KOMPAS.com – Dalam dunia bisnis, terutama bagi pelaku usaha dagang dan manufaktur, memahami cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) merupakan hal yang sangat penting. HPP berperan besar dalam menentukan keuntungan (profit) dan strategi penetapan harga jual suatu produk.
Tanpa perhitungan HPP yang akurat, perusahaan bisa salah menilai kinerja keuangannya, bahkan berisiko menetapkan harga jual yang tidak realistis.
Mengutip Buku Akuntansi Pajak yang ditulis Johar Arifin, HPP adalah salah satu komponen pokok dalam perhitungan suatau usaha disebut untung atau rugi.
HPP adalah total biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memperoleh dan menyiapkan barang yang akan dijual selama periode tertentu.
Bagi perusahaan dagang, HPP mencakup biaya pembelian barang dagangan dari pemasok, sedangkan bagi perusahaan manufaktur, HPP meliputi seluruh biaya produksi, mulai dari bahan baku, tenaga kerja langsung, hingga biaya overhead pabrik.
Dengan mengetahui HPP, perusahaan dapat menghitung laba kotor dengan cara mengurangkan HPP dari total penjualan. Karena itu, HPP menjadi salah satu elemen utama dalam laporan laba rugi. Lalu bagaimana mencari HPP?
Rumus menghitung harga pokok penjualan
Untuk menghitung harga pokok penjualan, ada beberapa komponen utama yang perlu diketahui. Berikut penjelasannya:
Persediaan awal barang dagang: Adalah nilai barang dagang yang tersedia di awal periode akuntansi dan siap dijual. Data ini biasanya diambil dari neraca akhir periode sebelumnya.
Pembelian bersih: Merupakan total pembelian barang dagang selama periode berjalan, setelah dikurangi retur pembelian dan potongan pembelian, serta ditambah biaya tambahan seperti ongkos angkut.
Persediaan akhir barang dagang: Salah satu langkah dalam menghitung HPP adalah menentukan persediaan akhir. Nilai barang dagangan yang masih tersisa di akhir periode dan belum terjual. Nilai persediaan akhir akan dikurangkan dalam perhitungan HPP karena belum menjadi bagian dari penjualan periode tersebut.
Rumus menghitung harga pokok penjualan:
HPP = Persediaan Awal + Pembelian Bersih - Persediaan Akhir
Atau, dalam bentuk langkah perhitungan:
- Tentukan nilai persediaan awal pada awal periode.
- Hitung total pembelian bersih selama periode berjalan.
- Kurangi hasil penjumlahan tersebut dengan nilai persediaan akhir di akhir periode.
Hasil akhirnya merupakan harga pokok penjualan, yaitu total biaya yang benar-benar dikeluarkan untuk barang yang telah dijual.
Contoh menghitung harga pokok penjualan
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana menghitung harga pokok penjualan:
Sebuah toko elektronik memiliki data keuangan sebagai berikut:
- Persediaan awal: Rp 60.000.000
- Pembelian barang selama periode: Rp 250.000.000
- Retur pembelian: Rp 10.000.000
- Biaya angkut pembelian: Rp 5.000.000
- Persediaan akhir: Rp 55.000.000
Langkah-langkah perhitungannya:
Hitung pembelian bersih
250.000.000 + 5.000.000 - 10.000.000 = 245.000.000
Maka untuk mencari HPP:
Rp 60.000.000 + 245.000.000 - 55.000.000
Jadi, HPP toko elektronik tersebut sebesar Rp 250 juta.
Apabila total penjualan selama periode tersebut adalah Rp 320 juta, maka laba kotor dapat dihitung sebagai berikut:
- Laba Kotor = Penjualan Bersih - HPP
- Laba kotor = 320.000.000 - 250.000.000 = Rp 70.000.000
HPP memiliki hubungan langsung dengan laba kotor dan laba bersih perusahaan. Jika HPP meningkat tetapi harga jual tetap, maka laba kotor akan menurun. Sebaliknya, jika perusahaan berhasil menekan HPP tanpa menurunkan kualitas produk, maka margin laba akan meningkat.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang