Bisnis.com, JAKARTA – Kasta utama emiten unggas di Indonesia diisi oleh duo perusahaan, yaitu PT Charoen Pokphand Tbk. (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA).
Keduanya di 2025 sama-sama mencatat kinerja impresif, usai masing-masing sukses membukukan pertumbuhan laba bersih dua digit. Namun, bila dicermati ada perbedaan menarik, yakni antara lain adalah postur utang di kedua emiten dan kinerja segmen bisnis utama mereka.
Menilik skala perusahaan, kedua emiten per akhir 2025 memiliki total aset yang tak jauh berbeda. Total aset CPIN tercatat mencapai Rp45,85 triliun atau meningkat 7,2% year on year (YoY), sementara JPFA memiliki total aset Rp40,06 triliun atau naik 15,6% YoY.
Menariknya, melihat postur utang di kedua emiten terpampang perbedaan. Total liabilitas CPIN per akhir 2025 mencapai Rp11,71 triliun atau turun 6,4% YoY. Perseroan terlihat menggeser eksposur utangnya ke jangka panjang, di mana liabilitas jangka pendek CPIN turun 11% YoY menjadi Rp7,64 triliun sedangkan liabilitas jangka panjang naik 3,9% YoY ke Rp4,06 triliun.
Di sisi lain, JPFA memiliki total liabilitas sebesar Rp20,04 triliun atau naik 10,8% YoY. Per akhir 2025, liabilitas jangka pendek JPFA melonjak 77,7% YoY menjadi Rp16,52 triliun sedangkan liabilitas jangka panjang turun 59,9% YoY menjadi Rp3,52 triliun.
Bila dipersentasekan, dari total liabilitas CPIN sebesar 65,3% tertumpu di liabilitas jangka pendek dan 34,7% di jangka panjang. Sedangkan, bagi JPFA persentasenya adalah 82,4% dibanding 17,58%.
Sementara itu, toal ekuitas CPIN per akhir 2025 naik 12,7% YoY menjadi Rp34,15 triliun, sementara JPFA tercatat sebesar Rp20,12 triliun atau tumbuh 20,8% YoY.
Berikutnya, apabila menilik mesin penghasil pundi-pundi cuan kedua emiten, JPFA memiliki satu diversifikasi bisnis di sektor perikanan walau kontribusinya minim dibanding segmen utama peternakan komersial. Sedangkan, mesin uang utama CPIN datang dari segmen ayam pedaging.
CPIN sepanjang 2025 membukukan pendapatan neto Rp70,70 triliun atau naik 4,8% YoY. Segmen ayam pedaging menyumbang Rp34,02 triliun. Segmen dengan pangsa terbesar mencapai 48,1% dari total pendapatan perseroan ini turun 3,7% YoY.
Penurunan segmen utama itu dapat diimbangi dengan pertumbuhan penjualan pakan sebesar 27,6% YoY menjadi Rp20,98 triliun. Segmen ini menyumbang 29,7% dari total pendapatan CPIN. Sisanya, pendapatan dari ayam olahan sebesar Rp10,93 triliun yang turun 8,5% YoY dan anak ayam usia sehari senilai Rp3,45 triliun yang tumbuh 38,1% YoY.
Di sisi lain, JPFA membukukan pendapatan neto Rp60,72 triliun atau tumbuh 8,81% YoY. Segmen peternakan komersial dengan pangsa paling besar mencapai 40,4%, tumbuh 6,4% YoY menjadi Rp24,51 triliun. Walau secara total pendapatan neto JPFA kalah besar dari CPIN, seluruh segmen pendapatannya tumbuh positif.
Perinciannya adalah segmen pakan ternak naik 7,6% YoY menjadi Rp15,78 triliun, pengolahan hasil peternakan dan produk naik 19,7% YoY menjadi Rp10,65 triliun, budidaya perairan naik 7,6% YoY menjadi Rp5,14 triliun, pembibitan unggas naik 8,14% YoY menjadi Rp3,54 triliun, dan perdagangan lain-lain naik 9,6% YoY menjadi Rp2,3 triliun.
Berikutnya dari sisi pos beban, kedua emiten sama-sama membukukan kenaikan beban pokok pendapatan, yaitu di CPIN angkanya naik 2,2% YoY menjadi Rp58,28 triliun dan di JPFA meningkat 6,6% YoY menjadi Rp47,52 triliun.
Kedua emiten sama-sama mencatat beban terbesar dari bahan baku. Persentasenya adalah 82,7% beban pokok penjualan CPIN berasal dari bahan baku sedangkan JPFA mencapai 79,80%. Namun, yang membedakan pos bahan baku di CPIN turun 14,8% YoY menjadi Rp57,44 triliun sementara di JPFA naik 6,4% YoY menjadi Rp37,93 triliun.
Dengan mengurangi selisih pendapatan neto dan beban pokok pendapatan, kedua emiten sama-sama membukukan pertumbuhan laba kotor. CPIN mencatat laba kotor 2025 Rp12,42 triliun atau naik 19,2% YoY sementara JPFA juga naik 17,6% YoY menjadi Rp13,19 triliun.
Berikutnya di sisi bottom line, CPIN membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih 2025 sebesar Rp5,64 triliun, sementara laba bersih JPFA tahun lalu sebesar Rp4 triliun. Selain nilainya yang lebih besar, pertumbuhan laba bersih CPIN juga lebih unggul, yakni naik 52% YoY dibanding 32,6% YoY.
Menilik performa kedua saham emiten di lantai bursa, CPIN dalam perdagangan Selasa (31/3) pukul 13.45 WIB menguat 1% ke Rp4.050 sedangkan JPFA turun 2,46% ke Rp2.380. Namun, secara year to date (YtD) kedua saham sama-sama boncos, yakni CPIN turun 10,20% YtD dan JPFA terkoreksi 9,16% YtD.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.