Bisnis.com, BALIKPAPAN — Ancaman musim kemarau berkepanjangan di tahun 2026 mendorong Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Kalimantan Selatan merancang strategi guna mempertahankan produktivitas sektor pertanian.
Langkah ini diambil menyusul prediksi cuaca yang menunjukkan pola kemarau dengan durasi lebih panjang dari tahun-tahun sebelumnya.
Kepala BPTPH Kalimantan Selatan Lestari Fatria Wahyuni menyatakan berbagai upaya antisipasi telah digulirkan sejak dini, mencakup sosialisasi kepada petugas lapangan hingga koordinasi lintas sektor untuk menghadapi tantangan iklim yang kian tidak menentu.
"Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau tahun ini diperkirakan terjadi sejak awal Mei dengan puncaknya pada Agustus hingga September. Namun, pola musim di Kalimantan Selatan berbeda-beda sesuai zona masing-masing," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Sebagai bentuk kewaspadaan, BPTPH telah mensosialisasikan informasi tersebut kepada Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) yang bertugas di lapangan.
Tidak hanya itu, surat peringatan resmi pun telah disebarkan ke seluruh jajaran terkait, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, sebagai langkah preventif menghadapi risiko kekeringan yang mengintai.
Pemanfaatan pompa air dan saluran irigasi yang masih berfungsi menjadi alternatif yang diharapkan dapat membantu kelangsungan budidaya tanaman.
Selain itu, pemilihan varietas tanaman toleran kekeringan dengan masa tanam singkat, yaitu sekitar 100 hari menjadi opsi yang direkomendasikan.
"Pemilihan varietas menjadi kunci penting agar petani tetap bisa berproduksi di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu," terang Lestari.
Di sisi lain, musim kemarau juga berpotensi memicu ledakan populasi hama yang dapat mengancam hasil panen.
Tak pelak, BPTPH menjalin koordinasi intensif dengan dinas pertanian kabupaten/kota, petugas POPT, serta penyuluh pertanian untuk memastikan kesiapan dalam menghadapi serangan organisme pengganggu tanaman.
Dia mengungkapkan, jenis hama yang muncul cenderung bervariasi di setiap wilayah berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, sehingga distribusi pestisida dilakukan secara spesifik sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
"Stok bahan pengendali sudah kami siapkan dan distribusikan hingga ke tingkat Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Dengan demikian, jika terjadi serangan hama, penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran," paparnya.
Adapun dia menargetkan agar dampak musim kemarau terhadap sektor pertanian dapat ditekan seminimal mungkin.