Bisnis.com, PADANG — Pukul 07.00 WIB, matahari baru naik menerangi bumi, Nia sudah berdiri di depan rumah impiannya di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat. Berpakaian muslimah, dia berjalan menuju pangkalan ojek, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus di jalur utama. Empat puluh menit perjalanan setiap pagi bukan lagi beban. Sebab kini, dia pulang ke rumah miliknya sendiri.
Nia kini berusia 29 tahun, bekerja di sebuah salon di Kota Padang. Gajinya rata-rata Rp1.800.000 per bulan. Tidak besar, bahkan mungkin tergolong pas-pasan di era sekarang. Namun pada Mei 2025, dia membuat keputusan besar, mengambil rumah KPR bersubsidi dekat dari Bandara Internasional Minangkabau.
Keputusan itu lahir dari kelelahan. Bertahun-tahun dia membayar kontrakan Rp12 juta per tahun. “Kalau dihitung, hampir Rp1 juta per bulan. Habis begitu saja,” ujarnya pelan, Selasa (3/3/2026).
Saat mengetahui ada KPR bersubsidi dengan cicilan Rp1 juta per bulan, pikirannya sederhana, daripada membayar sewa, lebih baik membayar sesuatu yang kelak menjadi miliknya selamanya.
Rumah itu tidak besar. Minimalis, bersih, dengan dinding yang masih beraroma cat baru. Namun bagi Nia, itulah simbol kemandirian. Halaman kecilnya dia rawat sendiri. Pot-pot tanaman mulai berjajar di teras. Di ruang tamu, perabot tertata sederhana. Tenang. Hangat.
Di rumah itu, dia tinggal bersama tantenya, Nani. Perempuan yang belum menikah itu menjadi sandaran sekaligus teman berbagi mimpi. “Rumah ini punya Nia. Saya cuma menemani supaya dia tidak sendirian,” kata Nani sambil tersenyum.
Dia berjualan produk secara online untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Kesepakatannya jelas, Nia fokus membayar cicilan KPR, sementara urusan dapur dan kebutuhan rumah tangga ditanggung dari hasil jualan secara online tersebut.
Gotong royong dalam lingkup kecil keluarga itu menjadi fondasi keberanian Nia. Dari gajinya, sekitar 70% habis untuk cicilan. Sisanya nyaris tak banyak. Tapi semangatnya justru terasa berlipat. Baginya, rumah adalah masa depan.
Keberanian Nia mengambil KPR bukan perkara sederhana, karena ini adalah pengalaman kredit pertamanya, dan langsung untuk rumah. Dia sempat mendengar cerita bahwa pengajuan KPR rumit, banyak syarat, hingga soal pengecekan riwayat kredit oleh Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK) yang kerap menjadi momok.
Namun proses yang dia jalani bersama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terasa berbeda. Persyaratan dilengkapi, catatan kreditnya bersih, dan pengajuan berjalan lancar. “Saya bersyukur tidak dipersulit,” katanya.
Kemudahan itu tak berhenti di proses akad. Untuk membayar cicilan, Nia tidak perlu datang ke kantor cabang. Cukup membuka aplikasi Bale by BTN di ponselnya, angsuran bisa dibayar kapan saja dan di mana saja. Bahkan, transaksi belanja pun kini dia lakukan melalui aplikasi yang sama. Digitalisasi membuatnya lebih praktis, tanpa mengurangi rasa aman.
Hampir satu tahun tinggal di rumah itu, Nia mengaku lebih tenang. Dia memang masih harus berjuang, dan dia sadar, dengan penghasilan saat ini, ruang geraknya terbatas. Karena itu, dia bercita-cita mencari pekerjaan yang lebih baik agar pendapatannya meningkat. “Biar nanti bisa menabung juga,” sebutnya.
Kisah Nia adalah satu dari jutaan cerita akses kepemilikan rumah di Indonesia. Sejak meluncurkan KPR pada 1976 hingga Desember 2025, BTN mencatat total penyaluran kredit perumahan mencapai 5,97 juta unit dengan nilai kumulatif Rp555,11 triliun. Angka yang bukan sekadar statistik, melainkan deretan keluarga yang akhirnya memiliki hunian layak.
Pada Januari 2026 saja, realisasi penyaluran KPR Sejahtera FLPP mencapai 6.749 unit. Sepanjang 2025, jumlahnya menembus 192.208 unit. Capaian tersebut menegaskan peran strategis BTN dalam mendukung pembiayaan sektor perumahan nasional, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Berdasarkan keterangan Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu pada pemberitaan Bisniscom sebelumnya bahwa pembiayaan perumahan memiliki efek berganda terhadap industri konstruksi, bahan bangunan, hingga penyerapan tenaga kerja.
"Ke depan, fokus pembiayaan tetap diarahkan pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah, sejalan dengan komitmen memperluas akses hunian terjangkau,"ujarnya.
Namun dibalik angka triliunan rupiah itu, ada cerita seperti Nia. Tentang seorang perempuan muda yang setiap pagi menempuh perjalanan 40 menit demi mempertahankan mimpinya. Tentang tante yang rela berbagi tanggung jawab agar keponakannya memiliki masa depan lebih pasti.
Rumah itu mungkin sederhana. Tapi di dalamnya tersimpan keberanian, kerja keras, dan keyakinan bahwa masa depan bisa diperjuangkan, bahkan dengan gaji Rp1,8 juta per bulan, dan setiap kali Nia menutup pintu rumahnya di malam hari, dia tahu satu hal, lelahnya hari ini tidak lagi sia-sia. Sebab dia tidak sekadar membayar cicilan, tapi dia sedang mencicil masa depan yang nan indah.