JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilik toko plastik di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Halimah (43) menyebut harga plastik bisa naik setiap hari.
Halimah mengatakan, harga plastik dari distributor bisa berubah pada siang dan malam hari.
“Setiap hari naiknya. Kita sebagai pedagang kadang bingung,” kata Halimah saat ditemui di tokonya, Jumat (10/4/2026).
KOMPAS.com/AZWA SAFRINA Para penjual plastik di Pasar Pucang Anom, Surabaya yang mengeluhkan kenaikan harga melambung.Saat membuka toko misalnya, Halimah menjual plastik jenis tertentu Rp 10.000 per pack kepada konsumen.
Pada pagi hari itu, distributor lalu memasok plastik ke tokonya dengan harga Rp 9.500 per pack.
Adapun toko Halimah dipasok oleh enam distributor plastik. Dari belanja plastik itu, Halimah harus menjualnya dengan harga Rp 11.000 per pack kepada konsumen.
“Nanti masih ada harga baru lagi malamnya tuh bisa jadi Rp 11.000 gitu,” tutur Halimah.
Kondisi itu membuat Halimah dihadapkan pada harga jual ke konsumen yang lebih tinggi dari harga beli ke distributor.
“Jadi kita jualnya Rp 10.000 modalnya (penjualan berikutnya) sudah Rp 11.000,” ujar Halimah.
Menurutnya, harga plastik sudah mulai naik sejak awal bulan Ramadhan. Namun, kenaikan signifikan baru terjadi menjelang Lebaran.
Setelah hari raya, harga plastik terus mengalami kenaikan.
KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU Harga plastik di pasar tradisional terus melonjak setiap harinya. Senin, (6/4/2026).“Terus naik. Malah bukan naik lagi kayak pindah harga gitu,” tutur Halimah.
Pedagang itu mengungkapkan, saat ini harga plastik HDPE sudah menukik tajam dari Rp 17.000 saat normal menjadi Rp 23.000 per PCS.
Kemudian, plastik ukuran kiloan dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per PCS.
“Nih yang plastik PP dibilangnya buat pabrik kerupuk yang pada pakaituh. Gini biasa kita jual tadinya Rp 32.000 sekarang Rp 52.000 per kilo,” ungkap Halimah.
“Ya naiknya Rp 20.000,” sambungnya.
Berdasarkan informasi yang Halimah ketahui, harga plastik mahal karena bahan baku impor sulit didapat.
Kondisi itu juga membuat plastik tidak hanya mahal namun mulai terbatas.
Pihak distributor mulai mengurangi kirimannya ke toko Halimah.
“Dikurangi dari mereka karena terbatas katanya mereka pasokannya kurang jadi dibagi-bagi barangnya,” kata Halimah.
Diketahui, plastik mahal dan langka karena pasokan 70 persen bahan bakunya, nafta yang dikirim dari negara-negara Teluk terhenti imbas perang.
Konflik di Asia Barat itu menutup Selat Hormuz, membuat distribusi minyak dan produk petrokimia terganggu.
Adapun nafta merupakan produk olahan dari bahan bakar fosil yang berasal dari minyak bumi.
Saat ini, pemerintah dan industri plastik tengah membeli bahan baku dari negara lain yang tidak terdampak perang seperti Afrika dan India.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang