Bisnis.com, BANDA ACEH — Amerika Serikat dan Iran kembali berada di ambang eskalasi militer setelah meningkatnya ancaman serangan Washington terhadap Teheran.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan dampak luas di kawasan Timur Tengah. Berbagai skenario berkembang mulai dari serangan terbatas hingga risiko konflik berkepanjangan.
“Bahaya terbesar saat ini adalah jika Presiden Trump memutuskan bahwa dia harus bertindak atau kehilangan muka, dan perang pun dimulai tanpa tujuan akhir yang jelas serta dengan konsekuensi yang tidak terduga dan berpotensi merugikan,” tulis BBC dalam analisisnya tentang kemungkinan serangan AS ke Iran.
BBC memaparkan sedikitnya tujuh skenario jika Amerika Serikat melancarkan serangan dalam beberapa hari ke depan. Target serangan diperkirakan mencakup pangkalan militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), fasilitas rudal balistik, hingga program nuklir Iran.
Dalam skenario paling optimistis, serangan presisi dapat menggoyahkan rezim yang sudah melemah dan membuka jalan menuju demokrasi. Namun, hal itu sangat tidak mungkin mengingat pengalaman intervensi Barat di Irak dan Libya yang justru memicu kekacauan berkepanjangan.
Skenario lain menyebut rezim Iran bisa bertahan tetapi dipaksa memoderasi kebijakannya. Model ini digambarkan seperti Venezuela, yakni tekanan militer cepat yang membuat Iran mengurangi dukungan terhadap milisi di Timur Tengah serta membatasi program nuklir dan rudal balistik.
Namun, kepemimpinan Republik Islam disebut telah defian selama 47 tahun dan dinilai sulit berubah. Karena itu, salah satu kemungkinan terbesar adalah runtuhnya rezim yang kemudian digantikan pemerintahan militer berbasis IRGC.
Iran juga berulang kali menegaskan akan membalas jika diserang. BBC mencatat Teheran dapat meluncurkan rudal balistik dan drone untuk menyerang pangkalan AS di Bahrain dan Qatar, bahkan menargetkan infrastruktur negara yang dianggap terlibat seperti Yordania atau Israel.
Risiko lain adalah Iran menambang Teluk Persia. Selat Hormuz disebut sebagai jalur vital karena sekitar 20% ekspor LNG dunia serta 20%–25% minyak global melewati wilayah tersebut. Jika jalur ini terganggu, dampaknya dapat langsung terasa pada perdagangan dan harga energi dunia.
Adanya ancaman “swarm attack”, yakni serangan massal drone dan kapal cepat yang berpotensi menenggelamkan kapal perang AS. Meski dinilai kecil kemungkinannya, insiden seperti USS Cole pada 2000 menjadi contoh bahwa ancaman asimetris dapat menimbulkan kerugian besar.
Skenario terburuk adalah runtuhnya rezim Iran yang berujung chaos, perang saudara, serta konflik etnis. Negara-negara Teluk seperti Qatar dan Arab Saudi disebut khawatir Iran yang berpenduduk sekitar 93 juta jiwa terjerumus dalam krisis kemanusiaan dan gelombang pengungsi.
Sementara itu, The Guardian melaporkan Iran berupaya mencegah aksi militer AS melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan ke Ankara untuk pembicaraan guna menghindari serangan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan bahkan mengusulkan konferensi video antara Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Namun, tidak ada pembicaraan langsung formal antara kedua negara selama satu dekade terakhir.
Di Washington, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan pihaknya siap menjalankan instruksi Trump. “Mereka memiliki semua opsi untuk mencapai kesepakatan. Mereka tidak boleh mengejar kemampuan nuklir,” ujarnya.
Trump sendiri memperingatkan waktu Iran semakin sempit, meski sempat menyampaikan nada lebih lunak dengan mengatakan ingin berbicara dengan Teheran. Iran, di sisi lain, tetap bersikap tegas dan mengklaim telah membangun 1.000 drone baru sejak perang 12 hari pada Juni.
The Guardian juga menyoroti bahwa AS menuntut Iran menyerahkan uranium yang diperkaya, menghentikan pengayaan domestik, membatasi program rudal, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi. Semua tuntutan ini disebut sulit diterima Iran.
Ketegangan ini memperlihatkan hubungan Iran-Amerika yang terus berada di persimpangan antara diplomasi dan ancaman perang, dengan dampak yang dapat meluas jauh melampaui kedua negara.