Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengingatkan pemerintah agar lebih cermat membaca lonjakan realisasi investasi sektor industri kesehatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pasalnya, peningkatan investasi tersebut dinilai belum tentu sepenuhnya mencerminkan penguatan industri manufaktur farmasi dan alat kesehatan nasional.
Head of Center of Industry, Trade and Investment INDEF Andry Satrio Nugroho mengatakan data realisasi investasi sektor kesehatan masih perlu dilihat lebih dalam untuk memastikan kualitas investasi yang masuk ke Indonesia.
Menurutnya, pemerintah perlu membedakan investasi yang benar-benar masuk ke sektor manufaktur dengan investasi yang hanya bergerak di sektor perdagangan produk impor.
“Realisasi investasi perlu dilihat lebih dalam, mana yang memang manufacturing dan mana yang hanya dalam konteks perdagangan,” kata Andry kepada Bisnis, dikutip Jumat (13/5/2026).
Dia menilai investasi di industri farmasi dan alat kesehatan memang akan memberikan nilai tambah besar bagi perekonomian nasional. Namun, manfaatnya akan berbeda jika investasi lebih banyak masuk ke sektor perdagangan produk impor.
“Kalau di sektormanufacturingitu bagus, tapi kalau di sektor perdagangan, yang diperdagangkan kembali adalah produk impor obat dan alat kesehatan,” ujarnya.
Menurut Andry, investasi di sektor perdagangan dinilai tidak memberikan efek pengganda sebesar investasi manufaktur karena tidak sepenuhnya memperkuat rantai pasok dan kapasitas produksi domestik.
“Nilai tambah yang diberikan tidak sebesar industri manufaktur farmasi dan alat kesehatan,” ujarnya.
Sebelumnya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi sektor kesehatan terus meningkat sejak 2021 dan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 2025.
Direktur Promosi Wilayah Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Afrika Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Cahyo Purnomo mengatakan realisasi investasi sektor kesehatan tahun lalu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.
“[Realisasi investasi sektor kesehatan] tahun lalu adalah all time high,” ujarnya, Selasa (12/5).
Menurut Cahyo, tren positif investasi sektor kesehatan diperkirakan masih akan berlanjut pada 2026. Data realisasi investasi kuartal I/2026 disebut menunjukkan Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan bahkan melampaui capaian sebelumnya.
BKPM juga tengah memfasilitasi rencana investasi asal Jepang senilai US$1,4 miliar untuk pembangunan industri bahan baku obat atau active pharmaceutical ingredients (API) di Indonesia.
“Rencana investasinya sangat besar, kurang lebih US$1,4 miliar,” katanya.
Masuknya investasi tersebut dinilai penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat dari China dan India.
Berikut Realisasi Investasi Sektor Kesehatan (US$ juta):
Tahun | Realisasi Investasi |
2021 | 75,937 |
2022 | 189,652 |
2023 | 238,963 |
2024 | 316,480 |
2025 | 574,096 |
Januari-Maret 2026* | 75,382 |
Sumber: BKPM
Meski demikian, Andry menilai pemerintah tetap perlu memastikan investasi yang masuk benar-benar memperkuat kapasitas manufaktur dan hilirisasi sektor kesehatan nasional.
Menurutnya, pengembangan industri farmasi domestik tidak bisa dilepaskan dari penguatan industri petrokimia dan bahan baku di dalam negeri.
“Kalau kita berbicara mengenai bahan baku obat, industri petrokimia kita juga harus kuat,” ujarnya.