KOMPAS.com – Penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX memicu euforia besar di Wall Street. Langkah tersebut sekaligus mengantarkan pendirinya, Elon Musk, menjadi orang pertama di dunia yang memiliki kekayaan lebih dari 1 triliun dollar AS.
Namun, di tengah perayaan itu, sekelompok warga di Kota New York justru turun ke jalan untuk memprotes fenomena yang mereka nilai mencerminkan ketimpangan ekonomi yang semakin lebar.
Mengutip Bloomberg, Minggu (14/6/2026), sekitar dua lusin demonstran berkumpul di depan kantor pusat JPMorgan Chase & Co. di Park Avenue, salah satu penjamin emisi IPO SpaceX.
Aksi tersebut digelar untuk mengecam meningkatnya kesenjangan pendapatan, praktik yang dianggap menguntungkan kalangan elite, serta spekulasi berlebihan di pasar keuangan.
"Kondisi ini membuka jalan bagi investor awal yang kaya untuk mencairkan keuntungan mereka, sementara para penabung dan investor kecil berisiko menanggung kerugian," kata Natalia Renta, Associate Director of Corporate Governance and Power di kelompok advokasi Americans for Financial Reform yang turut mengorganisasi aksi tersebut.
Kegelisahan di tengah ledakan kekayaan Elon Musk
Jumlah peserta demonstrasi memang relatif kecil.
Aksi itu juga jauh lebih kecil dibandingkan gelombang kemarahan global yang pernah menyasar Elon Musk pada tahun lalu ketika ia menjabat sebagai penasihat Presiden AS, Donald Trump, dan memangkas berbagai program pemerintah, termasuk bantuan luar negeri.
Meski demikian, demonstrasi tersebut menyoroti jurang yang semakin lebar dalam perekonomian AS.
Lonjakan harga saham telah menciptakan kekayaan dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sementara perusahaan-perusahaan teknologi menggelontorkan ratusan miliar dollar AS untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI).
Pada saat yang sama, inflasi dan biaya perumahan yang terus meningkat membuat banyak warga AS semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kekhawatiran juga muncul karena perkembangan AI dinilai berpotensi menghilangkan banyak lapangan kerja, termasuk pekerjaan dengan pendapatan tinggi.
AI/ChatGPT. Ilustrasi Elon Musk diprediksi akuisisi Intel.Kritik terhadap percepatan saham SpaceX masuk ke indeks
Para demonstran juga menyoroti langkah Nasdaq Inc. yang mengubah aturannya menjelang IPO SpaceX. Perubahan tersebut memangkas waktu yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan besar yang baru melantai di bursa untuk masuk ke indeks utama Nasdaq.
Apabila SpaceX nantinya masuk ke indeks tersebut, dana investasi pasif yang mengikuti pergerakan indeks akan diwajibkan membeli saham perusahaan itu. Kondisi tersebut secara otomatis akan menciptakan permintaan baru terhadap saham SpaceX.
Namun, sebagian investor dinilai mungkin tidak tertarik memiliki saham perusahaan tersebut. Selain karena pandangan politik Musk yang cenderung konservatif, banyak pihak juga menilai valuasi SpaceX sudah terlalu tinggi dan bersifat spekulatif.
SpaceX memiliki nilai pasar sekitar 2 triliun dollar AS, lebih dari 100 kali pendapatan tahunannya.
Perusahaan tersebut juga masih membukukan kerugian. Sementara harga saham SpaceX sebagian besar ditopang oleh harapan bahwa SpaceX akan mendominasi bisnis AI dan berbagai proyek antariksa yang belum terbukti secara komersial, termasuk rencana pembangunan pusat data yang mengorbit di luar angkasa.
Gelombang kritik terhadap Elon Musk
Kritik terhadap Elon Musk tidak hanya muncul terkait IPO SpaceX. Pada Kamis (11/6/2026), sekelompok orang juga berkumpul di Times Square dan memajang patung sindiran terhadap miliarder tersebut.
Aksi itu menyoroti chatbot AI milik Elon Musk, Grok, yang dituding menghasilkan konten pornografi anak. Sejumlah wisatawan terlihat berhenti untuk melihat dan mengambil gambar instalasi tersebut.
Sementara itu, demonstrasi di depan kantor JPMorgan pada Jumat (12/6/2026) diorganisasi oleh kelompok Stop Funding Billionaires. Pihak JPMorgan menolak memberikan komentar terkait aksi tersebut.
Menjelang aksi berakhir, hanya tersisa sedikit lebih dari 20 orang di lokasi. Salah seorang penyelenggara, Jonathan Westin, menilai IPO SpaceX menjadi gambaran mengenai masalah yang tengah dihadapi perekonomian saat ini.
"Kami merasa hidup di masa ketika uang para pekerja biasa diinvestasikan ke dalam mimpi-mimpi liar dan imajiner dari kalangan miliarder, industri AI, dan perusahaan teknologi. Mereka menjual rencana yang mungkin tidak pernah menjadi kenyataan," ujar Westin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang