Bisnis.com, JAKARTA — Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan pengembangan terbaru pada program Master of Business Administration (MBA) dengan membuka konsentrasi Strategic Leadership, Organizational Design, and Culture.
Konsentrasi baru yang hadir di UGM Kampus Jakarta ini dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia kerja yang semakin kompleks dan dinamis, terutama dalam hal kepemimpinan dan transformasi organisasi.
Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Didi Achjari mengatakan inisiatif program ini muncul dari kebutuhan organisasi dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat. Setiap organisasi membutuhkan pemimpin, tetapi pada saat yang sama kualitas kepemimpinan juga sangat bergantung pada konteks budaya tempat organisasi itu berada.
Situasi juga makin kompleks, terlebih karena organisasi kini tidak lagi bisa beroperasi secara terbatas dalam satu negara saja. Dengan perkembangan internet, operasional perusahaan dapat menjangkau pasar global dengan budaya yang sangat beragam.
Perusahaan multinasional kini tidak selalu membutuhkan kehadiran fisik untuk menjual produk, karena transaksi bisa dilakukan secara online dan pembeli berasal dari berbagai belahan dunia.
Sehingga, diperlukan pemimpin yang mampu memahami dan menyesuaikan diri dengan berbagai ekspektasi pasar global yang sangat beragam.
Di samping itu, penting juga untuk menyiapkan pemimpin yang menyadari bahwa kemampuan memimpin tidak selalu merupakan bakat bawaan, melainkan dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran dan pelatihan.
"Oleh karena itu, kami membuka konsentrasi baru Strategic Leadership, Organizational Design, dan Culture," katanya dalam Open House dan Soft Launching TNYI x MBA FEB UGM Kampus Jakarta, Jumat, (8/5/2026)
Deputi Direktur UGM Kampus Jakarta Sari Sitalaksmi mengatakan menjelaskan bahwa salah satu keunikan sekaligus pembeda dari konsentrasi ini terletak pada mata kuliah akhirnya. Dia menekankan bahwa pembelajaran dirancang untuk mengintegrasikan aspek akademik dengan praktik di dunia nyata, sehingga tidak hanya berfokus pada analisis yang bersifat abstrak.
Selain itu, kelas ini juga ditujukan bagi para profesional yang telah memimpin organisasi bisnis, dengan sistem perkuliahan yang berlangsung di akhir pekan. Para peserta dapat belajar sambil tetap menjalankan peran di organisasi masing-masing, kemudian kembali ke kampus untuk mendiskusikan pengalaman. Lalu, pembelajaran yang diperoleh juga bisa langsung diterapkan sebagai praktik di lapangan.
"Harapannya terjadi proses internalisasi sehingga mereka bisa menjadi leader di unitnya dan menularkan dampaknya lebih luas,"
Konsentrasi ini pada dasarnya difokuskan untuk memperkuat kapabilitas inti para pemimpin strategis dalam mengarahkan organisasi di tengah lingkungan bisnis yang dinamis dan penuh kompleksitas. Penekanan utamanya adalah pada kemampuan kepemimpinan yang relevan dengan perubahan dan tantangan yang terus berkembang.
Mahasiswa akan dibekali dengan pemahaman untuk menginterpretasikan tantangan strategis, mengelola pemangku kepentingan, serta menavigasi organisasi dalam berbagai ketidakpastian. Selain itu, konsentrasi ini juga memberikan fondasi kepemimpinan strategis dalam memobilisasi sumber daya manusia agar dapat mencapai tujuan strategis organisasi secara efektif.
Chairman of TNYI Zulfikar Alimuddin mengatakan konsentrasi ini tidak hanya relevan bagi para profesional senior, tetapi juga bagi generasi muda yang mulai terjun ke dunia bisnis. Ia menilai bahwa banyak anak muda kini membangun usaha sendiri, termasuk mengembangkan startup sebagai bentuk inovasi dan kewirausahaan.
Namun demikian, tak bisa dimungkiri bahwa tidak sedikit startup yang akhirnya gagal. Kegagalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh fraud, melainkan juga karena lemahnya kepemimpinan strategis serta kurangnya desain organisasi yang baik dalam mengelola bisnis yang dijalankan.
Menurutnya, hal ini terjadi karena tak sedikit di antara mereka yang terlalu berfokus pada traction jangka pendek tanpa membangun desain organisasi dan budaya yang kuat. Akibatnya, ketika bisnis mulai berkembang, justru muncul berbagai konflik internal yang pada akhirnya berujung pada kegagalan.
"Indonesia sebenarnya banyak anak pintar, tetapi kurang infrastruktur organisasi yang mendukung mereka berkembang," imbuhnya.
Oleh karena itu, konsentrasi ini diharapkan dapat berkontribusi dalam mencetak pemimpin strategis yang andal dan siap menghadapi tantangan organisasi di masa depan. Untuk mendukung hal tersebut, pihaknya juga menyediakan skema beasiswa penuh (100%) maupun parsial dengan sejumlah persyaratan.
Beberapa di antaranya ialah profesional tingkat menengah hingga senior, dengan ketentuan minimal memiliki pengalaman kerja selama tiga tahun serta berperan sebagai pemimpin fungsional yang mampu menjadi penggerak transformasi di organisasinya. Nantinya, para calon peserta juga akan melalui proses seleksi sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.