Bisnis.com, SEMARANG — Semarang memiliki kekayaan kuliner yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2025. Penetapan ini menegaskan bahwa makanan memiliki nilai sejarah, tradisi, hingga praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kuliner ini juga cocok menjadi takjil untuk berbuka puasa.
Dilansir dari akun media sosial @visitjawatengah, Senin (23/2/2026), penetapan sejumlah makanan sebagai Warisan Budaya Takbenda ini disebut menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal melalui pengakuan terhadap karya budaya yang memiliki nilai historis hingga keaslian.
Status Warisan Budaya Takbenda ini dapat mendorong pelestarian sekaligus memperkenalkan kuliner khas Kota Semarang kepada masyarakat luas.
Daftar makanan yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, cocok jadi takjil:
1. Wingko Babad
Wingko Babad merupakan kue tradisional berbahan dasar kelapa parut dan tepung ketan yang biasa dibentuk bulat pipih. Makanan ini memiliki tekstur padat dan agak kenyal dengan cita rasa manis gurih khas kelapa muda yang dibakar. Seiring perkembangan, kini Wingko Babad hadir dengan sejumlah varian rasa seperti cokelat, durian, keju, dan nangka.
Meski dikenal sebagai makanan atau kuliner khas Kota Semarang, Wingko Babad diketahui berasal dari Kabupaten Lamongan. Wingko Babad disebut bermula dari resep keluarga di tahun 1898 yang dibawa oleh Loe Lan Hwa dari Lamongan ke Semarang pada tahun 1944.
Kuliner ini dimulai dari Stasiun Tawang, Wingko Babad telah menjadi kuliner legendaris khas Kota Semarang yang digemari oleh masyarakat, hingga akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tahun 2025.
2. Lunpia
Lunpia merupakan kuliner khas Kota Semarang yang berupa dadar dengan isian rebung, daging, dan lain-lain. Lunpia disebut sebagai kuliner hasil alkuturasi budaya Jawa dengan Tionghoa. Nama Lunpia berasal dari Bahasa Hokkian ‘Lun’ yang berarti lembut, dan ‘pia’ yang berarti kue.
Berdasarkan sejarahnya, Lunpia diketahui menjadi makanan harmonisasi usaha antara Thoa Tjay Joe dengan Mbak Wasih. Keduanya memadukan masakan Tionghoa dengan cita rasa manis khas Jawa. Masih diminati oleh banyak orang hingga saat ini, Lunpia biasa dinikmati dengan saus manis kental, acar mentimun, dan daun bawang.
3. Bubur India Koja
Bubur India Koja merupakan kuliner khas masyarakat suku Koja yang tinggal di sekitar Masjid Pekojan, Kota Semarang. Makanan ini biasa disajikan secara gratis pada bulan suci Ramadan sebagai makanan berbuka puasa.
Bubur India Koja ini disebut kaya akan rempah dan bumbu seperti daun pandan, salam, jahe, irisan bawang bombay, cengkeh, hingga kayu manis. Dalam pembuatannya, kegiatan memasak bubur India Koja membutuhkan waktu sampai tiga jam lamanya.
Sudah dikenal sebagai salah satu kuliner khas Kota Semarang, bubur India Koja pada awalnya dibawa oleh masyarakat Koja yang datang ke Indonesia untuk berdagang sekaligus menyebarkan agama islam. Setelah berlabuh di Kota Semarang, masyarakat Koja membuat perkampungan dan melaksanakan tradisi khas Koja yang dipadukan dengan kebiasaan masyarakat Kota Semarang.
4. Ganjel Rel
Ganjel Rel merupakan roti khas Kota Semarang yang terbuat dari campuran jahe kembang lawang, cengkeh, dan kayu manis. Roti ini biasa berbentuk kotak dan berwarna cokelat yang bertabur wijen di atasnya. Memiliki tekstur yang padat, roti Ganjel Rel ini memiliki cita rasa yang manis dari kayu manis
Roti ini sebenarnya memiliki nama asli roti gambang, namun masyarakat Kota Semarang lebih mengenal dengan sebutan roti Ganjel Rel karena bentuk roti yang terlihat seperti ganjel rel (bantalan rel).
Roti Ganjel Rel disebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda dan terinspirasi dari Ontbijtkoek, yakni roti rempah khas Belanda. Di Kota Semarang, masyarakat Jawa berinovasi mengubah tepung terigu menjadi gaplek agar lebih mudah dijangkau.