JAKARTA - Kisah
mahasiswa UGM Alfath Qornain Isnan Yuliadi patut dijadikan inspirasi. Jadi satu-satunya siswa di sekolahnya yang lolos
UGM , kini Alfath berhasil menyabet belasan prestasi nasional maupun internasional.
Perjalanan hidup Alfath menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Lulusan SMK asal Klaten ini berhasil menembus bangku kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), sekaligus mencatat sejarah sebagai satu-satunya siswa dari sekolahnya yang lolos seleksi pada angkatannya.
“Kalau di angkatan saya, jujur cuma saya. Satu-satunya dari SMK saya yang lolos,” ungkap Alfath, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (10/4/2026).
Perjuangan dari Proyek Bangunan ke Kampus Impian
Alfath, yang kini menempuh pendidikan di Program Studi D4 Teknologi Rekayasa Pelaksanaan Bangunan Sipil, Sekolah Vokasi UGM angkatan 2022, harus berjuang keras untuk meraih mimpinya. Sejak duduk di bangku kelas dua SMK, ia sudah bekerja sebagai tukang bangunan bersama sang ayah.
Mulai dari menggali fondasi hingga mengangkat material, semua pekerjaan ia jalani demi membantu keluarga sekaligus menabung biaya pendidikan. Dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari, ia menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya pendaftaran UTBK.
“Saya nggak enak minta ke bapak. Jadi saya kerja, sebagian ditabung buat UTBK, sebagian buat kebutuhan sekolah,” tuturnya.
Di tengah kesibukan bekerja dari pagi hingga sore, Alfath tetap disiplin belajar di malam hari. Ia bahkan membagi waktunya secara ketat menjelang ujian, dengan empat hari bekerja dan tiga hari fokus belajar.
Perjuangannya sempat diuji ketika mengalami kecelakaan kerja dan jatuh dari lantai dua proyek. Namun, peristiwa tersebut tidak membuatnya menyerah.
“Saya sempat overthinking, takut nggak bisa lanjut. Tapi alhamdulillah diberi kesempatan sampai di titik ini,” katanya.
Momen Haru Lolos UGM, Jadi Kebanggaan Keluarga
Hari pengumuman UTBK menjadi titik balik dalam hidupnya. Alfath membuka hasil seleksi seorang diri di kamar. Saat dinyatakan lolos ke UGM, ia tak mampu menahan haru.
Ia langsung memeluk ibunya, lalu berlari menemui sang kakek. “Saya ingat banget, saya lari nyamperin kakek saya, langsung saya peluk dan bilang, ‘Saya jadi kuliah.’”
Keberhasilan ini menjadi sejarah baru bagi keluarganya. Alfath merupakan anggota keluarga pertama yang berhasil mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sang kakek pun merasa bangga dan berharap Alfath dapat menjadi jalan bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Sempat Diragukan, Tekad Kuat Meluluhkan Orang Tua
Keputusan Alfath untuk melanjutkan kuliah tidak sepenuhnya mendapat dukungan sejak awal. Ia sempat menghadapi keraguan dari orang tuanya yang berharap dirinya langsung bekerja setelah lulus SMK.
Sebagai anak kedua dari enam bersaudara, ia memahami kondisi ekonomi keluarga yang tidak mudah. Namun, keinginannya untuk berkembang membuatnya tetap teguh pada pilihan.
“Saya bilang ke ayah, kalau saya mentok di SMK saja, kemungkinan berkembangnya lebih sulit. Saya ingin berkembang lebih jauh, saya ingin kuliah,” kenangnya.
Seiring waktu, keyakinan Alfath akhirnya mampu meluluhkan hati orang tuanya.
Aktif Berorganisasi dan Raih Puluhan Prestasi
Memasuki dunia perkuliahan di UGM membawa perubahan besar dalam diri Alfath. Jika sebelumnya ia cenderung introvert, kini ia aktif dalam organisasi dan berbagai kompetisi.
Ia bahkan dipercaya memimpin Badan Semi Otonom (BSO) di Sekolah Vokasi dan mulai aktif mengikuti lomba sejak semester tiga.
Hasilnya, Alfath berhasil meraih sekitar 15 penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Ia juga pernah menjadi finalis dalam kompetisi di Nanyang Technological University, Singapura.
Prestasinya tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Insan Berprestasi UGM 2025.
“Orang tua saya senang banget. Mereka nggak menyangka anaknya bisa sampai dapat penghargaan dari UGM,” ujarnya.
Bukti Latar Belakang Bukan Batas
Kisah Alfath menjadi inspirasi bahwa latar belakang bukanlah batas untuk meraih kesuksesan. Dari seorang siswa
SMK yang sempat diragukan, kini ia menjelma menjadi mahasiswa berprestasi yang membuka jalan bagi keluarganya.
Ia pun menutup kisahnya dengan pesan sederhana namun penuh makna, “Tugas kita bukan menerka masa depan, tapi memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan sekarang, supaya nanti kita tidak menyesal.”
(nnz)