Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan jual masih membayangi saham-saham perbankan pada perdagangan Rabu (28/1/2026) seiring sentimen negatif dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memicu aksi pelepasan saham secara luas di pasar modal domestik.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 10.15 WIB, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi salah satu saham yang paling loyo. Saham BCA terkoreksi 4,63% atau 325 poin ke level Rp6.700 per saham.
Sepanjang perdagangan, saham BBCA dibuka melemah akibat sentimen MSCI dan bahkan sempat menyentuh level terendah di Rp6.375 per saham. Dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp820 triliun, tekanan pada BBCA turut memberi kontribusi signifikan terhadap pelemahan sektor keuangan.
Tekanan juga dialami PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Saham Bank Mandiri turun 2,85% atau 130 poin ke level Rp4.430 per saham. BMRI dibuka melemah di Rp4.420 per saham dan sempat menyentuh level terendah Rp4.070 per saham. Kapitalisasi pasar Bank Mandiri tercatat sekitar Rp410 triliun.
Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) turut bergerak melemah meski dengan tekanan yang relatif lebih terbatas. Saham BRI turun 0,56% atau 20 poin ke level Rp3.570 per saham.
Pada awal perdagangan, saham BBRI dibuka di Rp3.550 per saham dan sempat menyentuh level terendah Rp3.290 per saham. Kapitalisasi pasar BRI berada di kisaran Rp537 triliun.
Dari segmen perbankan syariah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) mencatat pelemahan cukup dalam. Saham BSI terkoreksi 4,76% atau 100 poin ke level Rp2.010 per saham.
Sepanjang perdagangan, saham BRIS mayoritas bergerak melemah dengan level terendah sempat menyentuh Rp1.790 per saham. Kapitalisasi pasar BSI tercatat sekitar Rp91,3 triliun.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) juga tak luput dari tekanan. Saham BBNI melemah 4,5% atau 200 poin ke level Rp4.230 per saham, dengan level terendah intraday di Rp3.990 per saham. Kapitalisasi pasar BNI berada di kisaran Rp156 triliun.
Tekanan jual juga menjalar ke bank swasta menengah. Saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) melemah 1,12% atau 15 poin ke level Rp1.770 per saham dan sempat menyentuh Rp1.695 per saham. Kapitalisasi pasar CIMB Niaga tercatat sekitar Rp44 triliun.
Adapun PT Bank Danamon Tbk. (BDMN) mencatat koreksi 2,44% atau 60 poin ke level Rp2.400 per saham, dengan level terendah perdagangan di Rp2.350 per saham. Kapitalisasi pasar Danamon berada di kisaran Rp23,1 triliun.
Tekanan terdalam terjadi pada PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI). Saham Allo Bank anjlok 10,15% atau 135 poin ke level Rp1.195 per saham. Saham BBHI bahkan sempat menyentuh level terendah di Rp1.135 per saham, dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp25,7 triliun.
Adapun, saham bank hingga kini masih meronta-ronta di tengah kekhawatiran investor terhadap potensi perubahan bobot dan arus dana asing akibat penyesuaian indeks MSCI. Sentimen tersebut mendorong investor, khususnya asing, untuk mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), termasuk perbankan.
Sebagaimana diketahui, dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menghentikan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta membekukan perpindahan emiten antar-segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Kebijakan ini dinilai pasar sebagai sinyal negatif terhadap prospek aliran dana asing ke pasar saham domestik, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar seperti perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG.
IHSG Anjlok 8%, BEI Lakukan Trading Halt Kedua Kali
Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menghentikan sementara perdagangan atau trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol 8% pagi ini. Berdasarkan data BEI, IHSG anjlok 8% menjadi 7.654,66 pada pukul 09.30 WIB, Kamis (29/1/2026). Kapitalisasi di BEI kini tercatat Rp13,846,41 triliun.
Adapun, trading halt akibat koreksi harga besar-besaran di lantai bursa ini kelanjutan dari sentimen negatif usai penyedia indeks global MSCI mengumumkan pembekukuan rebalancing untuk saham asal Indonesia.
"BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025," tulis BEI dalam pengumumannya, Kamis (29/1/2026).
Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata pun menjelaskan respons dari pengumuman MSCI kemarin telah membuat investor asing, khususnya global fund aktif, mulai melakukan de-risking yang berimbas pada pelemahan IHSG.
“Ini bukan panic selling, melainkan penyesuaian dini untuk mengurangi eksposur menjelang sikap MSCI yang telah terkonfirmasi dan berpotensi memicu arus keluar pasif yang besar,” ujar Liza.
Dengan demikian, kata dia, aktivitas front-running sudah dimulai, meski belum pada skala forced selling. Liza juga menjelaskan kebijakan interim freeze dari MSCI dapat menghilangkan potensi kenaikan bobot indeks dalam waktu dekat, termasuk peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF), migrasi ukuran dari Small ke Standard, serta potensi masuknya saham baru.
Akibatnya, ucap Liza, Indonesia kehilangan salah satu katalis struktural utama yang biasanya menopang valuasi saham berkapitalisasi besar di IHSG.
Liza juga menyebut selama isu transparansi kepemilikan dan konsentrasi belum dibenahi, Indonesia cenderung dipersepsikan sebagai pasar dengan risk premium lebih tinggi, bukan pasar yang sedang berada dalam siklus peningkatan status.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.