#30 tag 24jam
Saatnya Negara Memperkuat Profesi Psikolog Klinis
Dalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering muncul dalam percakapan publik di Indonesia. Kita mendengarnya dalam diskusi keluarga, dalam... | Halaman Lengkap [874] url asal
#psikologi #psikolog #kesehatan-mental #psikiater
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/05/26 13:59
v/220173/
Robert O. Rajagukguk, Psikolog Klinis, Anggota Kolegium Psikologi KlinisDalam beberapa tahun terakhir, isu kesehatan mental semakin sering muncul dalam percakapan publik di Indonesia. Kita mendengarnya dalam diskusi keluarga, dalam ruang kelas, dalam media sosial, bahkan dalam percakapan santai di tempat kerja.
Banyak orang mulai berani mengatakan bahwa mereka sedang cemas, tertekan, atau merasa kehilangan arah hidup. Dari mulai anak-anak, remaja, orang dewasa tidak jarang menggunakan istilah-istilah yang berkaitan dengan kesehatan mental.
Beberapa bahkan mengungkapkan "diagnosis klinis" yang dialami atau diamati pada orang lain. Fenomena ini menandai perubahan penting dalam kesadaran masyarakat: kesehatan mental tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.
Namun meningkatnya kesadaran ini juga membuka kenyataan lain yang tidak kalah penting. Ketika masyarakat mulai menyadari pentingnya kesehatan mental, sistem pelayanan kesehatan mental kita ternyata belum sepenuhnya siap menjawab kebutuhan tersebut.
Banyak orang yang membutuhkan bantuan profesional, tetapi tidak tahu harus mencari pertolongan ke mana. Ada pula yang sudah berusaha mencari bantuan, tetapi akses terhadap tenaga profesional masih terbatas.
Sebagian masyarakat belum bisa membedakan profesi psikiater, psikolog klinis, psikolog (umum), konselor; belum lagi beberapa profesi yang semakin membuat bingung masyarakat seperti life coach, hypnotherapist, healers.
Artikel ini secara khusus ingin membahas mengenai profesi psikolog klinis, sebagai salahsatu profesi yang menjadi bagian penting dari upaya kesehatan jiwa di Indonesia.
Psikolog klinis adalah tenaga profesional yang secara khusus dilatih untuk memahami dinamika perilaku manusia khususnya masalah dan gangguan yang dialami, melakukan asesmen psikologis baik secara umum maupun gangguan psikologis (psikopatologis), serta memberikan intervensi psikologis bagi individu yang mengalami tekanan emosional maupun gangguan mental.
Mereka membantu orang menghadapi kecemasan, depresi, trauma, konflik relasi, kesulitan penyesuaian diri, hingga berbagai bentuk penderitaan psikologis yang seringkali tidak terlihat dari luar.
Di banyak negara, psikolog klinis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan. Mereka bekerja berdampingan dengan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya dalam memberikan layanan yang kolaboratif dan komprehensif bagi masyarakat.
Di rumah sakit modern, layanan kesehatan mental tidak lagi dianggap sebagai layanan tambahan, melainkan bagian penting dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan.
Sayangnya, sistem pelayanan kesehatan mental di Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Salah satu tantangan yang paling nyata adalah keterbatasan jumlah tenaga profesional kesehatan mental, termasuk psikolog klinis. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, kebutuhan terhadap tenaga psikolog klinis tentu tidak kecil. Namun jumlah tenaga profesional yang tersedia saat ini masih belum memadai untuk menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan layanan.
Selain persoalan jumlah, distribusi tenaga profesional juga masih belum merata. Sebagian besar tenaga psikolog terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara masyarakat di daerah seringkali harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan kesehatan mental. Kondisi ini tentu menimbulkan kesenjangan akses yang sangat besar.
Di sisi lain, sistem pendidikan profesi psikolog juga menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perkembangan regulasi nasional di bidang pendidikan tinggi dan kesehatan.
Saat ini pendidikan profesi psikolog berada dalam sistem pendidikan tinggi, sementara praktik psikolog klinis berlangsung dalam sistem pelayanan kesehatan. Kedua sistem ini belum sepenuhnya terintegrasi secara optimal. Meski sudah ada upaya untuk kerja sama antar kementerian terkait.
Sering muncul berbagai pertanyaan mendasar: bagaimana seharusnya pendidikan psikolog klinis dirancang? Bagaimana standar kompetensi profesional ditetapkan? Bagaimana psikolog klinis dapat terintegrasi secara lebih kuat dalam sistem pelayanan kesehatan?
Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa kita memerlukan langkah pembaruan yang lebih serius dalam penguatan profesi psikolog klinis. Perlu dilakukan reformasi pendidikan profesi psikolog klinis. Reformasi profesi psikolog klinis tidak semata-mata menyangkut perubahan administratif atau penyesuaian nomenklatur pendidikan.
Reformasi ini berkaitan dengan bagaimana negara membangun sistem pelayanan kesehatan mental yang lebih kuat, lebih profesional, dan lebih mudah diakses oleh masyarakat.
Salah satu langkah penting adalah memperkuat sistem pendidikan profesi psikolog klinis agar lebih terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Pendidikan profesi tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga pengalaman praktik klinis yang memadai.
Mahasiswa profesi perlu mendapatkan kesempatan belajar langsung dalam konteks pelayanan kesehatan yang nyata, seperti di rumah sakit, puskesmas, atau layanan kesehatan mental komunitas.
Selain itu, diperlukan pula standar kompetensi nasional yang jelas bagi psikolog klinis. Standar ini penting untuk memastikan bahwa setiap tenaga profesional yang memberikan layanan kepada masyarakat memiliki kompetensi yang memadai serta bekerja berdasarkan prinsip-prinsip etika profesional yang kuat.
Reformasi profesi psikolog klinis juga memerlukan dukungan regulasi yang jelas dan konsisten. Regulasi yang baik tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi tenaga profesional, tetapi juga memberikan perlindungan bagi masyarakat sebagai penerima layanan.
Lebih jauh lagi, penguatan profesi psikolog klinis harus dilihat sebagai bagian dari investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia Indonesia. Negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki infrastruktur yang baik atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Negara yang kuat juga adalah negara yang memperhatikan kesejahteraan mental warganya.
Dalam masyarakat modern yang penuh tekanan, kesehatan mental menjadi fondasi penting bagi kehidupan yang produktif dan bermakna. Ketika masyarakat memiliki ketahanan mental yang baik, mereka akan lebih mampu menghadapi tantangan hidup, membangun relasi yang sehat, serta berkontribusi secara positif bagi lingkungan sosialnya.
Karena itu, memperkuat profesi psikolog klinis bukan hanya kepentingan kelompok profesi tertentu. Ini adalah kepentingan masyarakat luas. Ini adalah bagian dari upaya membangun Indonesia yang lebih sehat secara mental, lebih tangguh secara sosial, dan lebih siap menghadapi berbagai tantangan masa depan.
Sudah saatnya kita memandang kesehatan mental sebagai bagian penting dari pembangunan nasional. Dalam upaya itulah, negara perlu memberikan perhatian yang lebih serius terhadap penguatan profesi psikolog klinis sebagai salah satu pilar utama pelayanan kesehatan mental di Indonesia.
Psikolog Ungkap Pentingnya Hobi di Tengah Tekanan Ekonomi
Di tengah tekanan ekonomi, hobi penting untuk menjaga kesehatan mental. Hobi membantu mengelola stres, meningkatkan emosi positif, dan memberikan rasa kendali. [515] url asal
#hobi #kesehatan-mental #tekanan-ekonomi #psikolog #stres-psikologis #keseimbangan-psikologis #aktivitas-sukarela #stabilitas-emosi #gen-z #berselancar-media-sosial #menonton-film #mendengarkan-musik
(Bisnis.Com - Terbaru) 11/05/26 14:22
v/217791/
Bisnis.com, JAKARTA — Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tekanan terhadap nilai tukar rupiah, serta berbagai peristiwa global yang membuat situasi terasa semakin tidak menentu, memiliki hobi dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan mental.
Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, mengatakan kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat memicu peningkatan stres psikologis, kecemasan, hingga rasa tidak aman terhadap masa depan. Secara psikologis, ketidakpastian merupakan salah satu pemicu stres utama karena manusia cenderung membutuhkan prediktabilitas dan rasa kontrol dalam hidupnya.
“Stres muncul ketika individu menilai suatu situasi sebagai mengancam dan merasa sumber daya coping-nya terbatas. Dalam konteks ekonomi, kekhawatiran terhadap pekerjaan, tabungan, atau investasi dapat memicu kecemasan kronis, gangguan tidur, hingga penurunan kesejahteraan mental,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, hobi dapat berperan penting membantu seseorang mengelola emosi sekaligus menjaga keseimbangan psikologis. Aktivitas yang dilakukan secara sukarela dan memberikan rasa senang dapat berfungsi sebagai psychological buffer terhadap stres.
Kasandra menilai hobi saat ini bukan lagi sekadar pengisi waktu luang, melainkan ruang bagi individu untuk menjaga stabilitas emosi dan tetap terhubung dengan dirinya sendiri.
Menurutnya, bentuk aktivitas yang tergolong hobi juga semakin beragam. Pada dasarnya, hobi merujuk pada kegiatan yang memberikan rasa senang dan dilakukan untuk mengisi waktu senggang.
Di kalangan anak muda, pilihan hobi pun semakin bervariasi. Dalam laporan Jakpat bertajuk Gen Z Characteristics and Behaviors 2024, berselancar di media sosial menjadi salah satu aktivitas yang paling sering dilakukan saat waktu luang. Sebanyak 63% responden memilih kegiatan tersebut karena dinilai praktis dan dapat dilakukan kapan saja melalui gawai.
Selain itu, menonton film atau serial juga menjadi pilihan utama untuk mengisi waktu senggang dengan persentase 57%, terutama di kalangan perempuan Gen Z. Sementara itu, 55% responden lainnya lebih menikmati aktivitas auditif seperti mendengarkan musik maupun podcast untuk bersantai.
Sebanyak 53% Gen Z juga menjadikan bermain gim sebagai cara utama mengisi waktu luang sekaligus melepas stres di sela aktivitas sehari-hari. Meski mayoritas waktu senggang dihabiskan melalui gawai, cukup banyak anak muda yang tetap menikmati aktivitas lain seperti berkumpul bersama teman (38%), berolahraga (32%), serta membaca buku (27%).
Kasandra menegaskan bahwa setiap hobi pada dasarnya sah dilakukan selama masih dalam batas wajar dan tidak mengganggu orang lain.
Mengapa Hobi Membuat Bahagia
Menurut Kasandra, rasa senang yang muncul saat menjalankan hobi berkaitan dengan mekanisme psikologis tertentu.
Pertama, hobi dapat menghadirkan kondisi flow, yaitu keadaan ketika seseorang tenggelam dalam fokus yang mendalam sehingga perhatian terhadap kecemasan dan kekhawatiran dapat teralihkan sementara.
Kedua, hobi memberikan rasa kompetensi dan pencapaian yang penting untuk menjaga harga diri dan harapan. Ketiga, aktivitas yang menyenangkan dapat menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol sekaligus meningkatkan emosi positif.
“Dengan kata lain, hobi membantu individu merasa masih memiliki kendali di tengah situasi yang serba tidak pasti,” jelasnya.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya membedakan antara hobi yang menyehatkan secara mental dan perilaku konsumtif yang justru menjadi pelarian tidak sehat dari stres.
Menurut Kasandra, perbedaannya terletak pada fungsi dan dampaknya. Hobi yang sehat memberikan energi psikologis, rasa puas, serta tidak menimbulkan penyesalan atau masalah lanjutan.
Sebaliknya, perilaku konsumtif yang tidak sehat sering kali bersifat impulsif, bertujuan menghindari emosi negatif, dan kerap diikuti rasa bersalah atau bahkan masalah finansial.
Tabrakan Kereta Bekasi Picu Trauma Psikologis, Ini Penjelasan Psikolog Unair
Peristiwa tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur menimbulkan korban cukup besar. Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero), insiden tersebut menyebabkan... | Halaman Lengkap [392] url asal
#unair #kecelakaan-kereta #psikolog #tabrakan-kereta-api #trauma
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/04/26 18:21
v/206802/
JAKARTA - Peristiwa tabrakan kereta api di Stasiun Bekasi Timur menimbulkan korban cukup besar. Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (Persero), insiden tersebut menyebabkan 107 korban, dengan rincian 16 orang meninggal dunia dan 91 lainnya mengalami luka-luka.Selain menimbulkan dampak fisik, kejadian ini juga berpotensi memicu gangguan psikologis bagi para penumpang yang mengalami langsung kecelakaan tersebut.
Menanggapi kejadian itu, Dosen Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ( Unair ), Atika Dian Ariana menjelaskan bahwa kecelakaan merupakan situasi krisis yang dapat memunculkan respons emosional dan stres pada seseorang. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan reaksi alami ketika individu menghadapi situasi berbahaya secara mendadak.
Atika menerangkan bahwa respons awal yang biasanya dialami korban kecelakaan berupa rasa terkejut, kebingungan, hingga disorientasi. Dalam perkembangannya, kondisi tersebut dapat berubah menjadi kecemasan, kesedihan, kemarahan, bahkan kepanikan. Reaksi yang muncul pada setiap individu pun berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memaknai peristiwa yang dialami.
“Respons tersebut juga dapat muncul dalam bentuk fisik, seperti gemetar, jantung berdebar, keringat dingin, hingga sesak napas sebagai bagian dari respons stres,” ujarnya, dikutip dari laman Unair, Rabu (29/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa setiap individu sebenarnya memiliki kemampuan untuk bangkit dari situasi krisis. Namun, tingkat keparahan kejadian dan kondisi psikologis masing-masing orang sangat memengaruhi proses pemulihan. Jika seseorang memandang kejadian tersebut sebagai pengalaman yang melampaui batas ketahanannya, maka risiko trauma jangka panjang seperti post-traumatic stress disorder (PTSD) dapat meningkat.
Menurut Atika, terdapat sejumlah faktor yang dapat memperbesar risiko trauma tersebut, di antaranya pengalaman traumatis sebelumnya, riwayat gangguan mental, serta kurangnya dukungan sosial. Selain itu, tekanan hidup lain seperti persoalan ekonomi maupun akademik juga dapat memperlambat proses pemulihan korban.
Atika menambahkan, ada beberapa tanda awal yang perlu diwaspadai sebagai indikasi seseorang membutuhkan bantuan profesional. Gejala tersebut meliputi munculnya ingatan traumatis secara berulang, mimpi buruk, kewaspadaan berlebihan, hingga kecenderungan menghindari hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa kecelakaan.
Ia menekankan bahwa apabila gejala tersebut terus muncul berulang dalam kurun waktu hingga enam bulan, maka individu sebaiknya segera mencari bantuan profesional agar kondisi psikologisnya tidak semakin memburuk.
Selain itu, Atika menilai pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung pemulihan mental para korban kecelakaan. Pemerintah bersama pihak terkait dinilai perlu menyediakan layanan pendampingan psikologis secara sistematis bagi korban maupun keluarga terdampak.
“Pemerintah perlu hadir dalam memberikan dukungan psikologis yang terstruktur. Antara lain melalui penyediaan layanan pendampingan psikologis, investigasi cepat, kepastian hukum bagi keluarga korban, serta perlindungan hak kerja selama proses pemulihan,” pungkasnya.
53 Anak Jadi Korban Kekerasan Daycare Little Aresha, Pemprov DIY Beri Pendampingan Psikologis
Sebanyak 53 anak menjadi korban kekerasan di Daycare Little Aresha Jogja. Terkait peristiwa tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian... | Halaman Lengkap [428] url asal
#daycare #kekerasan-anak #psikolog #anak-rentan-kekerasan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 26/04/26 19:58
v/203286/
DIY - Sebanyak 53 anak menjadi korban kekerasan di Daycare Little Aresha Jogja. Terkait peristiwa tersebut, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY memberikan pendampingan psikologis bagi anak-anak teresbut.Kepala DP3AP2 DIY Erlina Sumardi, mengatakan pihaknya telah memberikan pendampingan psikososial kepada anak-anak korban serta dukungan kepada keluarga melalui layanan terpadu. Erlina menyebut langkah tersebut dilakukan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis korban.
“Sebagai bagian dari upaya perlindungan, DP3AP2 DIY bersama DP3AP2KB Kota Yogyakarta, KPAI Kota Yogyakarta, serta Forum Perlindungan Korban Kekerasan DIY telah dan akan terus melakukan pendampingan psikososial bagi anak-anak korban dan dukungan kepada keluarga melalui layanan terpadu,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).
Selain itu, DP3AP2 DIY juga mendukung proses penegakan hukum yang tengah berjalan. “Kami mendorong dan mengawal proses penegakan hukum bekerja sama dengan LPSK Perwakilan DIY agar seluruh pihak yang terlibat dalam dugaan pelanggaran ini diproses sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.
Di sisi lain, evaluasi terhadap sistem pengawasan dan perizinan lembaga pengasuhan anak juga dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang. “Melakukan evaluasi bersama terhadap sistem pengawasan dan perizinan lembaga pengasuhan anak, termasuk daycare, guna memastikan terpenuhinya standar perlindungan anak,” jelasnya.
Lihat video: Dari 103 Anak di Daycare, 53 Positif Alami Kekerasan di Daycare Little Aresha
Erlina turut mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan kekerasan terhadap anak. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan dan tidak ragu melaporkan apabila menemukan atau mencurigai adanya praktik kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar,” tandasnya.
Diketahui, Polresta Yogyakarta mencatat sebanyak 53 anak terverifikasi mengalami kekerasan fisik dan verbal di Daycare Little Aresha, Kota Yogyakarta, dari total 103 anak yang pernah dititipkan.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian mengatakan, korban didominasi bayi hingga balita dengan rentang usia sangat rentan, mulai 0–3 bulan hingga di bawah 2 tahun. Dugaan kekerasan ini telah berlangsung lama, mengingat masa kerja pengasuh yang sudah lebih dari satu tahun, dan saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan maraton terhadap para terlapor.
Selain kekerasan, kondisi penampungan anak juga dinilai tidak layak. Dalam temuan polisi, tiga kamar berukuran sekitar 3x3 meter diisi hingga 20 anak per kamar.
“Jadi ada tiga kamar ukuran sekitar 3x3 meter persegi, tetapi diisi 20 anak untuk satu kamar. Ini sudah mengarah pada tindakan diskriminatif. Anak-anak ditelantarkan begitu saja, ada yang diikat kakinya, tangannya, bahkan ada yang muntah namun dibiarkan tanpa ada upaya pembersihan,” ujar Kompol Rizky Adrian.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, ditemukan berbagai luka pada tubuh korban, seperti kulit melepuh, bekas cubitan, cakaran, luka di punggung, hingga luka di bagian bibir. Mayoritas anak juga terkonfirmasi menderita pneumonia atau infeksi paru-paru.
Pentingnya Psikologi Pengendalian Diri dalam Dunia Trading
Pasar menghargai Anda yang memiliki pengendalian diri, yang merupakan sifat yang sangat berharga karena biasanya tidak terlalu diperhatikan. Pasar pada dasarnya... | Halaman Lengkap [1,124] url asal
#trading #trader #pasar-saham #psikologi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/04/26 10:21
v/195796/
JAKARTA - Pasar pada dasarnya adalah wadah percobaan langsung bagi emosi manusia. Pasar menghargai Anda yang memiliki pengendalian diri, yang merupakan sifat yang sangat berharga karena biasanya tidak terlalu diperhatikan. Perbedaan antara para trader yang mengambil keputusan trading secara disiplin dan yang tidak adalah apakah mereka mampu mengendalikan diri atau tidak.Mereka yang mampu mengendalikan diri akan membeli saat harga rendah, menjual saat harga tinggi, dan mengklaim keberhasilan saat segala sesuatunya berjalan lancar. Sementara mereka yang kurang memiliki pengendalian diri akan membeli dengan harga tinggi, menjual dengan harga rendah, dan menyalahkan pihak lain (seperti manipulasi pasar) ketika keadaan menjadi buruk. IHSG Dibuka Meroket ke Level 7.750, Seluruh Sektor Menghijau
Tidak berarti Anda tidak pernah merasakan emosi. Artinya, Anda melakukan tindakan dengan sengaja meskipun otak Anda mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menunda kepuasan. ”Para trader yang mampu mengendalikan diri, berhenti sejenak, berpikir, dan tetap mengikuti rencana mereka akan benar-benar diuntungkan oleh pasar,” demikian rilis tertulis dari JustMarkets, Minggu (19/4/2026).
Sebagian besar psikolog mendefinisikan pengaturan diri sebagai upaya menahan dorongan diri agar bisa mengejar tujuan masa depan yang lebih jauh daripada masa kini. Ini adalah definisi yang valid, tetapi tidak mempertimbangkan bahwa dorongan Anda bukanlah sesuatu yang jahat.
Dulu, dorongan diri diprogram untuk bertahan hidup di dunia yang kini tidak lagi terancam punah. Pikiran Anda menganggap ketidakpastian sebagai sesuatu yang berbahaya, hal baru sebagai peluang, dan kerugian sebagai serangan pribadi. Pasar keuangan menyediakan ketiga jenis penguatan ini dalam jumlah yang berlimpah.
Pengaturan diri adalah hal yang membantu Anda mengelola selisih waktu antara respons dan rangsangan (merasa/ingin/bertindak). Perbedaan waktu itulah yang memberi Anda keunggulan (ruang antara rangsangan dan respons) dalam proses pengambilan keputusan Anda.
Pasar bisa menjadi jebakan untuk pembelian impulsif karena desainnya yang menyerupai mesin slot, dengan berbagai tingkatan imbalan dan penguatan yang berasal dari peluang memenangkan hadiah yang signifikan. Tick trading dapat menciptakan sensasi yang sama seperti saat Anda bermain mesin slot, karena setiap tick memicu pelepasan dopamin di otak.
Pola perilaku pembelian impulsif bisa diamati melalui empat hal. Pertama, ”mengejar trading” karena merasa “tertinggal” dari trading yang menguntungkan membuat mereka merasa “tersesat”. Kedua, “mencoba menutupi kerugian” dari trading yang merugi dengan membiarkan emosi menjadi faktor penentu dalam proses pengambilan keputusan trading.
Ketiga, “trading secara berlebihan” karena anggapan bahwa “melakukan sesuatu” membuat individu merasa memiliki kendali yang lebih besar di pasar. Keempat, “mengubah definisi kemenangan” karena rencana yang objektif hanya valid hingga pasar menunjukkan sebaliknya.
Pasar tidak “menghukum” kecerdasan, melainkan hanya memberi imbalan kepada orang yang konsisten dalam bertindak. Dan satu catatan penting lagi – pasar tidak peduli dengan “niat”, melainkan hanya menghargai pola perilaku yang berulang.
Mengambil keputusan sebagai reaksi tampaknya masuk akal untuk saat ini. Anda sedang menyesuaikan diri dan merespons pengaruh yang baru, sehingga Anda merasa “terhubung” dengan segala hal yang sedang terjadi. Namun, tanpa kerangka kerja untuk beradaptasi, Anda hanya mengandalkan improvisasi sebagai cara mengatasi tekanan akibat perubahan ini, dan stres bukanlah kondisi yang tepat bagi seseorang untuk berpikir jernih.
Ada faktor dalam ilmu keuangan perilaku yang secara sistematis melemahkan disiplin kita saat kita membuat keputusan yang reaktif. Pertama, aversi terhadap kerugian. Rasa sakit akibat kehilangan sesuatu melebihi rasa senang akibat memperoleh sesuatu yang nilainya setara, yang berarti kita cenderung mempertahankan investasi yang merugi dan melikuidasi investasi yang menguntungkan lebih awal dari yang seharusnya.
Kedua, bias keterkinian. Apa yang baru saja terjadi sepertinya akan terus berlanjut. Ketiga, bias konfirmasi. Setelah Anda berkomitmen untuk berinvestasi, Anda bisa menemukan begitu banyak bukti yang mendukung keputusan Anda dan memandang keputusan Anda seolah-olah sebagai klub penggemar.
Keempat, terlalu percaya diri. Setelah berhasil beberapa kali, kita cenderung menganggap diri kita sebagai “pakar investasi.” Meskipun membantu mengurangi bias ini, keberadaan pengendalian diri tidak menghilangkannya, sehingga bias tetap menimbulkan kebiasaan yang merugikan bagi para investor.
Kesabaran Strategis vs Menumpang Gratis
Ketika orang berpikir tentang bersabar, mereka biasanya membayangkan tidak adanya tindakan. Namun, bersabar dengan disiplin berarti secara aktif bersiap, mematuhi aturan, menganggarkan risiko, dan menunggu hingga kondisi memenuhi kriteria Anda sebelum mencoba meminta pasar untuk memvalidasi perasaan Anda.
Dalam dunia trading, bersabar biasanya berarti memberi waktu yang cukup bagi pengembalian majemuk untuk berkembang (dan biasanya berkembang dengan cara yang sangat membosankan). Bersabar juga berarti menunggu hingga Anda memiliki konfigurasi, likuiditas, atau profil risiko/imbalan yang benar untuk mendukung trading Anda. Dan yang terakhir, ini tentang tidak perlu membayar “pajak impuls” – biaya tambahan yang timbul akibat melakukan trading yang impulsif dengan masuk terlalu dini, keluar terlalu lambat, atau mengubah rencana trading di tengah proses trading.
Ini alasan mengapa pasar menghargai pengendalian diri: berkat konsistensi rencana yang dimiliki, seseorang memberikan peluang maksimal bagi probabilitas untuk berkembang. Probabilitas adalah hal terbaik yang ditawarkan pasar sebagai bentuk keadilan.
Tips Menjadi Trader yang Mampu Mengendalikan Diri
Pertama, membuat pilihan yang lebih baik saat mengeksekusi daripada saat memprediksi hasilnya. Saat mengambil keputusan. Kedua, membuat proses pengambilan keputusan yang terstruktur, bukan sekadar reaksi yang emosional.
Ketiga, menetapkan aturan atau ketentuan untuk menentukan waktu yang tepat dalam mengeksekusi keputusan mereka sebelum merisikokan modal. Mereka mengidentifikasi kondisi apa saja yang menjadi syarat untuk masuk trading; dalam kondisi apa mereka akan menganggap entri tidak valid; dan apa saja yang dimaksud dengan “selesai”.
Keempat, memisahkan proses analisis keputusan dan eksekusi mereka. Analisis keputusan terjadi pada saat yang tenang, sedangkan eksekusi hanya terjadi ketika persyaratan masuk atau eksekusi telah terpenuhi. Jika Anda sedang dalam proses mengeksekusi trading dan masih mencoba menganalisisnya, itu sama saja dengan mencoba merenovasi rumah saat gempa bumi sedang melanda di sekitar Anda;
Kelima, ukuran posisi akan membantu memastikan Anda tetap mengendalikan posisi Anda. Anda sebaiknya menyesuaikan ukuran posisi Anda agar tidak panik, namun tetap memiliki dampak yang signifikan. Tujuan Anda seharusnya adalah mengurangi respons emosional yang terkait dengan fluktuasi pasar yang normal.
Keenam, buat daftar periksa saat mengeksekusi trading atau berinvestasi. Semua akibat stres yang berkaitan dengan emosi yang timbul saat mengeksekusi trading bisa membuat siapa pun melupakan hal yang seharusnya. Semua orang menceritakan kepada diri mereka sendiri apa yang mereka ingat dengan cara yang berbeda dari cara mereka mengingatnya. Meneropong Tren Trading Teratas di Asia Tenggara, Apa yang Terlihat Sejauh Ini?
Tidak masalah apakah Anda trading dengan broker seperti JustMarkets, Octa, atau XM, atau mengelolanya sendiri. Cukup ikuti tip ini, tambahkan saran Anda sendiri, dan usahakan untuk mengurangi jumlah keputusan yang diambil secara impulsif.
Meskipun pengendalian diri tidak menjamin bahwa setiap keputusan akan berhasil. Ada kalanya seseorang telah disiplin dan berhasil. Namun, pasar terkadang bisa memberikan kompensasi yang cukup besar bagi mereka yang mengambil keputusan secara gegabah atau ceroboh.
Imbalannya bersifat sementara dan sering kali muncul dengan cara yang sangat mencolok dan pada umumnya akan berbalik merugikan Anda. Saat mempertimbangkan beberapa keputusan yang berbeda, pengendalian diri bisa menjadi satu keunggulan yang sangat kuat karena mengurangi jumlah kesalahan yang tidak perlu, menjaga risiko tetap terkendali, dan memastikan bahwa strategi Anda—bukan emosi—yang menjadi pendorong utama hasil yang Anda peroleh.
Jurusan Unair dengan Keketatan Tertinggi untuk SNBT 2026, Kedokteran Hingga Psikologi
Mengetahui jurusan paling ketat bisa menjadi salah satu strategi lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Salah satunya di Universitas Airlangga (Unair).... | Halaman Lengkap [331] url asal
#jurusan-paling-ketat #jurusan-kuliah #prodi-kedokteran #snbt-2026 #psikologi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 08/04/26 07:16
v/184622/
JAKARTA - Mengetahui jurusan paling ketat bisa menjadi salah satu strategi lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Tes ( SNBT) 2026 . Salah satunya di Universitas Airlangga (Unair).Pada SNBT 2025, jumlah peserta yang memilih Unair ada sebanyak 76.238 orang, sementara daya tampung hanya 3.162 kursi, termasuk 231 calon penerima KIP Kuliah.
Dengan persaingan yang ketat tersebut, data keketatan jurusan menjadi acuan penting bagi calon peserta SNBT 2026 dalam menentukan strategi memilih program studi.
Jurusan Unair Paling Ketat untuk SNBT 2026
Kedokteran Masih Jadi Jurusan Paling Ketat di Saintek
Pada kelompok Saintek, Kedokteran kembali menjadi jurusan paling ketat di Unair dengan tingkat keketatan hanya 2,87%. Artinya, dari 100 pendaftar, hanya sekitar 2–3 orang yang diterima.
Selain Kedokteran, sejumlah jurusan lain juga memiliki tingkat persaingan tinggi, di antaranya:
Teknik Biomedis: 3,90%
Teknik Industri: 4,29%
Kedokteran Gigi : 4,50%
Sistem Informasi: 4,72%
Gizi: 5,14%
Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan: 5,15%
Teknik Lingkungan: 5,27%
Keperawatan : 5,39% Kesehatan Masyarakat — 5,43%
Farmasi: 5,60%
Teknik Elektro : 5,94%
Bidang kesehatan dan teknologi masih mendominasi jurusan dengan persaingan paling ketat di kelompok Saintek.
Psikologi dan Ilmu Komunikasi Terketat di Soshum
Sementara itu, pada kelompok Soshum, Psikologi menjadi jurusan paling ketat dengan tingkat keketatan 3,45%, diikuti oleh:
Ilmu Komunikasi : 3,73%
Ilmu Hukum : 4,59%
Akuntansi : 4,86%
Ilmu Hubungan Internasional :5,04%
Manajemen: 5,05%
Administrasi Publik: 5,08%
Ilmu Politik: 6,47%
Ilmu Ekonomi: 8,17%
Sosiologi: 9,05
Apa Arti Keketatan Jurusan?
Perlu dipahami, keketatan merupakan perbandingan antara jumlah mahasiswa yang diterima dengan jumlah peminat. Semakin kecil persentasenya, semakin tinggi tingkat persaingan.
Strategi Memilih Jurusan untuk SNBT 2026
Data ini bisa menjadi panduan penting bagi calon peserta SNBT 2026. Berikut beberapa tips memilih jurusan:
1. Kenali peluang: Jangan hanya memilih jurusan favorit, tapi pertimbangkan tingkat keketatan.
2. Sesuaikan dengan kemampuan: Pilih jurusan yang relevan dengan nilai dan minat.
3. Gunakan strategi pilihan: Kombinasikan jurusan “ambisius”, “realistis”, dan “aman”.
4. Perhatikan tren: Jurusan kesehatan dan teknologi masih sangat kompetitif.
Seni Berkomunikasi 'Soft Rejection' untuk Kesehatan Mental
Pernahkah Anda merasa terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan hanya karena tidak tega menolak ajakan orang lain? Fathiya Azka AmalinaMahasiswi Prodi Psikologi... | Halaman Lengkap [969] url asal
#opini #kesehatan-mental #komunikasi #psikologi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/03/26 08:30
v/175538/
Fathiya Azka AmalinaMahasiswi Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Aceh
PERNAHKAH Anda merasa terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan hanya karena tidak tega menolak ajakan orang lain? Entah itu ajakan nongkrong saat kelelahan, tambahan pekerjaan di luar jam kerja, atau permintaan tolong yang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang lain. Kejadian ini pasti akrab di kalangan mereka yang sering merasa risih, takut menyinggung, atau khawatir dicap buruk dan tidak baik oleh orang lain. Padahal, sikap seperti inilah yang justru sering mengorbankan ketenangan jiwanya sendiri.
Menolak ajakan kerap diidentikkan dengan tindakan kasar atau egois. Padahal, kemampuan untuk berkata ‘tidak’ adalah salah satu fondasi utama dalam menjaga kesehatan mental. Di sinilah seni ‘soft rejection’ hadir sebagai pendekatan untuk menolak dengan halus, tanpa menyinggung orang lain, tanpa merusak hubungan sosial, sekaligus membentengi diri dari kelelahan emosional.
Secara umum, soft rejection adalah strategi komunikasi interpersonal untuk menolak ajakan atau permintaan dengan tetap menghargai lawan bicara, tanpa mengorbankan batasan pribadi (personal boundaries). Istilah ini merupakan pengembangan dari kajian tentang refusal skills dan komunikasi yang tegas juga percaya diri, yang muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial modern yang kerap menyulitkan individu untuk mempertahankan kesehatannya sendiri.
Kesulitan berkata ‘tidak’ dapat dijelaskan melalui psikoanalisis Sigmund Freud. Dalam teori struktur kepribadian, Freud membagi jiwa manusia menjadi tiga entitas yang saling bertentangan yaitu Id (dorongan naluriah), Ego (penyeimbang realitas), dan Superego (internalisasi nilai moral dan tekanan sosial).
Saat seseorang menerima ajakan yang tidak diinginkan, Superego kerap mendominasi dengan membisikkan norma-norma seperti ‘kamu harus bersikap baik’ atau ‘menolak itu tidak sopan.’ Akibatnya, Ego yang seharusnya menyeimbangkan malah mengaktifkan mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), misalnya compliance (kepatuhan berlebihan), untuk menghindari rasa bersalah. Dengan cara itu, ketidakmampuan untuk menolak bukan hanya masalah ‘tidak enakan,’ melainkan konflik bawah sadar antara perlindungan diri dan tekanan sosial yang melahirkan kelelahan emosional (Gross & John, 2003).
Dari sudut pandang ini, soft rejection dapat dilihat sebagai usaha Ego yang sehat untuk berfungsi secara adaptif. Itu merupakan bentuk negosiasi sadar antara Superego yang mengharuskan kesempurnaan sosial dan Id yang membutuhkan perlindungan diri. Penelitian Nuryani dan Lindasari (2025) tentang kecerdasan emosional dan refusal skills pun sejalan, karena kecerdasan emosional pada dasarnya adalah kemampuan Ego mengelola konflik internal tersebut secara bijaksana.
Sutanto dan Pratiwi (2022) dalam buletin konsorsium psikologi juga menekankan bahwa kemampuan membuat batasan, termasuk melalui penolakan yang penuh empati, merupakan elemen terpenting dalam menjaga kesehatan mental di tengah tekanan sosial yang besar. Dengan begitu, soft rejection adalah sebuah pendekatan yang berakar pada kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara relasi sosial dan kesejahteraan pribadi.
Nah, mengapa kita sulit untuk berkata ‘tidak’? Sebelum memahami hal tersebut, kita harus mengetahui akar masalah mengapa kita berperilaku demikian kepada orang lain. Keengganan menolak sering kali bersumber dari beberapa hal, seperti FOMO (Fear of Missing Out), keinginan untuk diterima dalam lingkungan sosial, atau pola asuh yang mengajarkan bahwa membantu orang lain adalah kewajiban utama. Akibatnya, ketika ada ajakan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau keinginan, yang muncul bukan penolakan, melainkan rasa bersalah.
Padahal, jika kita memaksakan diri untuk selalu berkata ‘ya’ dapat berakibat pada kelelahan fisik dan mental yang berkepanjangan. Dalam artikel yang dipublikasikan di Emotion oleh Gross dan John (2003), disebutkan bahwa penekanan terhadap ekspresi emosi secara berkelanjutan merupakan suatu bentuk penolakan terhadap diri emosional yang berkaitan dengan peningkatan stres fisik dan penurunan fungsi sosial.
Soft rejection berbeda dengan sekadar mengabaikan pesan atau mengatakan ‘tidak’ secara tiba-tiba. Ini disebut seni karena memerlukan kemampuan merangkai kata, membaca situasi, serta menyeimbangkan antara ketegasan dan empati. Seni ini menekankan pada kejelasan yang disertai dengan rasa hormat, sehingga hubungan tetap terjaga, perasaan lawan bicara tidak terluka, dan batasan pribadi tetap dipertahankan.
Penelitian Freedman, Williams, dan Beer (2016) dalam Frontiers in Psychology menguatkan hal ini dengan menunjukkan bahwa penolakan yang jelas dan responsif lebih menguntungkan daripada penolakan yang tidak jelas atau sekadar diabaikan, karena dapat menjaga kebutuhan emosional kedua pihak.
Ada beberapa strategi praktis yang dapat digunakan untuk melakukan soft rejection. Berdasarkan kajian tentang refusal skills yang dikemukakan Nuryani dan Lindasari (2025), serta prinsip-prinsip komunikasi lugas yang diuraikan Sutanto dan Pratiwi (2022), strategi ini dapat disusun yaitu pertama, awali dengan ucapan terima kasih dan kata-kata apresiasi supaya lawan bicara merasa dihargai dan tidak tersinggung.
Selanjutnya, sampaikan penolakan dengan jelas tanpa menggantung, hindari jawaban ambigu seperti ‘iya deh, nanti aku cek dulu ya’ padahal sudah tahu kita tidak bisa hadir, dan gunakan kata-kata yang tegas tapi tetap sopan dan lembut. Berikan alasan yang singkat dan jujur, tidak perlu panjang lebar, karena alasan sederhana lebih mudah diterima, dan perlu ingat bahwa kamu berhak untuk beristirahat serta memiliki waktu untuk diri sendiri. Terakhir, jika memang tetap ingin terhubung, tawarkan pilihan yang lain untuk menunjukkan bahwa kamu menolak karena aksinya, bukan karena menolak orangnya.
Setelah mengirimkan pesan penolakan tersebut, rasa bersalah mungkin akan datang. Lawan suara batin tersebut dengan pernyataan positif. Ingatkan diri sendiri bahwa kesehatan mental kamu sama pentingnya dengan perasaan orang lain. Nuryani dan Lindasari (2025) menekankan bahwa kecerdasan emosional berperan besar dalam kemampuan menolak (refusal skills). Orang yang dapat mengendalikan emosinya biasanya tidak terjebak dalam rasa bersalah berlebihan setelah menolak, karena ia mampu membedakan antara tanggung jawab pribadi dan ekspektasi sosial yang tidak masuk akal.
Belajar menolak adalah sebuah proses, bukan langsung jadi. Akan ada kalanya kamu merasa canggung atau takut dengan respon negatif orang tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, seni soft rejection ini akan sangat membantu kamu dan akan menjadi tameng yang melindungi ruang pribadi kamu.
Pada akhirnya, berkata ‘tidak’ dengan cara yang baik adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Ini adalah sebuah tindakan berani untuk memilih kedamaian batin di atas segudang ekspektasi sosial yang tidak berujung. Merawat diri bukanlah keegoisan, tetapi dasar yang memungkinkan kita untuk hadir sepenuhnya dan memberikan makna kepada orang-orang yang benar-benar berarti dalam hidup kita. Mulailah dari hal-hal sederhana mulai hari ini, seperti sampaikan 'tidak' dengan lembut, dan rasakan kebebasan yang lebih lega dalam diri sendiri.
Tak Mudik Saat Lebaran? Ini Tips Psikolog Unesa Atasi Overthinking di Perantauan
Di tengah ramainya media sosial yang kerap menampilkan momen mudik sebagai simbol kebahagiaan, muncul perasaan tidak nyaman hingga overthinking bagi mereka yang... | Halaman Lengkap [334] url asal
#mudik-lebaran #mudik #stres #psikolog #unesa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/03/26 16:44
v/168428/
JAKARTA - Di tengah ramainya media sosial yang kerap menampilkan momen mudik lebaran sebagai simbol kebahagiaan, muncul perasaan tidak nyaman hingga overthinking bagi mereka yang tetap tinggal di perantauan. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Riza Noviana Khoirunnisa, menyebut perasaan itu manusiawi.Ia menjelaskan, rasa cemas tidak hanya muncul karena hubungan dengan keluarga, tetapi juga dipengaruhi oleh cara seseorang memaknai situasi tersebut. Agar suasana Lebaran tetap hangat meski tidak pulang, Riza membagikan sejumlah perspektif yang dapat membantu menenangkan pikiran.
Langkah pertama adalah mengenali dan mengelola pikiran. Individu perlu menyadari berbagai kekhawatiran yang muncul, seperti ketakutan dianggap tidak peduli pada keluarga atau merasa kehilangan momen kebersamaan.
Untuk mengatasinya, Riza menyarankan pendekatan sederhana dari Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yakni menguji apakah pikiran negatif tersebut benar adanya atau sekadar berasumsi berlebihan. Dengan melihat kondisi secara objektif, perasaan cemas bisa berkurang dan menyadari bahwa tidak
Selain itu, mengurangi paparan media sosial juga menjadi langkah penting. Melihat aktivitas mudik orang lain dapat memicu rasa tertinggal atau minder. Oleh karena itu, jeda sejenak dari media sosial dapat membantu seseorang lebih fokus pada diri sendiri. Riza juga pentingnya penerimaan diri atau penerimaan diri agar individu mampu menerima kondisi tanpa syarat dan
Lebih jauh lagi, ia mengajak masyarakat untuk memaknai kepulangan secara lebih luas. Idulfitri bukan hanya soal perjalanan fisik, tapi juga tentang kembali ke fitrah dan kemenangan batin. Silaturahmi tetap dapat terjalin melalui teknologi, sementara waktu di perantauan dapat dimanfaatkan untuk refleksi diri dan memulihkan energi positif.
Riza juga mengingatkan pentingnya melatih mindfulness atau kesadaran penuh agar pikiran tidak terjebak pada kecemasan masa lalu maupun kekhawatiran masa depan. Jika muncul rasa tidak nyaman saat menjawab pertanyaan pribadi, hal tersebut dianggap wajar. Dengan kepercayaan diri yang sehat dan sikap asertif, seseorang tetap dapat menjaga batasan tanpa menyinggung perasaannya
Terakhir, ia menekankan pentingnya mengingat kembali tujuan berada di perantauan. Jarak dari keluarga, termasuk keputusan tidak mudik, merupakan bagian dari proses perjuangan untuk masa depan. Menyadari bahwa kondisi tersebut adalah investasi jangka panjang dapat memberikan kekuatan mental, sekaligus mengubah rasa sepi menjadi kebanggaan
Marlyn Ivana Trigita Jadi Lulusan Tercepat Psikologi UGM, Kuliah Tuntas 3 Tahun 2 Bulan
Mahasiswa program studi Psikologi UGM Marlyn Ivana Trigita dinobatkan sebagai lulusan tercepat dengan menuntaskan studi dalam waktu 3 tahun 2 bulan 1 hari. Mahasiswa... | Halaman Lengkap [692] url asal
#fakultas-psikologi #psikologi #lulusan-tercepat #mahasiswa-ugm #ugm
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/03/26 19:41
v/160890/
JAKARTA - Mahasiswa program studi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada ( UGM ) Marlyn Ivana Trigita dinobatkan sebagai lulusan tercepat dengan menuntaskan studi dalam waktu 3 tahun 2 bulan 1 hari. Padahal masa studi rata-rata untuk 1.201 wisudawan Program Sarjana adalah 4 tahun 2 bulan.Berhasil menjadi lulusan dengan masa studi tercepat, Marlyn mengaku capai tersebut berkat dari hasil ketekunan dan strategi belajar yang tepat dapat mempercepat proses akademik tanpa mengurangi kualitas. Bagi Marlyn, kelulusan memiliki makna personal yang mendalam untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah ia mulai sebelumnya.
“Aku memulai studi di UGM, jadi aku harus menyelesaikannya, ya wisuda ini,” katanya, dikutip dari laman UGM, Selasa (10/3/2026).
Marlyn menilai sistem perkuliahan di Psikologi yang telah terstruktur per semester sangat membantu dirinya dan mahasiswa lainnya untuk memiliki alur pembelajaran yang relatif seragam. Dinamika perbedaan baru terasa ketika memasuki semester 6 dan 7, terutama saat mulai mempersiapkan skripsi.
“Kalau di psikologi, kita dipaketin per semester itu berapa SKS, jadi per orang rata-rata akan punya rundown yang sama. Mungkin, dinamikanya itu bakalan terlihat ketika masuk di semester 6 atau 7,” tuturnya.
Menurut Maryln, kunci utama percepatan studinya adalah fokus. Ia memilih menggunakan data sekunder yang telah dipublikasikan dan divalidasi, sehingga dapat menghemat waktu pengumpulan data tanpa mengurangi kualitas penelitian. “Strateginya adalah fokus ke skripsimu. Di skripsi ini, data yang digunakan adalah sekunder atau data yang dipublikasikan dan sudah divalidasi juga karena diambil dari perusahaan yang sudah meriset itu,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi peran dosen pembimbing yang responsif, cekatan, dan kritis dalam memberikan masukan. Dukungan tersebut membuat proses penyusunan skripsinya berjalan efektif. Selain itu, fleksibilitas dosen pembimbing, bantuan akademik yang menjelaskan alur administrasi secara rinci, serta dukungan teman-teman yang menjadi ruang aman selama proses pengerjaan skripsi turut menjadi faktor penting keberhasilannya.
“Dosen pembimbing cukup fleksibel, sangat kritis, dan cepat dalam merespon bimbingan sehingga itu sangat membantu. Akademik psikologi juga sangat membantu dalam penjelasan alur skripsi sampai kelulusan dengan rinci. Lalu, terima kasih juga kepada teman-teman karena selalu mendukung dan menjadi tempat aman di masa pembuatan skripsi,” kata Marlyn.
Di balik kelancaran tersebut, Maryln mengakui ada tantangan yang tidak sederhana. Salah satu proses paling rumit adalah data cleaning saat penulisan skripsinya. Data yang ia gunakan berjumlah ribuan dengan banyak variabel, sehingga proses memilah dan menentukan variabel yang relevan membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup panjang. “Data cleaning adalah salah satu proses paling rumit yang ada di masa pembuatan skripsi. Itu karena data yang diambil juga jumlahnya ribuan dan variabelnya banyak, jadi untuk milah yang mau dipakai itu cukup memakan waktu,” jelasnya.
Dalam skripsinya yang berjudul “Peran Otonomi Pengambilan Keputusan terhadap Peluang Terjadinya Depresi pada Perempuan Menikah di Indonesia”, Marlyn mengangkat isu yang relevan dengan konteks sosial Indonesia. Penelitian ini terinspirasi dari pemikiran Michel Foucault tentang relasi kuasa, khususnya gagasan mengenai pembagian kekuasaan yang tidak selalu berjalan seimbang dalam praktik sosial. Dalam konteks masyarakat yang masih cenderung patriarkal, pembagian kekuasaan dalam keluarga kerap tidak setara, terutama terhadap perempuan.
Di sisi lain, dalam psikologi terdapat teori self-determination yang menekankan bahwa otonomi merupakan salah satu dari tiga kebutuhan dasar yang berperan penting dalam kesehatan mental. Marlyn ingin mengetahui apakah pola yang ditemukan dalam penelitian luar negeri, bahwa rendahnya otonomi perempuan berkorelasi dengan meningkatnya risiko depresi, juga terjadi di Indonesia.
“Di Indonesia sendiri belum ada penelitian yang secara spesifik membahas ini. Makanya ini jadi peluang untuk menelitinya,” ungkapnya.
Penelitian tersebut menggunakan data sekunder dari Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang kelima yang dikumpulkan oleh beberapa perusahaan. Melalui data berskala besar tersebut, ia menganalisis hubungan antara tingkat otonomi pengambilan keputusan perempuan menikah dan peluang terjadinya depresi.
Ia juga menyoroti fenomena shadowed autonomy, yakni kondisi ketika perempuan tampak terlibat dalam pengambilan keputusan, tetapi keputusan tersebut bukan sepenuhnya didasarkan pada kehendak pribadi. Pengalaman dan pengamatan terhadap dinamika keluarga di sekitarnya turut menguatkan ketertarikannya pada topik ini.
Bagi Marlyn, skripsi adalah proyek panjang yang harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat, terlebih bagi mahasiswa yang menjadikannya sebagai pengalaman penelitian pertama. Karena itu, ia menekankan pentingnya memahami topik dan metode penelitian secara mendalam sejak awal. “Pelajari topik dan metode yang akan kamu pakai itu sebaik mungkin. Tapi nggak perlu jadi yang tercepat. Just do it as good as possible,” pesannya.
Psikolog Ungkap Cara Tepat Menangani Night Terror pada Anak
Psikolog Rose Mini ungkap cara tangani night terror pada anak: tetap tenang, dampingi, dan hindari membangunkan paksa. Ciptakan rutinitas tidur yang menenangkan. [429] url asal
#night-terror #gangguan-tidur #psikolog-anak #parasomnia #anak-anak #tidur-lelap #kecemasan-mendadak #gejala-night-terror #pemicu-night-terror #konsultasi-psikolog #penanganan-night-terror #rutinitas-t
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/02/26 12:45
v/145582/
Bisnis.com, JAKARTA - Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, mengatakan night terror merupakan gangguan tidur parasomnia umum, terutama pada anak-anak, yang ditandai dengan kepanikan ekstrem, menjerit, atau meronta-ronta saat tidur.
Rose menyebut kondisi ini umumnya terjadi pada anak-anak, meskipun dalam beberapa kasus juga dapat dialami oleh orang dewasa. Fase night terror biasanya muncul setelah anak tidur selama beberapa jam, ketika anak belum benar-benar berada dalam fase tidur yang lelap.
Saat fase night terror muncul, anak akan merasakan takut atau kecemasan secara mendadak. Gejalanya dapat berupa detak jantung yang meningkat, keringat berlebih, teriakan atau tangisan, serta perilaku gelisah yang tampak intens.
"Night terror dapat terjadi pada anak yang sedang demam atau memiliki kondisi penyakit tertentu. Selain itu, faktor ketakutan dan kondisi psikologis, seperti baru saja dimarahi atau mengalami tekanan emosional, juga dapat menjadi pemicu," katanya.
Menurut Rose, orang tua tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan ketika anak mengalami night terror. Menurutnya, dalam banyak kasus, kondisi tersebut cenderung membaik dengan sendirinya seiring pertambahan usia anak.
Dia juga menjelaskan bahwa anak yang mengalami night terror mungkin memiliki kerentanan terhadap kecemasan. Akan tetapi, kondisi ini tidak serta-merta berdampak langsung pada gangguan kesehatan mental. Jika mengalami hal ini, orang tua hanya perlu tetap melakukan pemantauan perkembangan anak secara menyeluruh dan berkelanjutan.
"Namun, jika kejadian ini muncul berulang kali, tidak menunjukkan perbaikan atau justru semakin berat, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan psikiater, psikolog, atau dokter yang berkompeten," katanya.
Di luar itu, terdapat sejumlah langkah yang perlu diperhatikan ketika anak mengalami night terror. Pada kondisi ini, orang tua perlu tahu bahwa anak sebenarnya berada dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar. Kondisi ini, mirip dengan fenomena tidur berjalan.
Penangannya pun mirip, yakni sebaiknya tidak berusaha untuk membangunkannya secara paksa atau dengan cara mengagetkan. Orang tua justru disarankan tetap bersikap tenang dan mendampingi anak hingga episode mereda.
Apabila anak tampak meronta atau gelisah, cukup sentuh atau pegang tangannya secara lembut guna memastikan keselamatannya, lalu jauhkan dari potensi benda berbahaya. Hindari juga memeluk atau menahan tubuh anak secara berlebihan karena tindakan tersebut dapat meningkatkan ketidaknyamanan.
Sebagai langkah pencegahan, Rose menyarankan orang tua untuk menciptakan rutinitas tidur yang konsisten dan suasana yang menenangkan sebelum anak beristirahat. Aktivitas yang bersifat terlalu stimulatif, seperti bermain secara berlebihan, melompat-lompat, menonton tayangan bernuansa menegangkan, maupun situasi yang memicu kemarahan dan tangisan, sebaiknya dihindari menjelang tidur.
Sebaliknya, orang tua dapat menciptakan rutinitas yang lebih menenangkan, misalnya dengan membacakan cerita, menyanyikan lagu lembut, atau memberikan sentuhan ringan agar anak merasa nyaman. Yang terpenting, katanya, anak merasakan kehadiran dan dukungan orang tua sehingga memasuki waktu tidur tanpa rasa cemas.
Program Titian Psikolog Klinis: Upaya Menjembatani Kebutuhan Tenaga Kesehatan Jiwa Indonesia
Akhir-akhir ini, diskusi mengenai penyelenggaraan Program Titian Profesi Psikolog Klinis mengemuka di berbagai forum akademik dan kebijakan. Psikolog Klinis, Anggota... | Halaman Lengkap [1,106] url asal
#psikolog #psikologi #kesehatan-jiwa #kesehatan-mental
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/02/26 15:02
v/131931/
Psikolog Klinis, Anggota Kolegium Psikologi Klinis, Robert O. RajagukgukAkhir-akhir ini, diskusi mengenai penyelenggaraan Program Titian Profesi Psikolog Klinis mengemuka di berbagai forum akademik dan kebijakan. Perbincangan ini wajar, mengingat isu kesehatan jiwa kini semakin diakui sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem kesehatan nasional, bahkan global.
Tulisan ini mengajak pembaca untuk memahami secara lebih jernih apa itu Program Titian, mengapa ia diperlukan, dan bagaimana posisinya dalam menjawab tantangan penyediaan tenaga kesehatan jiwa di Indonesia.
Kesehatan jiwa semakin menempati posisi strategis dalam agenda pembangunan nasional. Meningkatnya angka depresi, kecemasan, kekerasan dalam relasi, perilaku melukai diri hingga bunuh diri, serta persoalan kesehatan jiwa pada anak dan remaja menunjukkan bahwa layanan kesehatan jiwa bukan lagi isu sepele yang tidak perlu dibahas. Ini merupakan kebutuhan nyata masyarakat yang menuntut perhatian dan respons serius dari negara.
Dalam konteks tersebut, penetapan psikolog klinis sebagai tenaga kesehatan merupakan langkah penting dan progresif. Kebijakan ini menegaskan bahwa layanan kesehatan jiwa harus diselenggarakan secara profesional, bermutu, dan dapat dipertanggungjawabkan, sejajar dengan layanan kesehatan lainnya yang memiliki kompetensi standar dan mampu menjamin mutu layanan profesi tenaga kesehatan.
Namun dapat dipahami bahwa setiap perubahan regulasi besar hampir selalu membawa konsekuensi dan tantangan. Tantangan yang kini dihadapi cukup nyata. Ketersediaan psikolog klinis sebagai tenaga kesehatan masih belum memadai, baik dari sisi jumlah sumber daya manusia, pemerataan wilayah, maupun kesiapan kompetensi sesuai standar yang ditetapkan oleh sistem kesehatan Indonesia.
Di sinilah sering terjadi kesenjangan: regulasi bergerak relatif cepat, sementara kapasitas sistem—termasuk pendidikan, pelatihan, dan distribusi tenaga kesehatan—belum sepenuhnya siap mengimbanginya.
Untuk menghadapi situasi dan tantangan inilah Program Titian Profesi Psikolog Klinis menjadi relevan dan dibutuhkan. Program Titian harus dipahami sebagai upaya untuk memastikan bahwa kebutuhan layanan kesehatan jiwa masyarakat tetap terpenuhi tanpa mengorbankan standar kompetensi dan profesi, mutu layanan kesehatan, keselamatan pasien, serta kepentingan publik.
Orientasi utama dari Program Titian adalah peningkatan dan penyetaraan kompetensi bagi lulusan profesi psikolog yang telah memiliki dasar keilmuan dan pelatihan dasar psikologi, agar mampu memenuhi kompetensi standar Tenaga Kesehatan Psikolog Klinis yang telah ditetapkan setara dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) Level 7.
Program ini tidak hanya berfokus pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga pada pembentukan sikap profesional, ketaatan pada kode etik, serta karakter yang matang dan bertanggung jawab dalam memberikan layanan psikologi klinis yang bermutu bagi masyarakat.
Perlu ditegaskan bahwa Program Titian ini bukanlah jalan pintas untuk menjadi psikolog klinis, dan bukan pula upaya menurunkan standar profesi psikolog klinis. Ini merupakan mekanisme transisional berbasis kompetensi yang dirancang untuk menjembatani kondisi eksisting tenaga psikologi dengan tuntutan standar baru psikolog klinis sebagai tenaga kesehatan.
Program ini dirancang dengan kesadaran bahwa perubahan besar dalam sistem profesi memerlukan jembatan kebijakan yang adil, terukur, dan berpihak pada kepentingan publik. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak tenaga psikologi dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang relevan. Mereka telah lama bekerja di layanan konseling, pendidikan, komunitas, maupun fasilitas kesehatan, dan menjadi tumpuan masyarakat dalam berbagai persoalan psikologis.
Namun, tidak semua dari mereka memenuhi standar kompetensi tenaga psikologi klinis sesuai regulasi tenaga kesehatan terkini. Tanpa mekanisme transisi yang jelas, negara akan menghadapi dua risiko ekstrem, yakni kekurangan tenaga kesehatan jiwa psikolog klinis di satu sisi, atau praktik layanan yang tidak terstandar dan berpotensi membahayakan masyarakat penerima layanan psikolog klinis di sisi lain.
Program Titian dihadirkan untuk menghindari kedua risiko tersebut. Posisinya adalah sebagai jembatan kebijakan, bukan jalur alternatif permanen. Melalui asesmen awal, pemetaan kesenjangan kompetensi, penguatan praktik klinis, supervisi terstruktur, dan asesmen berbasis kinerja nyata, kompetensi menjadi ukuran utama. Penilaian tidak semata-mata didasarkan pada ijazah atau lama pengalaman, melainkan pada kemampuan klinis yang dapat dibuktikan dan dipertanggungjawabkan.
Dalam kerangka standar kompetensi profesi yang berlaku secara nasional, Program Titian berorientasi pada capaian kompetensi psikolog klinis sebagai tenaga kesehatan. Prinsip dasarnya tegas: standar tidak diturunkan, tetapi dicapai melalui proses transisi yang terarah. Pendekatan ini bukan hal baru dalam kebijakan publik. Banyak negara menerapkan mekanisme serupa ketika terjadi perubahan besar dalam regulasi profesi kesehatan, justru untuk melindungi keselamatan pasien dan menjaga kesinambungan layanan.
Kontribusi Program Titian terhadap penyediaan tenaga kesehatan jiwa dapat dilihat setidaknya dalam tiga aspek. Pertama, program ini mempercepat ketersediaan psikolog klinis yang kompeten dengan memanfaatkan sumber daya manusia yang sudah ada, tanpa mengorbankan mutu. Kedua, program ini menjaga kualitas layanan melalui supervisi dan asesmen yang ketat, sehingga keselamatan pasien tetap menjadi prioritas. Ketiga, Program Titian mendukung pemerataan layanan kesehatan jiwa, khususnya di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Puskesmas, yang menegaskan bahwa psikolog klinis merupakan salah satu tenaga kesehatan esensial di Puskesmas. Dalam kerangka ini, psikolog klinis berperan sebagai salah satu gatekeeper layanan kesehatan jiwa di masyarakat.
Penting pula dipahami bahwa persoalan kesehatan jiwa memang perlu ditangani secara gotong royong, melibatkan berbagai profesi dan potensi komunitas melalui upaya promotif, preventif, dan rehabilitatif. Namun, pada aspek kuratif, masyarakat tetap membutuhkan penanganan langsung oleh tenaga kesehatan di fasilitas layanan kesehatan terdekat, termasuk oleh psikolog klinis.
Program Titian bukanlah pengganti pendidikan profesi psikologi klinis. Pendidikan reguler tetap menjadi tulang punggung penyediaan tenaga kesehatan jiwa dalam jangka panjang. Program Titian berfungsi sebagai solusi kebijakan pada masa transisi, sambil sistem pendidikan reguler terus dikembangkan, diperkuat, dan diperluas kapasitasnya mengikuti peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang mengatur psikolog klinis sebagai tenaga kesehatan.
Program ini juga sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menekankan percepatan penyediaan tenaga medis dan tenaga kesehatan melalui semangat gotong royong, sebagaimana tercermin dalam agenda pembangunan nasional. Dalam perspektif Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), terdapat pemisahan yang jelas antara jenjang pendidikan, standar kompetensi kerja, dan kewenangan praktik.
Program Titian merupakan program peningkatan dan penyetaraan kompetensi Psikolog Klinis KKNI Level 7 yang menghasilkan sertifikat kompetensi, bukan gelar baru. Keberhasilan Program Titian sangat ditentukan oleh tata kelolanya. Program ini perlu dijalankan dalam koordinasi yang jelas antara kementerian terkait, kolegium bidang profesi, dan institusi pendidikan. Mekanisme asesmen dan supervisi harus transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik. Yang paling penting, Program Titian perlu dipahami sebagai kebijakan transisional yang adaptif, bukan solusi permanen yang menggantikan penguatan pendidikan reguler.
Sebagai penutup, perlu ditegaskan bahwa saat ini kita tidak sedang dihadapkan pada pilihan antara menjaga standar pendidikan tinggi atau memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan jiwa. Tantangan yang sesungguhnya adalah apakah negara berani menghadirkan terobosan dengan merancang jembatan kebijakan yang realistis tanpa mengorbankan keselamatan pasien dan kepentingan publik.
Program Titian Psikolog Klinis menawarkan jalan tengah yang rasional: menjaga standar kompetensi dan profesi, sekaligus memastikan layanan kesehatan jiwa tetap tersedia bagi masyarakat. Dalam situasi kebutuhan yang mendesak, kebijakan yang tepat tidak menutup mata pada realitas, melainkan mampu mengelolanya dengan bertanggung jawab.
Dengan intensi penyiapan rancangan dan pengawasan yang tepat, Program Titian bukan sekadar solusi sementara, melainkan bukti inisiatif, kebijaksanaan, dan kedewasaan negara dalam membangun sistem kesehatan jiwa yang adil, merata, dan berkelanjutan.
Broken Strings: Ketika Bertahan Hidup Disalahartikan sebagai Kelemahan
Setiap kali sebuah kisah kekerasan dalam relasi muncul ke ruang publik, pertanyaan yang hampir selalu muncul di benak kita adalah: “Mengapa dia tidak pergi?... | Halaman Lengkap [570] url asal
#broken-strings #aurelie-moeremans #kekerasan-seksual #psikolog #psikologi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 06/02/26 15:16
v/128269/
Robert O. Rajagukguk, PhD., Psikolog, Anggota Kolegium Psikologi Klinis IndonesiaSetiap kali sebuah kisah kekerasan dalam relasi muncul ke ruang publik, pertanyaan yang hampir selalu muncul di benak kita adalah: “Mengapa dia tidak pergi?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, bahkan masuk akal. Namun sesungguhnya, pertanyaan itulah yang paling sering melukai korban untuk kedua kalinya.
Baru-baru ini ramai diperbincangkan sebuah memoar yang berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda Yang Patah ditulis oleh Aurelie Moeremans. Seorang teman mengirimkan buku elektronik kepada penulis. Memoar Broken Strings—yang mengisahkan pengalaman kekerasan psikologis dan seksual dalam relasi intim—membuka mata kita pada satu kenyataan penting: bertahan hidup sering kali disalahartikan sebagai kelemahan, padahal justru itulah bentuk kecerdikan jiwa ketika tidak ada pilihan aman lain.
Dalam psikologi modern, khususnya pendekatan psikopatologi relasional, yang menggunakan paradigma psikopatologi dari John Buclew, penderitaan manusia tidak lagi dilihat semata-mata sebagai “masalah individu”, melainkan sebagai jejak dari relasi yang tidak aman, timpang, dan merusak. Banyak respons korban yang tampak “tidak rasional” dari luar—diam, patuh, memaafkan, bahkan kembali—sebenarnya adalah strategi bertahan hidup yang lahir dari ancaman nyata.
Kekerasan dalam relasi jarang dimulai dengan pukulan. Ia sering diawali dengan perhatian berlebihan, klaim cinta yang absolut, dan janji perlindungan. Perlahan, perhatian berubah menjadi kontrol. Kepedulian berubah menjadi tuntutan. Cinta berubah menjadi alat manipulasi. Pada titik ini, korban tidak lagi berhadapan dengan satu peristiwa, melainkan dengan medan relasi yang terus-menerus membuatnya tidak aman.
Dalam kondisi seperti itu, tubuh dan jiwa belajar satu hal: diam lebih aman daripada melawan. Kepatuhan terasa lebih aman daripada kejujuran. Bertahan terasa lebih mungkin daripada pergi. Ini bukan soal tidak tahu bahwa relasi itu berbahaya, melainkan soal apa yang harus dikorbankan jika berani keluar—rasa aman, identitas, bahkan nyawa.
Sayangnya, masyarakat sering gagal membaca dinamika ini. Korban dinilai lemah karena tidak pergi. Tidak konsisten karena kembali. Tidak meyakinkan karena masih bisa tersenyum. Kita lupa bahwa korban tidak selalu menangis di depan publik. Banyak yang sudah menangis bertahun-tahun dalam diam.
Lebih menyedihkan lagi, diagnosis psikologis kerap dipakai secara serampangan untuk menjelaskan penderitaan korban. Mereka dicap “terlalu tergantung”, “emosional”, atau bahkan “bermasalah dengan kepribadian”. Padahal, dalam banyak kasus, yang terjadi belum tentu bahkan bukanlah gangguan kepribadian, melainkan trauma relasional yang kompleks—luka psikologis yang terbentuk karena relasi yang terus-menerus mengancam rasa aman dan martabat diri.
Pemulihan dari trauma semacam ini juga kerap disalahpahami. Banyak orang mengira pulih berarti melupakan, tidak lagi teringat, atau tidak lagi terguncang. Padahal, pemulihan yang sejati adalah ketika luka tidak lagi mengendalikan hidup. Ingatan mungkin tetap ada, tetapi ia tidak lagi menjadi penentu identitas, pilihan, dan masa depan.
Kisah Broken Strings penting bukan hanya karena keberaniannya membuka luka, tetapi karena ia mengingatkan kita pada satu hal mendasar: jiwa manusia tidak rapuh seperti yang kita kira. Ia bisa terluka sangat dalam, tetapi tetap mampu bertahan, merefleksikan, dan suatu hari memilih hidup yang lebih utuh. Yang kita butuhkan sebagai masyarakat bukanlah pertanyaan yang menghakimi, melainkan keberanian untuk bertanya dengan empati: “Apa yang membuat seseorang harus bertahan selama itu?”
Bukan sikap yang menyederhanakan, tetapi kesediaan untuk memahami dan melihat dari sudut pandang orang yang sedang mengalami.
Ketika kita mulai melihat penderitaan bukan sebagai kelemahan pribadi, melainkan sebagai akibat dari relasi yang tidak manusiawi, kita sedang mengambil satu langkah penting: mengembalikan kemanusiaan kepada cara padangn kita dalam menilai sesama. Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari Broken Strings: bukan tentang senar yang putus, tetapi tentang jiwa yang akhirnya menolak terus diikat oleh kekerasan yang disamarkan sebagai cinta.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)