Bisnis.com, JAKARTA—PT Pefindo Biro Kredit, Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan swasta pertama di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan IdScore, resmi meluncurkan sistem Eagle.
Eagle merupakan core system terbaru yang dirancang untuk menghadirkan proses pengolahan data kredit dan data lain dengan lebih cepat, aman dan andal untuk mendukung pengembangan industri keuangan nasional.
Peluncuran sistem Eagle menandai langkah besar IdScore dalam memperkuat perannya sebagai lembaga pendukung ekosistem keuangan yang sehat dan inklusif selama 11 tahun.
Sebagai core system biro kredit, sistem Eagle menjalankan peran penting dalam mengelola, memproses, menyajikan hingga mendistribusikan data kredit dengan lebih efisien. Tujuannya agar Lembaga jasa keuangan maupun perusahaan dalam pengambilan keputusan yang lebih tepat dan bertanggung jawab.
Melalui peningkatan kecepatan pemrosesan data hingga credit scoring dalam hitungan detik, sistem ini membantu mempercepat proses ketersediaan data kredit maupun data lain untuk meningkatkan akurasi analisis risiko.
Lebih dari itu, kehadiran EAGLE juga diharapkan membawa manfaat luas bagi masyarakat pada khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya. Dengan akses data kredit yang lebih cepat, akurat dan terintegrasi, masyarakat dapat menikmati proses pengajuan kredit yang lebih mudah, transparan, dan adil.
Hal ini sejalan dengan upaya IdScore mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan (unbank) hingga UMKM, agar mendapatkan akses pembiayaan dalam mendorong aktivitas ekonominya.
“Eagle bukan sekadar pembaruan sistem, melainkan simbol komitmen kami untuk terus menghadirkan inovasi bagi industri keuangan Indonesia. Dengan kecepatan, keamanan, dan keakuratan yang lebih tinggi, IdScore ingin memastikan layanan biro kredit dapat berkontribusi nyata pada pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan yang lebih membanggakan lagi adalah bahwa sistem EAGLE ini merupakan 100% karya anak negeri,” ujar Tan Glant Saputrahadi, Direktur Utama IdScore, dalam keterangan resminya pada Senin (10/11/2025).
Sebagai biro kredit swasta pertama di Indonesia, IdScore telah melayani lebih dari 500 institusi keuangan, termasuk perbankan, fintech, multifinance, koperasi maupun non lembaga keuangan seperti Perusahaan logistik, transportasi, dan lain-lain.
Dengan penerapan Eagle, IdScore memperkuat posisinya sebagai biro kredit yang menjadi mitra terpercaya dalam menyediakan informasi perkreditan dalam bentuk antara lain; alat analisis risiko, serta berbagai produk inovatif seperti credit scoring, fraud detection, income estimation, portfolio monitoring, eKYE (Know Your Employee).
Saat ini biro kredit tidak hanya sekadar mengelola data perkreditan, melainkan juga menggabungkan data lain. IdScore berkomitmen untuk terus memperkuat pemahaman masyarakat luas terkait pemahaman kredit skoring sebagaimana yang sudah berjalan di negara-negara maju, credit scoring semakin berperan penting dalam setiap aktivitas sehari-hari.
Jika sebelumnya credit scoring hanya digunakan untuk kepentingan pengajuan dan persetujuan kredit, sekarang berbagai aktivitas sudah membutuhkan credit scoring sebagai prasyarat.
Di antara aktivitas tersebut antara lain; perekrutan karyawan, monitoring dan promosi, penunjukan vendor/ mitra kerja, pengajuan beasiswa, validasi rekam transaksi dagang, dan lain-lain.
Sebagai informasi, PT Pefindo Biro Kredit merupakan Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan pertama di Indonesia yang sahamnya dimiliki oleh PT Bursa Efek Indonesia, PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), PT Pegadaian, PT TASPEN (Persero), PT Sigma Cipta Caraka (Telkomsigma), PT Cipta Alami Rintisan Digital, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), PT Cahaya Teknologi Optima Sejahtera, dan Dana Pensiun Bank Indonesia.
Kegiatan usaha utama perusahaan adalah mengelola informasi perkreditan dalam bentuk penghimpunan dan pengolahan data kredit dan data lain untuk menghasilkan informasi perkreditan berupa produk dan/atau layanan, yang bersumber dari data kredit dan data lain yang dimiliki. Data kredit diperoleh dari Sistem Informasi Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang dikelola oleh OJK dan beberapa lembaga lainnya.
Sementara itu, data non-kredit diperoleh dari pelaku usaha instansi publik hingga Lembaga-lembaga yang telah bekerja sama dengan Perusahaan untuk menjadi sumber data. Data yang dihimpun Perusahaan kemudian diolah dan disajikan, di antaranya dalam bentuk laporan dan skor kredit (credit scoring).