Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah manajer aset akan meninjau paparan portofolio mereka terhadap surat utang negara Filipina yang dialokasikan untuk tujuan iklim dan sosial, menyusul adanya kekhawatiran bahwa dana hasil penerbitan obligasi tersebut dipakai untuk membiayai proyek-proyek yang tengah diselidiki atas dugaan korupsi.
Robeco Institutional Asset Management BV dan Mirova SA menyampaikan kepada Bloomberg bahwa mereka sedang memastikan apakah dana dari obligasi berkelanjutan yang diterbitkan melalui program perlindungan banjir yang didukung pemerintah memiliki keterkaitan dengan skandal tersebut.
Neuberger Berman Group LLC juga ikut memantau situasi ini, seraya menilai bahwa penyelidikan yang tengah berlangsung menunjukkan upaya Filipina dalam memperbaiki tata kelola.
Tuduhan korupsi telah memicu serangkaian penangkapan, pembekuan aset senilai sekitar US$200 juta, dan pengunduran diri dua menteri dari kabinet Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Penyelidikan turut mengungkap bahwa banyak proyek pengendalian banjir ternyata cacat, bahkan beberapa di antaranya tidak pernah direalisasikan. Hal ini lantas memicu aksi protes besar di negara yang sangat rentan terhadap cuaca ekstrem tersebut. Filipina baru-baru ini mencatat kehilangan ratusan nyawa akibat dua topan besar pada akhir Oktober dan awal November 2025.
“Mirova menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap korupsi. Kontroversi ini makin menegaskan pentingnya uji tuntas yang mendalam dan pemantauan berkelanjutan ketika berinvestasi di negara berisiko tinggi,” ujar Felipe Gordillo-Buitrago, analis ESG senior di manajer aset yang berbasis di Paris tersebut. Mirova tercatat memegang surat utang Filipina dalam Global Green Bond Fund.
Sementara itu, Robeco dalam pernyataan resmi menyebutkan bahwa mereka sedang meminta klarifikasi lebih jauh mengenai langkah-langkah pencegahan korupsi yang dijalankan pemerintahan Marcos Jr.
Apabila pemerintah Filipina tidak memberikan jawaban yang kuat atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, Robeco akan melakukan divestasi sesuai kebijakan. Robeco sendiri memiliki eksposur melalui Transition Emerging Credits Fund dan strategi Transition Asian Bonds.
Menteri Keuangan Filipina, Frederick Go, mengatakan bahwa isu tersebut telah sampai kepadanya dan ia telah meneruskannya kepada kementerian pekerjaan umum serta biro perbendaharaan.
Sekitar 168 miliar peso (US$2,8 miliar) dari hasil penerbitan obligasi berkelanjutan Filipina dialokasikan untuk proyek-proyek pengendalian banjir, menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan laporan pemerintah. Jumlah ini setara dengan sekitar 39% dari total hasil penerbitan.
Sejak 2022, pemerintah Filipina telah menerbitkan obligasi berkelanjutan dengan nilai lebih dari US$7 miliar dalam denominasi dolar AS, euro, dan yen. Investor dengan mandat lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) kini diperkirakan akan lebih mencermati setiap penerbitan baru dari Filipina, kata Justine Leigh-Bell, co-chief executive officer Anthropocene Fixed Income Institute, lembaga nirlaba yang meneliti peran pasar utang dalam mitigasi perubahan iklim.
Obligasi berkelanjutan menjadi incaran investor ESG karena dana yang dihimpun biasanya dialokasikan untuk proyek-proyek yang diharapkan memberikan manfaat lingkungan atau sosial. Pada saat yang sama, negara-negara rentan iklim seperti Filipina sering dipandang menarik bagi investor yang ingin modal mereka berkontribusi langsung terhadap dampak lingkungan positif.
Kebutuhan adaptasi iklim di kawasan Asia Tenggara mencapai sekitar US$20 miliar setiap tahun, tetapi wilayah ini menerima sekitar US$2,5 miliar menurut laporan Climate Policy Initiative pada September.
“Investasi di pasar berkembang menghadirkan tantangan. Namun hal itu juga membuka peluang besar untuk menghasilkan dampak iklim dan sosial,” ujar Gordillo-Buitrago dari Mirova. Dia pun menekankan pentingnya uji tuntas yang lebih kuat dan pemantauan aktif.
Laporan alokasi penggunaan dana telah dinilai oleh DNV AS, perusahaan manajemen risiko berbasis di Norwegia yang melakukan tinjauan eksternal atas obligasi berkelanjutan. Penilaian tersebut bergantung pada data yang disampaikan pemerintah Filipina dan bertujuan memverifikasi kesesuaian penggunaan dana dengan prinsip-prinsip yang berlaku.
“Penilaian DNV bukan audit keuangan penuh dan tidak memverifikasi pengeluaran satu per satu yang terkait dengan obligasi,” demikian pernyataan perusahaan tersebut.
Tidak ada indikasi bahwa DNV, investor, atau bank yang menjual obligasi atas nama pemerintah Filipina mengetahui adanya dugaan korupsi sebelum transaksi dilakukan.