah satu contoh dampak pendampingan yang dihadirkan Rumah BUMN BRI bagi pelaku UMKM. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan Rumah BUMN BRI tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas, dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Dia menjelaskan, pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen BRI dalam membangun ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hingga kini, BRI telah menghadirkan 54 Rumah BUMN di berbagai daerah dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan untuk mendukung pengembangan kapasitas pelaku UMKM.
"Banyak pelaku usaha yang semula hanya menjual produk di pasar lokal, kini telah memasarkan produknya secara daring bahkan menembus pasar ekspor. Ini menunjukkan bahwa pendampingan yang berkelanjutan dan akses ekosistem digital mampu mengubah kualitas hidup masyarakat," kata Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Craftote Tembus Pasar 4 Negara lewat Pemberdayaan BRI, Produk Serat Alam Go Global
Craftote berhasil menembus pasar internasional dan mengekspor produk serat alam ke Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris lewat pemberdayaan BRI. - Bagian all [925] url asal
JAKARTA, iNews.id - Produk kerajinan berbahan serat alam Craftote Gallery & Coffee di Tomang, Jakarta Barat, telah menembus pasar internasional. Meski begitu, pemilik Craftote, Thio Siujinata, mengatakan perjalanan menuju ekspor tidak terjadi secara instan.
Craftote memasarkan produk kerajinan ramah lingkungan dengan konsep usaha yang dipadukan dengan coffee shop. Eceng gondok, pelepah pisang, purun, bambu, hingga rotan dipilih karena dikenal sebagai serat alam yang aman terdekomposisi tanpa merusak air, udara, atau tanah.
Serat-serat alam itu kemudian disulap menjadi berbagai produk kerajinan tangan seperti tas, keranjang, kursi, hingga dekorasi lampu dan dinding.

Saat membuka usaha pada 2021, Thio mengaku jangkauan pemasaran produknya masih sangat terbatas. Dia hanya mengandalkan promosi di lingkungan sekitar dan jaringan yang dimiliki secara pribadi.
"Waktu itu saya berpikir bisnis ini sendirian. Kekuatan saya cuma dua sampai lima kilometer ke tetangga kiri kanan," kata Thio saat ditemui iNews.id, dikutip Minggu (31/5/2026).

KUR BRI Bantu Warung Asep Bangkit Lagi, Jadi Penyelamat saat Usaha Terpuruk
Rumah BUMN BRI Bawa Produk Craftote Lebih Dikenal
Perubahan mulai dirasakan setelah Craftote bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta. Berbagai program pendampingan Rumah BUMN BRI membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau pelaku UMKM.
Menurut dia, salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika BRI mengajak Craftote mengikuti berbagai pameran di luar Jakarta. Pendampingan tersebut membuat produknya semakin dikenal masyarakat.

Belajar dari Masa Sulit, Craftote Bangkit lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI

"BRI bawa kita ke Cikampek, pameran di sana. Kalau enggak sama BRI, kita enggak dikenal sampai puluhan kilometer," ujarnya.
Dari berbagai kegiatan tersebut, jaringan bisnis Craftote semakin berkembang. Thio mulai bertemu calon pembeli, pelaku usaha lain, hingga mengikuti berbagai program peningkatan kapasitas yang difasilitasi BRI.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Craftote juga mengikuti pameran Kriyanusa yang menjadi salah satu pengalaman perdana mereka memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.
"Kita enggak ngerti apa itu Kriyanusa, akhirnya kita ikut dan menang," katanya.
Keikutsertaan dalam berbagai program tersebut kemudian membuka jalan bagi Craftote untuk mengikuti kelas ekspor yang difasilitasi BRI bekerja sama dengan Pusat Pengembangan SDM Ekspor dan Jasa Perdagangan (PPEJP) Kementerian Perdagangan (Kemendag). Dari sanalah Craftote mulai serius mengembangkan pasar internasional.
"Masuk kelas ekspor BRI kerja sama dengan Kementerian Perdagangan. Lulusnya tahun 2025," ujarnya.
Ekspor Produk ke 4 Negara
Saat ini, produk kerajinan tangan berbahan serat alam milik Craftote telah dipasarkan ke sejumlah negara, di antaranya Kanada, Australia, Jepang, dan Inggris.
Kanada menjadi pasar ekspor yang paling konsisten. Hingga kini, Craftote telah melakukan tujuh kali pengiriman.

"Kita ke Kanada sudah tujuh kali pengiriman dengan buyer yang sama," kata Thio.
Sementara itu, pasar Australia telah mencatat tiga kali transaksi berulang dengan pembeli yang sama. Adapun pembeli di Jepang telah melakukan dua kali pemesanan ulang.
Meski pengiriman masih dalam skala less container load (LCL) atau belum mencapai satu kontainer penuh, Thio menilai konsistensi pembelian menjadi indikator penting bahwa produknya diterima pasar internasional.
"Belum container, masih less container load. Tapi kita pede (percaya diri) karena sudah tujuh kali dengan buyer yang sama (di Kanada)," ujarnya.
Pasar terbaru yang berhasil ditembus adalah Inggris. Kesempatan itu berawal saat Craftote mengikuti pameran IFEX yang berlangsung di ICE BSD pada Maret 2026.
Dalam pameran tersebut, seorang calon pembeli dari Inggris awalnya hanya membeli sampel produk. Namun setelah melihat kualitasnya, pesanan berkembang menjadi satu set produk dan berlanjut menjadi permintaan yang lebih besar.
"Awalnya beli sampel. Minggu lalu kita kirim lima set. Sekarang dia minta lagi 30 set untuk Agustus," kata Thio.
Produk yang diekspor Craftote didominasi kerajinan berbahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, bambu, mendong, dan purun. Menurut Thio, bahan-bahan tersebut sebenarnya banyak dianggap sebagai limbah atau gulma yang kurang dimanfaatkan.
"Ini sebenarnya sampah atau gulma. Kalau enggak diolah, biasanya dibakar," ujarnya.

Selain mengembangkan pasar ekspor, Craftote juga terus berinovasi. Saat ini mereka tengah mengembangkan produk tas berbahan anyaman serat alam dengan desain yang lebih modern serta daya tahan lebih baik.
Di sisi lain, Thio menilai pendampingan Rumah BUMN BRI tidak hanya berhenti pada akses pasar. Dia juga mendapat kesempatan mengikuti berbagai pelatihan, business matching, hingga berbagi pengalaman dengan pelaku UMKM lain.
"BRI juga ngajarin kita untuk train for the trainer. Ketika kita dapat, kita berbagi ke UMKM lain," katanya.
Kerajinan Tangan Jadi Daya Tarik Coffee Shop
Keunikan itulah yang membuat banyak pengunjung tertarik saat datang ke Craftote Gallery & Coffee. Selain menikmati kopi, pengunjung juga bisa melihat berbagai produk kerajinan berbahan serat alam yang dipajang di dalam galeri.
“Lumayan sering ke sini, biasanya pas ngerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak,” ujar Dea kepada iNews.id.

Menurut dia, konsep yang memadukan coffee shop dengan galeri kerajinan tangan memberikan pengalaman berbeda dibanding kedai kopi pada umumnya. Dea mengaku cukup terkejut mengetahui banyak produk yang dipajang dibuat dari bahan-bahan alami yang selama ini jarang diperhatikan.
“Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus,” katanya.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.
Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Belajar dari Masa Sulit, Craftote Bangkit lewat Pendampingan Rumah BUMN BRI
Sempat boncos usai ekspansi cepat, Craftote bangkit lewat pendampingan Rumah BUMN BRI hingga berhasil tembus pasar ekspor. - Bagian all [960] url asal
JAKARTA, iNews.id - Perjalanan bisnis Craftote Gallery & Coffee yang dibangun Thio Siujinata ternyata tak selalu berjalan mulus. Usaha itu sempat berkembang terlalu cepat hingga membuat Thio menghadapi persoalan serius.
Baru berdiri pada Oktober 2021 di tengah pandemi Covid-19, usaha milik Thio itu langsung berkembang setelah bergabung dengan Rumah BUMN BRI. Tak lama kemudian, tepatnya pada 2023, jumlah coffee shop milik Thio berkembang menjadi empat gerai di berbagai lokasi.
Namun, Thio mulai menyadari keuangan usaha berantakan, pengeluaran tidak tercatat rapi, sementara fokus bisnis mulai bergeser dari kekuatan utamanya yakni kerajinan tangan berbahan serat alam.

Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
“Kayaknya ada yang salah nih, karena kita kan gak digaji. Waktu itu keuangan kita masih kacau,” kata Thio saat ditemui iNews.id di Craftote Gallery & Coffee, Tomang, Jakarta Barat, dikutip Minggu (24/5/2026).
Pria lulusan Desain Komunikasi Visual Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu mengaku sempat terlena melihat bisnis coffee shop miliknya berkembang pesat.

Ditopang KUR BRI, Depot Mirah Bulungan Tetap Eksis Hampir 2 Dekade
“2021 kita buka ini, 2021 juga kita punya dua coffee shop, di sini sama di sana Rumah BUMN BRI. 2022 saya buka lagi. (Total) saya punya empat, (dua lainnya) di Pos Bloc sama di RS Pelni,” ujarnya.
Rumah BUMN BRI Jadi Titik Balik
Di tengah ekspansi tersebut, Thio dan istrinya mulai mengevaluasi kondisi usaha. Mereka baru menyadari bisnis berkembang terlalu cepat tanpa sistem yang matang.

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko
“Duduk bareng-bareng coba periksa, di situlah kita sadar, boncos. Habis berapa ratus juta gitu gak kecatat,” kata Thio.

Dari situ, Thio akhirnya memahami kekuatan utama Craftote bukan berada di bisnis makanan dan minuman, melainkan pada produk kerajinan tangan berbahan serat alam seperti eceng gondok, pelepah pisang, bambu, hingga purun.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
“Karena kekuatan kita bukan di F&B (food and beverage), kekuatan kita di kerajinan tangan, craftingnya,” ujarnya.
Keputusan besar pun diambil. Dua gerai coffee shop yang baru dibuka akhirnya ditutup. Thio memilih kembali fokus membangun Craftote dari fondasi yang lebih kuat.
Dia kembali aktif mengikuti berbagai kegiatan yang disediakan Rumah BUMN BRI, salah satunya kelas keuangan yang membuka matanya.
“Akhirnya kita masuk lagi ke Rumah BUMN BRI. Ikut kelas keuangan. Di situ kita baru sadar, habis deh belajar di situ,” katanya.

Menurut Thio, pendampingan yang diberikan Rumah BUMN BRI tidak berhenti pada penyediaan tempat usaha semata. Dia mengaku mendapatkan banyak pelajaran terkait pengelolaan usaha, pengembangan jejaring, hingga strategi ekspor.
Dari Rumah BUMN BRI ke Pasar Ekspor
Perjalanan Thio bersama Rumah BUMN BRI bermula tak lama setelah Craftote dibuka. Saat itu, Tim BRI datang langsung melihat konsep usaha yang menggabungkan galeri kerajinan tangan dengan coffee shop.
“Cuma yang lirik kita sungguh-sungguh itu BRI. BRI datang ke sini,” ujar Thio.
Tak lama kemudian, Craftote mendapat tantangan mengikuti kompetisi kopi yang digelar Rumah BUMN BRI. Thio sempat tidak percaya ketika dinyatakan menang dan mendapat fasilitas coffee shop gratis.
“Dia bilang, ‘Kalau menang, Bapak dapat kafe kedua gratis.’ Saya makin gak percaya,” katanya.

Setelah itu, Craftote mendapat tempat usaha di Rumah BUMN BRI lengkap dengan fasilitas pendukung seperti meja, kursi, pendingin ruangan, hingga listrik dan air tanpa biaya tambahan selama dua tahun.
Dari sanalah jaringan usaha Craftote mulai berkembang. Thio mengaku diperkenalkan dengan berbagai komunitas, pameran, hingga peluang business matching yang memperluas pasar produk kerajinan tangannya.
“Kalau gak sama BRI kita gak dikenal sampai puluhan kilometer,” ujarnya.
Tak hanya itu, melalui berbagai program pelatihan dan kelas ekspor yang diikutinya bersama BRI, kerajinan tangan Craftote akhirnya berhasil menembus pasar internasional.
“Nah dari BRI juga akhirnya kita ekspor. Ekspornya ke mana? Ke Kanada,” kata Thio.
Kini produk Craftote telah dikirim ke Kanada, Australia, Jepang, hingga Inggris dalam skema less container load (LCL). Untuk pasar Kanada saja, Thio mengaku sudah tujuh kali melakukan pengiriman dengan buyer yang sama.
Fokus ke Kerajinan Tangan Ramah Lingkungan
Setelah melewati masa sulit, Craftote kini lebih fokus mengembangkan produk berbahan serat alam yang ramah lingkungan. Salah satu material utamanya adalah eceng gondok, tanaman yang selama ini kerap dianggap gulma.
“Ini sebenarnya sampah, gulma. Artinya ketika gak diolah sedemikian rupa, orang gak mau repot cuma satu, dibakar,” ujar Thio.
Melalui tangan para perajin di Yogyakarta, bahan-bahan tersebut diolah menjadi tas, keranjang, lampu, hingga berbagai produk dekorasi rumah dengan sentuhan desain modern.
Thio mengaku pengalaman bersama Rumah BUMN BRI membuatnya memahami pentingnya membangun bisnis secara bertahap dan terukur.
“Makanya sempat nyesel juga kenapa baru tahu Rumah BUMN BRI ini di usia tua, kenapa bukan dari usia muda,” katanya.
Keunikan lini usaha yang menggabungkan kerajinan tangan dan kopi membuat pengunjung betah berlama-lama. Salah satunya Dea, mahasiswi asal Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Dia mengaku kerap singgah ke Craftote Gallery & Coffee. Menurut dia, lokasi usaha Thio menjadi tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas akhir.
"Lumayan, seringnya pas kerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak," ujar Dea kepada iNews.id.
Selain kenyamanan tempat, Dea juga mengapresiasi keunikan koleksi kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee.
"Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus," ucap dia.
Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut.
Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
“BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Kisah Thio membangun Craftote dari olahan eceng gondok hingga menembus pasar ekspor mendapat dukungan Rumah BUMN BRI lewat pelatihan, pendampingan, dan business - Bagian all [1,338] url asal
JAKARTA, iNews.id - Bagi Thio Siujinata, bisnis bukan semata mencari keuntungan. Pria berusia 55 tahun itu ingin menciptakan ruang yang memungkinkan orang bisa terhubung dengan seni, alam, dan komunitas.
Berbekal jiwa seni yang tumbuh sejak menimba ilmu di Jurusan Desain Grafis Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Thio mencoba peruntungan baru. Dia memberanikan diri meninggalkan kariernya sebagai agen asuransi yang menopang stabilitas kehidupan dan keluarganya selama dua dekade terakhir.
"Saya percaya bahwa setiap impian memiliki potensi untuk menjadi kenyataan jika kita berani mengambil langkah pertama dan tetap teguh," ujar Thio saat ditemui iNews.id pada Rabu (22/4/2026).
Perjalanan Membangun Usaha
Perjuangan Thio bermula pada 2021. Pandemi Covid-19 yang berkembang pesat saat itu menjadi momentum baginya melakukan refleksi mendalam. Dia merenungkan kembali perjalanan hidupnya. Hingga suatu hari, Thio tertarik dengan tanaman eceng gondok (Pontederia crassipes) yang tumbuh subur di sekitar lingkungan rumahnya. Thio memandang eceng gondok yang selama ini kerap dianggap sebagai tanaman pengganggu memiliki potensi tersendiri. Dia melihat potensi tersembunyi dari serat eceng gondok yang dikenal kuat. Riset kecil-kecilan pun dilakukan. Dia lalu mendapatkan inspirasi berbekal riset tersebut. Serat alam yang terkandung dalam eceng gondok ternyata kerap diolah menjadi kerajinan tangan dengan teknik anyaman tradisional. Dia mendapati sejumlah komunitas lokal menggunakan eceng gondok sebagai bahan dasar pembuatan tikar, tas, hingga beberapa produk rumah tangga. "Kelebihannya adalah eceng gondok ini ketika dia hidup, dia bisa dirobek. Tapi kalau sudah kering, gak bisa dirobek," tutur Thio. Merasa menemukan jati dirinya kembali, Thio mulai memproduksi berbagai produk anyaman berbahan serat alam eceng gondok. Tas, keranjang, hingga hiasan dinding dibuat. Thio merasakan lonjakan semangat ketika melihat sejumlah karyanya mulai terkumpul. Hanya saja, Thio tak cepat puas. Dia ingin karyanya berdampak lebih luas. Idenya membangun Craftote Gallery & Coffee terbesit sepulang dari Abhimata Mitrasamaya, panti asuhan yang biasa dibantunya di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saat itu, sang pemilik panti asuhan bertanya ke Thio soal peluang karier untuk anak asuhnya yang telah lulus sekolah. "Kita kenal dengan ibu pantinya, karena sering ketemu ya seperti jadi kayak teman gitu. Lalu lama-kelamaan dia bilang gini, 'Pak Thio, anak-anak ada yang lulus, ada tiga anak, ada kerjaan gak buat mereka?' Saya bilang, 'Wah, gak ada,' gitu kan," tutur dia. Dalam perjalanan pulang ke Tomang, Jakarta Barat, sang istri, Rika Christina, melontarkan ide untuk membangun usaha yang menyerap tenaga kerja dari panti asuhan. Thio setuju dengan ide tersebut, namun sempat kebingungan dengan bidang usaha yang akan dijalani. Jawabannya datang dari hal yang paling dekat dengan dirinya, seni rupa, dan dipadukan dengan kedai kopi atau coffee shop. "Memang kita senang ngopi, ya sudah karena latar belakang saya seni rupa, akhirnya saya lirik kerajinan tangan. Karena saya memang idenya suka yang kreatif-kreatif gitulah," ucap Thio. Craftote Gallery & Coffee pun dibangun di rumah milik kakak iparnya yang berlokasi di Jalan Tomang Rawa Kepa Nomor 37, Tomang, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Konsep yang diusung dibuat berbeda. Craftote tidak hanya menjual produk kerajinan, tetapi juga menghadirkan coffee shop sebagai pintu masuk. Semula, Thio menyadari karyanya bukan produk biasa. Kerajinan berbahan serat alam ternyata punya pasar yang jauh lebih besar di luar negeri. Namun sebelum menembus pasar ekspor, dia ingin memperkenalkan produk itu lebih dulu ke pasar domestik. Dia lalu menggandeng perajin di Yogyakarta berbekal informasi dari kakak iparnya yang juga menggeluti usaha serupa. Karya hasil para perajin tersebut berhasil dipasarkan ke luar negeri, salah satunya Amerika Serikat (AS). Thio pun melihat peluang. "Nah akhirnya kita bikin Craftote. Nah Craftote-nya baru dikaitkan dengan yang tadi, karena ternyata kita pelajari bahwa ini ekspor gitu lho. Jadi kita harus kombinasi dengan sesuatu yang daya tarik, yaitu coffee shop. Makanya kita namain Craftote Gallery & Coffee," kata Thio. Perjalanan Craftote memasuki babak baru ketika Thio berkenalan dengan Rumah BUMN BRI Jakarta. Awalnya, keterlibatan itu tidak direncanakan. Namun setelah Craftote terdaftar sebagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta JakPreneur, Tim BRI datang melihat langsung usaha tersebut. "Cuma yang lirik kita sungguh-sungguh itu BRI. BRI datang ke sini," ucap dia. Dalam kunjungan itu, Tim BRI memberikan tantangan kepada Thio. Produk kopi Thio diikutkan dalam kompetisi yang hadiah utamanya adalah fasilitas coffee shop gratis di Rumah BUMN BRI. Thio awalnya skeptis dengan tantangan tersebut. Namun, keraguan itu perlahan memudar ketika melihat keseriusan pendampingan yang diberikan oleh Tim BRI. Setelah produk yang dikompetisikan menang, Thio mendapat fasilitas yang dijanjikan. Dia mendapat tempat usaha di Rumah BUMN BRI, lengkap dengan fasilitas pendukung mulai dari meja, kursi, pendingin ruangan, hingga listrik dan air selama dua tahun. Thio diwajibkan membawa hasil kerajinan tangannya ke kedai tersebut, yang lalu disanggupi olehnya. Setelahnya, Thio mengikuti berbagai pelatihan, pameran, business matching, hingga kelas keuangan yang diselenggarakan Rumah BUMN BRI. Dia melihat peluang mengembangkan jejaring dengan mengikuti berbagai kelas yang disediakan bank pelat merah tersebut. Thio pun memberanikan diri membuka dua kedai lagi di Pos Bloc dan RS Pelni, Jakarta Pusat. Namun, dia mulai menemukan kendala. Bisnisnya berkembang terlalu cepat tanpa terencana dengan matang hingga justru membuat keuangan bocor dan sistem operasional berantakan. Hingga sampai suatu saat, Thio terpaksa menutup dua kedai barunya itu. "Kayaknya ada yang salah nih, karena kita kan gak digaji. Waktu itu keuangan kita masih kacau. (Saya dan istri) duduk bareng-bareng coba periksa, di situlah kita sadar, boncos, habis berapa ratus juta gitu gak kecatat," kata Thio. Keputusan untuk menutup dua gerai dan kembali fokus pada inti usaha menjadi titik balik Thio. Craftote lalu membenahi sistem, memperkuat posisi produk kerajinan, dan kembali memanfaatkan jejaring yang terbentuk lewat Rumah BUMN BRI. Dari sana, pintu ke panggung yang lebih besar mulai terbuka. Jejaring dan pelatihan yang diterima Craftote tidak berhenti di level lokal. Melalui berbagai program yang diikuti bersama BRI, Thio mulai bertemu dengan pembeli, komunitas usaha, hingga lembaga pemerintah. Kesempatan itu kemudian membawanya pada pasar ekspor. Thio mengungkapkan produk kerajinan tangan Craftote kini telah dipasarkan ke sejumlah negara, antara lain Kanada, Australia, Jepang, dan yang terbaru Inggris. Dia telah mengirim produk beberapa kali dengan buyer yang sama di pasar Kanada. Sementara di Inggris, pesanan yang awalnya hanya berupa sampel berkembang menjadi permintaan puluhan set produk. Ekspor yang dijalankan masih dalam skala less container load, tetapi bagi Thio sudah cukup menjadi penanda pasar menerima produknya. Tak hanya itu, Thio juga mengembangkan produk berbasis serat alam dengan pendekatan desain yang lebih modern. Dia tengah menyiapkan prototipe tas anyaman dengan sistem yang lebih praktis namun tetap kuat. "Makanya sempat nyesel juga kenapa baru tahu Rumah BUMN BRI ini di usia tua, kenapa bukan dari usia muda," tutur Thio. Keunikan lini usaha yang menggabungkan kerajinan tangan dan kopi membuat pengunjung betah berlama-lama. Salah satunya Dea, mahasiswi asal Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Dia mengaku kerap singgah ke Craftote Gallery & Coffee. Menurut dia, lokasi usaha Thio menjadi tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas akhir. "Lumayan, seringnya pas kerjain skripsi kayak sekarang. Tempatnya enak," ujar Dea kepada iNews.id. Selain kenyamanan tempat, Dea juga mengapresiasi keunikan koleksi kerajinan tangan yang dipajang di Craftote Gallery & Coffee. "Desainnya unik, bagus. Produknya juga bagus," ucap dia. Sementara itu, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan BRI berkomitmen mendukung UMKM agar tumbuh berkelanjutan dan berdaya saing global. Dia mengatakan Rumah BUMN menyediakan ekosistem yang terintegrasi untuk mewujudkan dukungan tersebut. Dhanny menuturkan Rumah BUMN BRI berfokus pada penguatan branding, business matching, hingga peningkatan kompetensi para UMKM. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan UMKM sebagai motor penggerak ekonomi nasional. “BRI melalui Rumah BUMN terus mendorong UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha, perluasan akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan,” ujar Dhanny. Editor: Rizky Agustian
Cost of Fund BRI Turun ke 2,3 Persen pada Triwulan I-2026, Dana Murah Tembus Rp1.000 T

Hari Pendidikan Nasional, BRI Peduli Gelar Kelas Inspirasi di SDN 104 Langensari Bandung

BRI Imbau Masyarakat Jaga Data Pribadi, Waspada Modus Penipuan KUR


BRI Catat Kenaikan Transaksi Debit Contactless 1.144 Persen YoY per Maret 2026

Perkenalan dengan Rumah BUMN BRI

Menembus Pasar Luar Negeri

Semangat Kartini bersama BRI: Kisah UMKM Cokelatin Sukses Tembus Pasar Global
Kisah Cokelatin membuktikan bahwa dengan inovasi, kreativitas, serta dukungan pendampingan yang tepat, usaha skala kecil pun berpeluang menembus pasar global. - Bagian all [720] url asal
#rumah-bumn-bri #rumah-bumn #bri #cokelatin #inews-id-stories
JAKARTA. iNews.id - Semangat Kartini di masa kini tak pernah padam. Justru, nyalanya terus hidup melalui langkah berani para perempuan yang memperjuangkan mimpi, kemandirian, dan karyanya di berbagai bidang. Semangat itulah yang terasa kuat dalam gelaran Bazaar Srikandi Pertiwi, sebuah ajang yang diselenggarakan BRI dengan menghadirkan karya-karya perempuan pelaku UMKM yang terus tumbuh dan berdaya.
Momentum ini dihadirkan oleh BRI melalui program Rumah BUMN yang menyelenggarakan Bazar UMKM bertajuk "Srikandi Pertiwi". Bazar tersebut menjadi ruang apresiasi bagi produk unggulan dari para pengusaha perempuan, sekaligus wujud nyata komitmen BRI dalam mendorong pemberdayaan ekonomi lokal agar mampu berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Di tengah kemeriahan bazar, kisah Cokelatin sukses mencuri perhatian. Bisnis cokelat artisan ini membuktikan bahwa dengan inovasi, kreativitas, serta dukungan pendampingan yang tepat, usaha skala kecil pun memiliki peluang untuk menembus pasar global.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)
