Bisnis.com, JAKARTA — Peluang investasi industri farmasi dan alat kesehatan nasional dinilai masih terbuka lebar, seiring meningkatnya kebutuhan kesehatan domestik dan posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Namun, penguatan industri hulu dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi basis perakitan dan pasar produk impor.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, tren investasi sektor farmasi dan alat kesehatan meningkat pascapandemi, terutama pada manufaktur obat, vaksin, dan alat kesehatan.
Kendati demikian, dia menilai peningkatan investasi tersebut belum cukup kuat menciptakan kemandirian industri nasional, karena mayoritas investasi masih terkonsentrasi pada sektor hilir dan perakitan.
“Sekitar 80% hingga 90% bahan baku obat masih bergantung impor. Artinya, struktur industri kesehatan nasional masih rapuh dari sisi hulu,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/5/2026).
Dia menjelaskan, akar persoalan ketergantungan impor bahan baku farmasi berasal dari lemahnya industri bahan baku domestik, tingginya biaya investasi teknologi, serta belum kuatnya ekosistem riset dan industri kimia nasional.
Selain itu, produk impor dinilai masih lebih murah dibandingkan produksi lokal, sehingga investor cenderung memilih sektor distribusi atau assembling dibanding industri bahan baku yang lebih strategis.
“Tantangan terbesar investor adalah tingginya biaya produksi, teknologi, logistik, dan sertifikasi, sementara kepastian pasar jangka panjang masih terbatas,” jelasnya.
Oleh karena itu, Rizal menilai pemerintah perlu mengarahkan investasi agar tidak hanya fokus pada perakitan, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan penguatan rantai pasok domestik.
Dia mendorong pemberian insentif fiskal bagi investor yang membangun fasilitas riset dan pengembangan (R&D), meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta bermitra dengan industri lokal. Kemudian, belanja pemerintah juga perlu dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat industri farmasi dan alat kesehatan nasional.
“Penguatan industri bahan baku farmasi dan komponen alat kesehatan sangat penting untuk menarik investasi jangka panjang. Investor tidak hanya melihat pasar besar, tetapi juga efisiensi rantai pasok dan kepastian produksi,” katanya.
Rizal menambahkan, pelemahan rupiah dan ketidakpastian global saat ini justru dapat menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat industri kesehatan nasional. Menurutnya, tanpa penguatan industri hulu, Indonesia berisiko hanya menjadi pasar dan basis assembling bagi produk kesehatan global.
Rizal juga menyebut, indikator keberhasilan investasi sektor farmasi tidak hanya diukur dari nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari penurunan impor bahan baku, peningkatan TKDN, transfer teknologi, peningkatan kapasitas produksi domestik, hingga ekspor bernilai tambah tinggi.
“Jika investasi hanya tumbuh di assembling, maka ketahanan kesehatan nasional tetap rentan terhadap krisis global dan tekanan nilai tukar,” pungkasnya.