Bisnis.com, JAKARTA - Lari menjadi salah satu olahraga yang banyak dipilih karena sederhana, murah, dan bisa dilakukan kapan saja. Namun, di balik manfaatnya bagi kebugaran, aktivitas ini juga menuntut kepekaan terhadap sinyal yang diberikan tubuh saat berolahraga.
Dokter Spesialis Olahraga, Maria Lestari mengatakan tidak semua rasa lelah yang muncul saat berlari bisa dianggap normal. Ada kalanya tubuh memberikan sinyal yang lebih serius, yang jika diabaikan dapat berujung pada kondisi berbahaya. Oleh karena itu, penting bagi pelari untuk memahami perbedaan antara capek biasa dan tanda bahaya saat berolahraga.
“Saya selalu mengingatkan bahwa capek saat lari itu wajar, tetapi ada beberapa kondisi yang harus dianggap sebagai lampu merah, terutama ketika berkaitan dengan jantung dan heat illness,” katanya kepada Bisnis, Jumat (24/4/2026).
Dokter Maria menyebut jika menemukan tanda-tanda ini, sebaiknya pelari segera berhenti dan mencari bantuan. Tanda-tanda tersebut mencakup nyeri dada yang terasa menekan, panas, atau menjalar ke lengan, rahang, maupun punggung, serta sesak napas yang tidak sebanding dengan tingkat aktivitas, terutama jika muncul secara tiba-tiba dan terasa berat.
Selain itu, pelari juga perlu waspada terhadap gejala seperti pusing berat, sensasi melayang, atau hampir pingsan. Tanda lainnya adalah jantung berdebar tidak teratur atau sangat cepat yang disertai rasa tidak nyaman di dada, serta penurunan performa secara mendadak, di mana pace menjadi lebih lambat tetapi tubuh terasa jauh lebih berat dan tidak seperti biasanya.
Kemudian, pelari juga mesti mengenali tanda heat stroke atau heat illness antara lain mendadak merasa kebingungan, bicara tidak jelas, jalan sempoyongan, serta tubuh merasa merinding atau kulit terasa sangat panas dan kering. Selain itu, gejala lain yang juga serius adalah nyeri kepala hebat, pandangan kabur, hingga kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
"Tinjauan terbaru tentang henti jantung mendadak pada atlet menekankan bahwa gejala seperti nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, serta sinkop saat berolahraga sering kali merupakan warning sign dari masalah jantung yang serius," imbuhnya.
Selain itu, terdapat juga kondisi yang disebut sebagai amber flag yang tidak seakut tanda bahaya sebelumnya, tetapi tetap perlu diperhatikan karena dapat mengindikasikan overreaching atau peningkatan risiko cedera. Beberapa di antaranya adalah nyeri lokal pada lutut, tendon Achilles, atau tulang kering yang semakin lama terasa makin tajam.
Gejala lainnya meliputi rasa lelah yang berkepanjangan disertai gangguan tidur, peningkatan resting heart rate (denyut jantung saat istirahat) yang jelas dibandingkan kondisi normal, serta perubahan suasana hati seperti lebih mudah marah, enggan berlatih tetapi tetap memaksakan diri untuk beraktivitas dengan intensitas tinggi.
Namun, kondisi ini lebih sering muncul saat seseorang sedang menjalani fase latihan menuju sebuah event. Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, sebaiknya pelari tidak menambah beban latihan. Sebaliknya, intensitas dan volume latihan perlu diturunkan untuk memberi waktu tubuh beristirahat dan pulih.