Bisnis.com, JAKARTA— PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mengungkapkan strategi ekspansi jaringan 5G hingga akhir 2026 dengan pendekatan yang dilakukan secara selektif, terukur, dan bertahap.
VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel Abdullah Fahmi mengatakan pengembangan jaringan 5G akan difokuskan pada wilayah yang memiliki kebutuhan nyata serta didukung kesiapan ekosistem.
“Prioritas kami adalah memperluas cakupan secara berkesinambungan di kota-kota utama, memperkuat kawasan industri dan pusat pertumbuhan ekonomi,” kata Fahmi kepada Bisnis, Jumat (26/6/2026).
Selain itu, Telkomsel juga memprioritaskan pengembangan jaringan di area dengan kebutuhan trafik data yang tinggi guna menghadirkan pengalaman 5G yang lebih relevan bagi pelanggan, baik di segmen konsumen maupun bisnis.
Fahmi mengatakan pengembangan 5G Telkomsel diarahkan untuk menghadirkan manfaat nyata, mulai dari mempermudah kehidupan pelanggan, memperkuat kegiatan bisnis, hingga mendorong kemajuan Indonesia di tengah meningkatnya pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan layanan digital.
Secara umum, lanjut Fahmi, Telkomsel melihat kebutuhan terhadap layanan digital yang lebih real-time, personal, dan berbasis AI terus meningkat. Hal tersebut tercermin dari kinerja trafik data yang tetap tumbuh sehat pada kuartal I/2026, dengan payload mencapai 5.770 PB dan average revenue per user (ARPU) mobile meningkat menjadi sekitar Rp45.000.
“Secara strategis, Telkomsel melihat AI bukan hanya sebagai pendorong trafik baru, tetapi juga sebagai katalis untuk menciptakan pola penggunaan data yang lebih bernilai, baik dari sisi konsumen maupun bisnis,” katanya.
Dari sisi konsumen, Fahmi mengatakan potensi pertumbuhan trafik berasal dari aktivitas digital sehari-hari, seperti video streaming, mobile gaming, layanan berbasis aplikasi, serta pengalaman digital yang semakin personal melalui pemanfaatan AI di ekosistem Telkomsel, seperti MyTelkomsel, Veronika, TED, dan layanan digital lainnya.
Sementara itu, dari sisi enterprise dan industri, menurut Fahmi, potensi terbesar berasal dari solusi beyond connectivity, seperti AI-enabled enterprise solutions, IoT analytics, smart operations, mobility insight, customer insight, automation, hingga solusi berbasis data yang membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas dan mengambil keputusan secara lebih cepat dan efisien.
“Jadi, pertumbuhan trafik ke depan tidak hanya berasal dari segmen konsumen, tetapi juga dari kebutuhan enterprise, industri, UMKM, dan ekosistem AI yang semakin berkembang,” katanya.
Sejalan dengan potensi tersebut, Fahmi mengatakan strategi investasi jaringan 5G Telkomsel tetap dijalankan secara disiplin dan selektif.
Fokusnya meliputi peningkatan kapasitas dan kualitas jaringan end-to-end, pengembangan autonomous network berbasis AI, penguatan kapabilitas jaringan untuk mendukung kebutuhan latensi rendah, serta optimalisasi jaringan di wilayah dengan kebutuhan trafik tinggi.
“Pendekatan ini ditujukan untuk memastikan pengembangan 5G tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan, kesiapan ekosistem, dan prinsip investasi yang berorientasi pada nilai,” katanya.
Hingga kuartal I/2026, Telkomsel telah mengoperasikan lebih dari 5.400 base transceiver station (BTS) 5G yang tersebar secara bertahap di lebih dari 80 kota dan kabupaten.
Pada periode yang sama, Telkomsel melayani sekitar 154 juta pelanggan mobile. Layanan 5G dikelola sebagai bagian dari upaya meningkatkan pengalaman broadband pelanggan secara menyeluruh, terutama di wilayah dengan kebutuhan data tinggi, kawasan perkotaan, area bisnis, hingga kawasan industri.