JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bach Multi Global Tbk (BMG) bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Perseroan membidik dana segar maksimal Rp 307,5 miliar untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung ekspansi bisnis di sektor genset serta infrastruktur telekomunikasi.
Dalam prospektus awal IPOBach yang diterbitkan pada Senin (22/6/2026), BMG menawarkan sebanyak 615 juta saham baru atau setara 15,06 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
PEXELS/HANNA PAD Ilustrasi saham, pasar saham, bursa saham.Saham tersebut ditawarkan dengan kisaran harga Rp 400 hingga Rp 500 per saham.
Dengan rentang harga tersebut, perseroan berpotensi menghimpun dana sebesar Rp 246 miliar hingga Rp 307,5 miliar dari pasar modal.
Seluruh saham yang ditawarkan merupakan saham baru yang dikeluarkan dari portepel perseroan dan akan dicatatkan di BEI.
Masa penawaran awal (bookbuilding) berlangsung pada 22 sampai 24 Juni 2026.
Perseroan memperkirakan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 Juni 2026, sementara masa penawaran umum dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 3 Juli 2026 dan pencatatan saham di BEI pada 7 Juli 2026.
Perseroan menyampaikan, pernyataan pendaftaran IPO telah diajukan ke OJK pada 16 Maret 2026. Selain itu, BEI juga telah memberikan persetujuan prinsip pencatatan saham melalui surat tertanggal 12 Juni 2026.
Namun, apabila persyaratan pencatatan saham tidak terpenuhi, maka IPO tersebut batal demi hukum dan dana pemesanan saham wajib dikembalikan kepada investor sesuai ketentuan yang berlaku.
PEXELS/IAM HOGIR Ilustrasi saham, pasar saham.Dana IPO Bach untuk bayar utang dan modal kerja
Sebagian dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan untuk memperkuat kondisi keuangan perseroan.
Dalam prospektus disebutkan, sekitar Rp 91,02 miliar akan digunakan untuk membayar sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas pinjaman jangka panjang berupa Omnibus Revolving Loan yang ditarik pada Januari hingga Maret 2026.
Sementara itu, sisa dana sekitar Rp 213,48 miliar akan dialokasikan sebagai modal kerja. Dana tersebut digunakan untuk pembayaran kepada pemasok dalam rangka pembelian genset yang akan dijual maupun disewakan oleh perseroan.
Jalankan dua lini bisnis utama
PT Bach Multi Global merupakan perusahaan yang berkedudukan di Jakarta Pusat dan didirikan pada 2006. Saat ini, perseroan menjalankan dua kegiatan usaha utama, yakni penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
Dalam prospektus, perseroan menyebut prospek kedua lini bisnis tersebut masih positif dan berkelanjutan.
Pada bisnis genset, pasar Indonesia disebut menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Nilai pasar genset nasional pada 2024 tercatat sebesar 679,46 juta dollar AS dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,76 miliar dollar AS pada 2035 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 9,09 persen.
Menurut perseroan, pertumbuhan pasar tersebut didorong oleh meningkatnya kebutuhan pasokan listrik yang andal seiring pembangunan infrastruktur nasional, ekspansi sektor industri, serta belum meratanya kualitas jaringan listrik di sejumlah wilayah Indonesia.
Kebutuhan pasar juga didominasi genset berbahan bakar diesel, genset sebagai sumber listrik cadangan, serta unit berkapasitas kecil hingga menengah yang sejalan dengan kegiatan usaha perseroan.
Shutterstock Ilustrasi kawasan industri.Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendorong pembangunan kawasan industri, proyek infrastruktur strategis, dan hilirisasi mineral disebut menciptakan kebutuhan berkelanjutan terhadap genset sebagai sumber pembangkit listrik mandiri, terutama di lokasi proyek maupun kawasan industri yang belum terjangkau jaringan listrik utama.
Perseroan juga melihat peluang dari pertumbuhan sektor telekomunikasi dan ekonomi digital.
Pembangunan pusat data (data center) serta perluasan jaringan telekomunikasi dinilai meningkatkan kebutuhan terhadap sistem kelistrikan dengan tingkat keandalan tinggi sehingga memperkuat peran genset sebagai komponen penting dalam operasional.
Prospek infrastruktur telekomunikasi masih tumbuh
Di sisi lain, bisnis jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi juga dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.
Perseroan menyebut permintaan terhadap infrastruktur telekomunikasi, khususnya menara telekomunikasi, diperkirakan tetap kuat seiring peningkatan penetrasi internet, pertumbuhan konsumsi data, serta pengembangan dan peningkatan kapasitas jaringan 4G dan 5G.
Pasar menara telekomunikasi Indonesia diperkirakan memiliki nilai sekitar 1,87 miliar dollar AS pada 2026 dan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sekitar 4,13 persen hingga 2031.
Permintaan tersebut mencerminkan kebutuhan berkelanjutan terhadap pembangunan, penguatan, dan pemeliharaan infrastruktur fisik jaringan telekomunikasi, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Untuk mendukung pengembangan bisnis tersebut, perseroan mendirikan entitas anak PT Bach Multi Infrastruktur (BMI) yang bergerak di bidang jasa konstruksi infrastruktur telekomunikasi.
Melalui entitas tersebut, perseroan menjalankan dua kegiatan usaha utamanya secara terintegrasi, yakni penjualan dan penyewaan genset serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi.
WIKIMEDIA COMMONS/JACEK HALICKI Ilustrasi menara BTS (Base Transceiver Station).Jadi bagian grup Sarana Menara Nusantara
Sejak Juli 2023, Bach Multi Global telah menjadi bagian dari grup perusahaan infrastruktur digital independen di Indonesia.
Hingga September 2025 grup tersebut memiliki dan mengoperasikan sekitar 36.049 menara telekomunikasi serta sekitar 170.500 kilometer jaringan fiber optik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi, yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk.
Sementara itu, sebelum IPO, pemegang saham terbesar perseroan adalah PT Bach Multi Sukses Investama dengan kepemilikan 61,55 persen, diikuti PT Global Telekomunikasi Prima sebesar 30 persen. Setelah IPO, porsi kepemilikan masyarakat diperkirakan mencapai 15,06 persen.
Dalam prospektus juga diungkapkan bahwa pada 7 Januari 2026, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) dan PT Bach Multi Sukses Investama (BMSI) menandatangani perjanjian opsi yang memberikan hak kepada GTP untuk meningkatkan kepemilikannya menjadi 51 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah IPO.
Pada 13 Maret 2026, GTP telah menyampaikan pemberitahuan tertulis untuk melaksanakan hak opsi tersebut dengan meminta BMSI menjual 1,04 miliar saham miliknya.
Transaksi tersebut akan diselesaikan paling lambat lima hari kerja setelah pencatatan saham di BEI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang