Bisnis.com, SEMARANG - Jawa Tengah bakal menggelar dua agenda ekonomi strategis, yaitu Central Java Investment Business Forum (CJIBF) dan UMKM Grande 2026 pada bulan Mei mendatang. Perhelatan tersebut menjadi strategi Jawa Tengah untuk memperkuat daya saing daerah sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global yang dinamis.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa momentum penyelenggaraan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal melalui kolaborasi lintas sektor. Terlebih, pelaksanaan tahun ini bertepatan dengan agenda Rapat Kerja Gubernur Mitra Praja Utama (MPU) yang dihadiri oleh 10 kepala daerah dari berbagai provinsi.
"Sudah bagus. Itu kan bareng dengan acara Gubernur MPU, coba diatur sekalian agar bisa diajak ke acara CJIBF. Nah, kalau ada gala dinner juga ya bisa digabungkan,” ujar Ahmad Luthfi saat memberikan arahan koordinasi di Semarang pada Kamis (30/4/2026).
Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan promosi investasi Jawa Tengah kepada para pengambil kebijakan dari daerah lain. Dengan kehadiran para gubernur MPU, peluang kerja sama antardaerah dan pertukaran potensi investasi menjadi lebih terbuka lebar. Agenda ini sekaligus menjadi panggung untuk memperkenalkan produk-produk unggulan lokal kepada skala nasional yang lebih luas.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah Sakina Rosellasari menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan kurasi ketat terhadap profil investasi yang akan ditawarkan. Fokus utama adalah menarik minat puluhan investor yang telah menunjukkan ketertarikan awal.
“Untuk investornya sudah terdata sekitar 30, dan ini akan kami tindak lanjuti melalui one-on-one meeting. Kami sudah melakukan verifikasi dan sebagian sudah menunjukkan kepeminatan,” kata Sakina. Ia menambahkan bahwa target utama dari pertemuan ini adalah terciptanya komitmen investasi awal yang dituangkan secara formal dalam Letter of Interest (LoI).
Kepala KPwBI Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Noor Nugroho, menekankan bahwa melalui tema “Central Java Thriving: Strengthening Investment and Empowering SMEs for Green and Sustainable Growth”, Jawa Tengah berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang diusung adalah konsep GRANDE (Green, Kerakyatan, Digital, Export) yang diterapkan pada 75 UMKM unggulan hasil kurasi. Pelaku usaha ini mencakup sektor fesyen, wastra, kerajinan, furnitur, hingga kopi yang siap menembus pasar internasional.
“CJIBF tahun 2026 ini akan heavy tentang investasi. Kita berupaya mengundang investor asing dan domestik untuk melakukan investasi di Provinsi Jawa Tengah. Investasi ini menjadi penting untuk penggerak pertumbuhan ekonomi, apalagi untuk mencapai target pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun 2026 dan 2027,” pungkas Nugroho. Dengan target pertumbuhan investasi di atas 7% pada tahun 2026, sinergi ini diharapkan menjadi katalisator bagi perekonomian Jawa Tengah.
Sebagai informasi, berdasarkan data makroekonomi, perekonomian Jawa Tengah pada tahun 2025 tercatat mampu tumbuh sebesar 5,37%. Investasi menjadi kontributor terbesar kedua bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setelah konsumsi rumah tangga, dengan realisasi mencapai Rp88 triliun atau tumbuh 6,76% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.