Bisnis.com, PEKANBARU - Warga Kota Pekanbaru mengeluhkan antrean panjang dan lama saat mengisi bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut bahkan mulai berdampak ke harga BBM eceran di tingkat pengecer yang ikut merangkak naik.
Edi, salah seorang warga, menuturkan pengalamannya. Ia yang biasanya mengantre paling lama 30 menit, akhirnya mengalami antrean panjang hingga larut malam.
“Kalau hari ini cukup cepat, sekitar 30 menitan. Tapi semalam saya ngantre Pertalite sampai larut malam, kadang nunggu bisa satu sampai dua jam,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Tidak hanya antrean, harga di pengecer juga ikut terdampak. Edi mengaku biasa membeli Pertalite eceran seharga Rp20.000 per botol, kini naik menjadi Rp25.000.
“Harga naik, rembes dari kelangkaan stok di SPBU,” keluhnya.
Situasi di lapangan tersebut mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Riau. Menyikapi keluhan masyarakat, Pemprov menggelar pertemuan dengan Pertamina Patra Niaga di Kantor Gubernur Riau pada hari yang sama, guna mengevaluasi distribusi BBM yang dinilai belum sepenuhnya tepat sasaran.
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan pihaknya menerima banyak laporan terkait antrean panjang serta distribusi yang belum merata. Ia menegaskan perlunya langkah konkret agar penyaluran BBM, khususnya subsidi, benar-benar tepat sasaran.
“Kami menerima banyak laporan dari masyarakat terkait antrean panjang dan distribusi yang belum merata. Untuk itu, kami minta ada pengawasan lebih ketat agar BBM subsidi ini tidak salah sasaran,” ujarnya.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, Pertamina, dan Hiswana Migas menjadi kunci untuk menjaga kelancaran distribusi energi di daerah. Koordinasi yang solid dinilai penting agar pasokan tetap stabil dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
“Kita ingin masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan BBM. Oleh karena itu, semua pihak harus bergerak bersama untuk memastikan distribusi berjalan optimal,” tegasnya.
Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa ketersediaan stok BBM di wilayah Riau dalam kondisi aman. Sales Area Manager Retail Riau, Wilson Eddi Wijaya, menyebut distribusi terus dipantau secara intensif untuk menjaga pasokan tetap lancar di seluruh wilayah.
“Kami pastikan stok BBM tersedia dan dalam kondisi aman. Distribusi juga terus kami jaga agar berjalan lancar di seluruh wilayah,” katanya.
Ia menjelaskan, lonjakan antrean yang terjadi belakangan ini lebih dipicu oleh peningkatan konsumsi masyarakat, seiring munculnya kekhawatiran akan isu kenaikan harga BBM. Kondisi ini mendorong masyarakat melakukan pembelian lebih banyak dari biasanya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pertamina mengoptimalkan penyaluran dengan mengerahkan truk tangki lebih awal agar pasokan sudah tersedia saat SPBU mulai beroperasi.
“Sehingga saat SPBU mulai beroperasi, pasokan BBM sudah tersedia dan dapat langsung melayani masyarakat,” tambahnya.
Meski demikian, pemerintah daerah tidak tinggal diam. Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) berencana melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah SPBU guna memastikan kondisi di lapangan.
Kepala Bidang Tertib Perdagangan dan Perindustrian Disperindag Pekanbaru Khairunnas mengatakan sidak dilakukan bersama tim terpadu yang melibatkan unsur kepolisian dan kejaksaan.
“Kami ingin melihat langsung kondisi riil di lapangan terkait kelangkaan BBM yang menyebabkan antrean panjang di SPBU, sekaligus menelusuri distribusi BBM hingga membuat harga di tingkat eceran melonjak,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga akan mengingatkan pengelola SPBU agar tidak melayani penjualan kepada pengecer, karena praktik tersebut dinilai berpotensi memperparah kelangkaan di tingkat konsumen langsung.
"Kami juga akan menyampaikan kepada pengelola SPBU agar tidak menjual BBM kepada penjual eceran," jelasnya.
Ia menegaskan, distribusi harus diprioritaskan bagi pengguna langsung agar pasokan tetap terjaga dan antrean dapat ditekan.
"Padahal sudah kita peringatkan karena sudah banyak yang ditangkap karena melangsir BBM, maka besok kita ingatkan lagi," pungkasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Pertamina juga melakukan penyesuaian harga untuk tiga jenis BBM nonsubsidi di seluruh Indonesia. Penyesuaian harga ini resmi dimulai sejak Senin, 4 Mei 2026.
Pertamax Turbo naik dari Rp19.400 menjadi Rp19.900 per liter, Dexlite dari Rp23.600 menjadi Rp26.000 per liter, dan Pertamina Dex dari Rp23.900 menjadi Rp27.900 per liter.
Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap, masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter, begitu pula Pertamax dan Pertamax Green yang tidak mengalami perubahan.