Bisnis.com, JAKARTA — PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) menyiapkan strategi mitigasi menghadapi kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi serta tekanan geopolitik global yang dinilai dapat memengaruhi industri logistik dan transportasi sepanjang 2026.
Corporate Secretary ASSA Jerry Fandy mengatakan dampak krisis global dan kenaikan BBM terhadap bisnis perseroan saat ini masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Hal tersebut didukung peningkatan kualitas operasional ASSA yang lebih solid dan terstruktur.
“Di ASSA sendiri, kami memperkirakan dampak krisis ini terhadap bisnis perseroan masih berada dalam batas yang dapat dikelola, seiring peningkatan kualitas operasional ASSA yang kini semakin solid dan terstruktur,” ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Meski demikian, ASSA mengakui ketegangan geopolitik berkepanjangan dapat meningkatkan tekanan biaya operasional industri transportasi dan logistik. Karena itu, perseroan mulai menyiapkan langkah penyesuaian strategis secara terukur.
Salah satu strategi yang dipertimbangkan ialah optimalisasi tarif layanan yang lebih adaptif terhadap dinamika biaya operasional. Selain itu, perusahaan juga fokus meningkatkan efisiensi rute distribusi dan utilisasi armada guna menjaga daya saing serta profitabilitas jangka panjang.
“Apabila ketegangan berlanjut dalam jangka panjang, ASSA bersama pelaku industri logistik dan transportasi lainnya mungkin akan melakukan penyesuaian strategis secara terukur,” lanjutnya.
Di tengah tantangan tersebut, ASSA menyebut kinerja perseroan pada kuartal I/2026 masih relatif stabil. Ke depan, perusahaan akan memfokuskan strategi pada optimalisasi operasional dan penguatan model bisnis yang berkelanjutan.
Untuk keseluruhan tahun 2026, ASSA menargetkan pertumbuhan pendapatan secara konservatif di kisaran 5% hingga 10%. Target tersebut dipasang seiring pendekatan perusahaan yang lebih berhati-hati dalam menghadapi kondisi ekonomi global dan dinamika geopolitik.
ASSA dan grup juga memilih langkah ekspansi yang lebih selektif sembari terus memperbaiki efisiensi operasional pada tahun ini.
Adapun ASSA membukukan pendapatan yang naik 11,07% YoY menjadi Rp1,53 triliun pada kuartal I/2026, dibandingkan dengan Rp1,38 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan pendapatan ini juga disertai dengan peningkatan beban biaya operasional. Ini merupakan dampak dari langkah strategis ASSA dalam melakukan investasi infrastruktur jangka panjang termasuk persiapan proyek baru untuk keberlangsungan bisnis.
Kenaikan beban biaya membuat perolehan laba tersebut sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp143,76 miliar.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.