D Gallerie di Jakarta Selatan menggelar pameran "Food for Thought" hingga 18 April 2026, mengubah seni menjadi hidangan visual. Pameran ini menampilkan 40 karya dari seniman Indonesia, menga [672] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Memasuki D Gallerie di kawasan Jakarta Selatan, publik seolah diajak memasuki restoran eksperimental di mana seni diperlakukan seperti hidangan kuliner yang memanjakan mata.
Di tengah ruang, sebuah meja berkain putih menampilkan toples berisi permen berperisa susu, es krim yang mulai meleleh, dan tumpukan kue keberuntungan dengan krim vanila.
Inilah inti dari pameran Food for Thought, yang berlangsung hingga 18 April 2026, menampilkan puluhan seniman Tanah Air yang mengajak publik memikirkan konsumsi sebagai medium untuk memahami seni.
Senarai karya di atas meja itu merupakan bagian dari plating atau cara makanan disajikan. Tidak ada karya dengan fokus tunggal; mata pengunjung bebas bergerak, memilih “hidangan” mereka sendiri.
Simak saja karya bertajuk Mini La Luna Party karya Jayanto Tan. Bongkahan es krim cone bertabur meses bermedium keramik yang bersanding dengan cookies ditata laiknya perayaan kecil yang intim.
Di sebelahnya terdapat instalasi Candy Crush karya Eunice Nuh Tantero yang mengurai bagaimana memori disimpan dan diwariskan. Lewat toples-toples kaca, publik diajak mengenang manisnya permen di masa kecil.
Total, pameran ini menyajikan 40 karya seni dengan berbagai medium, baik dwimatra maupun trimatra, yang dibagi ke dalam enam lapis pembabakan: Ingredients, Appetizer, Main Course, Dessert, Plating, dan Aftertaste.
Dari Bahan Mentah Hingga Hidangan Utama
Pada bagian Ingredients, publik akan bertemu dengan karya-karya yang menonjolkan materialitas, seperti lukisan dengan tekstur yang masih terasa mentah. Salah satunya Sebelum Lengkap (2025) karya Friski Jayantoro.
Karya ini menghadirkan kolase garam yodium sebagai hasil dari proses berulang. Berlatar hitam, tampak metafora retakan tanah dengan kilau putih kristal garam yang membentuk ritme visual tenang namun konsisten.
Ada pula lukisan Bawang Merah (2020) karya Michelle Sutanto. Berdimensi 70 x 50 sentimeter, karya ini menempatkan bahan dapur sebagai penanda identitas dan ingatan melalui penggambaran bawang merah yang detail.
Beranjak ke bagian Main Course, isu yang diolah menjadi lebih kompleks, mulai dari konsumsi, kelas, hingga ekonomi simbolik seni dan konstruksi nilai. Pada lapisan ini, karya tidak lagi netral, melainkan dipertanyakan melalui kritik maupun parodi.
Seniman asal Bali, I Gede Sukarya salah satunya, menghadirkan lukisan Jamuan Awal (2026) di atas kulit sapi. Melalui karya ini, dia menafsir ulang The Last Supper ke dalam konteks kebersamaan yang lebih akrab dan membumi.
Di bagian bawah adegan meja makan, Sukarya melukis ikon-ikon hewan seperti yang biasa ditemukan pada spanduk warung pecel lele. Sementara itu, para subjek tampak bercakap-cakap dalam suasana pertemuan sosial yang cair dan tanpa hierarki.
Dari segi material, penggunaan kulit sapi sebagai medium juga telah lama dikenal di Bali. Dalam tradisi setempat, material ini kerap digunakan sebagai ornamen dalam budaya visual Barong, atribut penari, hingga wayang.
“Aku menggunakan material kulit sapi ini sejak 2018. Ini terinspirasi dari tradisi Aci Bulu Geles di desaku, Bulian, Bali. Eksplorasi itu aku mulai lewat karya wayang beber berjudul Kumbakarna. Dari sinilah akhirnya berlanjut,” tuturnya.
Dapur di Balik Karya Seni
Tak ada yang benar-benar instan di dapur. Bahkan untuk sepiring hidangan sederhana, ada proses memilih bahan, mencoba, gagal, lalu memperbaiki rasa. Dalam Food for Thought, logika yang sama dipakai untuk membaca seni rupa.
Kurator Wina Luthfiyya mengatakan pameran ini menggabungkan pengalaman sehari-hari dengan praktik seni. Karya-karya yang ditampilkan juga berupaya menggeser fokus dari apa yang dilihat publik menjadi bagaimana sesuatu terjadi.
Dalam proses konsumsi, yang tersaji hanyalah hasil akhir dari kerja panjang di balik dapur. Namun proses tersebut kerap luput dari perhatian, sementara konsumen tinggal menikmati hidangan yang tersaji di meja.
“Begitu pula seni rupa. Yang terlihat adalah hasil akhir karya, bukan bagaimana dia dipilih, diolah, diuji, dan diberi nilai,” katanya.
1774964628_90e6d0f4-7b16-4dc3-8403-860f3d8f2a00.
Refleksi ini juga hadir dalam seri Food Monster Project karya Mangmoel bertajuk Nenek Mamasa (2025). Menggunakan medium akrilik di atas kanvas, seniman asal Bandung ini menghadirkan hidangan tradisional dalam bentuk jenaka dan antropomorfik.
Berbeda dengan seri sebelumnya yang hadir dalam bentuk rajutan, kali ini Mangmoel bereksperimen dengan medium lukis. Karyanya menghadirkan kesan lembut sekaligus reflektif tentang kehidupan, spiritualitas, dan relasi manusia.
“Saya memang sedang mengeksplorasi berbagai medium, mulai dari lego hingga keramik. Tahun lalu saya juga residensi di Bali untuk kemudian membuat karya di atas kanvas,” katanya.