Bisnis.com, JAKARTA - Mengetahui kondisi tubuh Anda bisa membantu kesehatan sekaligus memprediksi risiko penyakit dalam tubuh.
Karena itu, selain rutin medical check up, setiap orang juga harus mengecek kesehatannya, mulai dari body composition, muscle fat hingga obesity analysis termasuk wellness age atau usia kebugaran.
Safrina Luthfia Aila selaku Nutritionist menjelaskan untuk mengetahui wellness age, ada beberapa indikator yang harus dilihat, mulai dari body composition, mobility, balance, bahkan cek kognitifnya juga.
“Jadi, dari mind, strength, dan juga cardio. Kalau kita lihat skornya dr. Ria sangat bagus. Beliau berusia di atas 40 tahun, tapi wellness age 34 tahun,” ucap wanita yang akrab disapa Aila ini.
Terkait makanan yang dikonsumsi, menurut Aila tergantung dari kebutuhan setiap orang.
Jadi harus tahu kebutuhannya apa. Karena kelebihan berat badan, itu biasanya karena gaya hidup. Jadi yang dikonsumsi pasti lebih dari yang dibutuhkan tubuh.
Misalnya, jika ingin menaikkan massa otot, kebutuhan pasti dari protein. Tapi jika overweight, maka ukuran kebutuhan makanan disesuaikan dengan berat badan ideal.
dr Ria Lestari selaku Sports Medicine Physician & Hybrid Athlete mengatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian, dengan memiliki massa otot, kita semakin umur panjang. Tujuannya ketika memasuki usia lanjut kita tidak ingin kehilangan massa otot.
Untuk menjaga massa otot, katanya, hanya dua cara, melalui olahraga dan asupan protein yang seimbang.
“Karena itu, dalam konteks longevity, saya selalu tekan harus kuat dulu tubuhnya, baru bisa berumur panjang. Jadi strong dulu, baru long,” ucapnya.
Dalam konteks tubuh yang kuat dan berumur panjang, tidak hanya saat berolahraga tapi memiliki kekuatan dalam aktivitas sehari-hari.
Misalnya sudah seharian bekerja tapi saat naik tangga, tidak ngos-ngosan. Atau mampu mengangkat gallon air sendiri. Lalu saat masa tua, masih bisa jalan tanpa tongkat atau pun menggendong cucu dengan nyaman. Dengan mobilitas tinggi, artinya kita mandiri dan mampu.
Terkait massa otot, hal umum yang sering dialami adalah punggung bawah yang sering sakit. Hal ini terjadi karena ototnya yang kurang dilatih. Contoh kasus orangtua yang jatuh, itu karena mereka kehilangan keseimbangan. Sederhananya mereka tidak punya massa otot lagi. Karena itu, otot harus dijaga supaya bisa sampai tua memiliki massa otot yang bagus.
Selain massa otot, hal lain yang menjadi masalah umum adalah kelebihan berat badan, dan biasanya akan stres saat berat badannya tidak turun. Namun, dr Ria mengingatkan jangan terpaku hanya sama berat badan tapi harus melihat komposisi.
“Karena di dalam tubuh kita ada tulang, air, otot, juga lemak,” ucapnya.
Karena itu, agar bisa memiliki berat badan ideal yang perlu diperhatikan adalah asupan makanan dan cara mengelola stres.
Menurutnya, jika telah overweight, hanya satu jurusnya yakni defisit kalori. Artinya, makanan yang masuk itu harus kurang dari kebutuhan kalori hariannya atau calorie expenditure-nya diperbanyak. Jadi tinggal dipilih, olahraga yang ditambah atau kalori yang dikurangi. Atau kombinasi keduanya.
Untuk atasi stress, dr Ria punya rumus tersendiri. Stres tidak bisa dihindari tapi bisa di-manage. Setiap orang punya cara mengelola stress. Ada yang journaling, ada yang menggambar dan ada juga yang olahraga.
Selain berat badan, hal lain yang dr. Ria soroti adalah massa lemak tubuh dan presentasenya. Untuk perempuan massa lemak yang bagus di bawah 30% dan pria di bawah 20%.
Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan biologis, hormon, dan distribusi lemak tubuh. Faktor biologis yang membedakan, mulai dari hormon seks. Estrogen pada wanita meningkatkan penyimpanan lemak di area pinggul dan paha, sedangkan pria cenderung menyimpan lemak di perut akibat pengaruh testosteron.
Lalu, distribusi lemak, yakni wanita lebih banyak memiliki lemak gluteal-femoral (pinggul & paha) yang cenderung melindungi dari risiko penyakit metabolik. Pria lebih sering mengalami obesitas sentral (perut), yang meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung.
Untuk fungsi biologis, lemak tubuh wanita berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon reproduksi dan mendukung kehamilan.
Terkait tingkat lemak visceral, yakni jumlah lemak yang terakumulasi di sekitar organ dalam, yang dapat mempengaruhi kesehatan secara signifikan.
“Jika lemak visceral kita tinggi, berpotensi risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke,” kata dr Ria.
Karena itu, skala lemak visceral yang dianggap normal atau sehat di bawah 10 persen. Menurut dr Ria, lemak tetap dibutuhkan tubuh tapi tidak boleh berlebihan.
dr Ria membagi resep sehatnya. Yakni koonsumsi air putih 2-2,5 liter per hari, konsumsi suplemen, creatine, omega 3 dan vitamin D.
dr. Ria mengingatkan, jika baru mau memulai olahraga, ikuti saja anjuran dari World Health Organization (WHO). WHO menganjurkan agar orang dewasa berusia 18-64 tahun melakukan aktivitas fisik intensitas sedang minimal 150-300 menit per minggu, seperti jalan cepat, bersepeda santai, berenang, hingga senam aerobik.
“Membangun pola hidup sehat, harus konsisten dengan membangun sistem. Jika sistem jalan, maka kebiasaan baik akan tercipta. Misalnya nih, saya lagi malas olahraga, tapi saya ciptakan kebiasaan, misalnya satu hari sebelum olahraga, saya sudah siapkan baju, sepatu dan kebutuhan olahraga lainnya. Jadi saat bangun pagi, meski malas, tapi melihat semua hal telah dipersiapkan, akhirnya saya tetap berolahraga,” ungkapnya membagi tips.
Dalam rangka kebutuhan tersebut, Precision Gym & Wellness menggelar Longevity Talks dengan tema Longevity Blueprint: Discover The Everyday Habits That Truly Matter & Gain Deeper Insights Into Your Body.
General Manager Precision Gym & Wellness, Adhillah Shofi, menyampaikan bahwa event ini merupakan bagian dari wellness campaign Precision dalam membangun ekosistem kesehatan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Ke depannya berencana menjadikan program ini sebagai agenda rutin.
“Harapan kami, Precision dapat menjadi tempat yang mendampingi perjalanan kesehatan seseorang secara lebih holistik, membantu mereka hidup lebih sehat dan kuat, pulih lebih baik, dan tetap memiliki kualitas hidup yang optimal seiring bertambahnya usia,” pungkasnya.