Bisnis.com, MAKASSAR - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. terus memperluas jangkauan penetrasi pasarnya di sektor pembiayaan pelaku usaha mikro dan ultra mikro.
Perseroan mencatat masih terdapat sedikitnya 8 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sama sekali belum pernah mendapatkan akses perbankan (unbankable), dengan porsi signifikan berada di kawasan timur Indonesia.
Guna menangkap potensi tersebut, BRI bakal mengakselerasi penyaluran kredit secara masif melalui ekosistem Holding Ultra Mikro (UMi).
Langkah ini diambil tidak hanya sebagai upaya mempermudah inklusi keuangan dan membebaskan pelaku usaha dari jerat lembaga nonformal, melainkan juga guna memperlebar pangsa pasar holding bentukan BUMN tersebut.
RCEO BRI Regional 15 Makassar Argo Prabowo mengemukakan bahwa hingga saat ini market share dari Holding UMi BRI Group sebenarnya telah mendominasi pasar domestik.
Infrastruktur bersama dengan PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) tersebut diklaim telah menguasai sekitar 60% pangsa pasar.
"Secara nasional, Holding UMi saat ini telah menjangkau sekitar 32 juta debitur mikro dan ultra mikro. Namun demikian, ruang pertumbuhan di segmen ini dinilai masih terbuka sangat lebar seiring masih tingginya ketergantungan pelaku usaha kecil pada sumber pembiayaan nonformal," ujarnya kepada Bisnis, Senin (29/6/2026).
Berdasarkan pemetaan, pola pembiayaan dari lembaga keuangan informal nonbank masih marak dijumpai pada wilayah kerja Regional 15 Makassar yang membawahi empat provinsi strategis di Indonesia Timur, meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
Argo memaparkan kondisi struktural pembiayaan di wilayahnya masih menunjukkan tingginya ketergantungan modal dari lingkaran terdekat, maupun lembaga keuangan ilegal penarik margin tinggi yang memberatkan usaha masyarakat di segmen bottom of the pyramid.
"Kalau kita lihat data, saat ini masih ada sekitar 4% UMKM yang terpaksa menggantungkan pembiayaannya dari keluarga atau teman, kemudian dari rentenir menyerap 2%, bahkan ada 18% yang belum terlayani kredit sama sekali. Kondisi ini sering kita jumpai di wilayah timur, dan itulah yang akan kami sasar secara melalui optimalisasi Holding UMi," tegas Argo.
Senada, Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar Iwan Suprianto memerinci bahwa kondisi secara nasional mencatat ada sekitar 51 juta total pelaku usaha ultra mikro yang masih membutuhkan tambahan modal kerja. Dari total basis data pelaku usaha tersebut, sebanyak 32 juta pelaku usaha telah terakomodasi dalam jangkauan formal Holding UMi BRI Group.
Sementara itu, sekitar 11 juta pelaku usaha masih terjebak pada skema informal termasuk di dalamnya fintech peer-to-peer (P2P) lending berbiaya tinggi, koperasi tidak sehat, serta rentenir. Adapun sisa 8 juta lainnya sama sekali terisolasi dari akses perbankan.
Kendati potensi pasar yang ditawarkan sangat menggiurkan, manajemen BRI tidak menampik adanya tantangan operasional yang kian mengetat di lapangan. Akselerasi ekspansi ke segmen ultra mikro ini dipastikan akan berhadapan langsung dengan jumlah kompetitor yang membidik target pasar serupa.
Akselerasi pemain lembaga keuangan konvensional maupun modern terdeteksi mulai agresif merangsek ke segmen unbankable ini dengan menawarkan penetrasi layanan yang cepat dan integrasi yang mudah.
Kompetitor tersebut datang dari penetrasi Bank Perkreditan Rakyat (BPR), ekspansi unit mikro bank umum lainnya, koperasi simpan pinjam regional, hingga penetrasi agresif tekfin pendanaan bersama (P2P lending).
"Integrasi layanan co-location milik holding kami yakin akan menjadi senjata pamungkas dalam menghadirkan efisiensi cost of fund, kecepatan proses, serta kemudahan akses bagi para pelaku UMKM, sekaligus menjadi motor baru pertumbuhan bisnis berkelanjutan perbankan nasional," papar Iwan.