Bisnis.com, JAKARTA - Tahun 2025 tak juga menjadi tahun yang aman dari penyakit. Berbagai kedaruratan penyakit masih terjadi, yang mengintai kesehatan masyarakat, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia.
Sepanjang tahun ini, tingkat kesehatan masyarakat Indonesia membaik dengan semakin meningkatnya tren hidup sehat dan olahraga, dengan berbagai tren olahraga baru seperti lari, pilates, dan padel.
Namun, di sisi lain masyarakat Indonesia masih menghadapi beberapa penyakit yang sudah menyebar dari tahun-tahun sebelumnya seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), Influenza, Demam Berdarah, hingga cacar api.
Ada pula beberapa penyakit tidak menular juga masih menjadi sorotan pemerintah, seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, diabetes, stunting dan termasuk obesitas.
Berikut ini adalah berbagai penyakit yang menyebar sepanjang 2025:
1. HMPV
Di awal tahun, dunia digegerkan dengan penyebaran virus Human Metapneumovirus (HMPV), yang tersebar di China. Hal ini kembali menimbulkan kekhawatiran akan kembali terjadinya pandemi.
HMPV sendiri dapat menimbulkan gejala seperti flu, dan menyebabkan gejala seperti batuk, demam, hidung meler dan tersumbat.
Namun, Kementerian Kesehatan menyebutkan tak sampai ada kasus masuk ke Indonesia dan menegaskan bahwa penyakit ini tak perlu dikhawatirkan karena sudah beredar di berbagai belahan dunia sejak lama.
2. ISPA Akut
Di sepanjang tahun 2025, kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) akut terus meningkat, bahkan hingga mencapai hampir 2 juta kasus. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri, yang umum dialami anak-anak hingga orang dewasa.
Selain cuaca hujan di awal tahun, cuaca kering dan tingginya polusi di pertengahan tahun juga turut menjadi penyebab peningkatan kasus ISPA.
3. Cacar Api
Pada 2025, edukasi dan pengenalan mengenai risiko dan penyebab cacar api semakin digencarkan, mengingat dampaknya bagi kualitas hidup penderitanya yang bisa terjadi dalam jangka panjang.
Cacar api atau Herpes Zoster adalah penyakit umum yang dapat menyerang individu yang sebelumnya pernah menderita cacar air, yang disebabkan oleh virus reaktivasi virus Varicella-Zoster (VZV), virus yang sama yang menyebabkan cacar air.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 di Indonesia, lebih dari 60 juta penduduk terdiri dari kelompok usia di atas 50 tahun.
4. Obesitas
Tahun ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi menjadikan obesitas sebagai golongan penyakit. Hal ini melihat trennya yang semakin meningkat.
Di Indonesia saja, tercatat hampir satu dari empat orang dewasa (23,4%) mengalami obesitas. Adapun, secara global, saat ini ada lebih dari 890 juta orang dewasa hidup dengan obesitas dan 2,5 miliar orang mengalami kelebihan berat badan.
Obesitas kini tak lagi dianggap sekadar kelebihan berat badan, melainkan menjadi penyebab penyakit tidak menular, termasuk diabetes, penyakit kardiovaskular, kanker, dan gangguan pernapasan.
Penyakit-penyakit ini menyebabkan 75% dari seluruh kematian di dunia, dengan obesitas menjadi salah satu faktor risiko utamanya.
Oleh karena itu, WHO juga menyarankan penanganan obesitas tak hanya dengan perubahan pola makan dan hidup sehat, tapi juga dengan obat-obatan.
5. Hipertensi, Diabetes, Kolesterol, dan Stroke di Usia Muda
Meskipun tren olahraga makin semarak di kalangan anak muda, tapi tetap tak melepas kemungkinan empat penyakit silent killer ini untuk menyerang kelompok usia yang lebih muda.
Hal ini disebabkan oleh gaya hidup dan jenis makanan yang ada saat ini lebih banyak ultra proses atau dimasak berulang-ulang sehingga menimbulkan berbagai penyakit berbahaya di kelompok usia yang lebih muda.
Kaleidoskop 2025: 8 Penyakit Orang Indonesia Sepanjang Tahun
6. Evali
Saat ini di Indonesia, penggunaan rokok elektrik atau vape semakin banyak. Alat tersebut sering disalahgunakan sebagai pengganti rokok, padahal bahayanya tak jauh berbeda.
Berdasarkan data Global Adult Tobacco Survey bahwa pengguna rokok elektronik di usia 15 tahun ke atas meningkat 13 kali lipat dari 480.000 pengguna pada 2011, menjadi 6,6 juta pengguna pada 2021.
Padahal, di dalam rokok elektronik juga mengandung bahan-bahan berbahaya yang turut memicu adiksi atau ketagihan, dan menyebabkan ekrusakan pada paru hingga kanker, seperti nikotin, formalin, dan berbagai karsinogen.
Salah satu dampak dari penggunaan rokok elektronik adalah penyakit Evali, yang merupakan kependekan dari E-cigarette or Vaping use-Associated Lung Injury, atau kerusakan paru terkait dengan penggunaan rokok elektronik dan vaping.
Evali menyebabkan kondisi peradangan paru-paru serius yang sering kali memerlukan rawat inap bahkan menyebabkan kematian. Pada 2019-2020, penyakit ini menjadi penyebab 68 kematian. Penyebabnya disebutkan termasuk zat kimia tertentu dalam produk vape.
Evali merupakan penyakit paru yang serius. Sekitar 90% kasus Evali yang dilaporkan memerlukan rawat inap. Hingga awal 2020, Evali bertanggung jawab atas hampir 3.000 rawat inap dan hampir 70 kematian.
7. Virus RSV
Selain virus penyebab flu yang banyak beredar, salah satu virus yang paling dikhawatirkan adalah paparan RSV (Respiratory Syncytial Virus), yang mematikan.
Tak seperti virus penyebab flu yang umum, virus RSV ini diwaspadai karena mengancam dua generasi, yaitu bayi dan lansia, dan belum ada obat yang bisa menghilangkan virus ini.
Berdasarkan data The Lancet sampai dengan 2022, ada sekitar 6,6 juta kasus Respiratory Syncytial Virus (RSV) terjadi setiap tahun pada bayi di bawah enam bulan di seluruh dunia, dengan 45.000 kematian akibat komplikasinya.
Gejala RSV umumnya mirip dengan gejala flu pada orang dengan imun tubuh yang baik, seperti hidung tersumbat, demam, batuk, mengi, dan sesak napas. Namun, pada kelompok rentan, yakni bayi dan lansia memiliki perbedaan, yang bisa membawa kepada keparahan.
Virus ini juga banyak mengidap anak bayi baru lahir, yang belum bisa menerima pencegahan berupa vaksin. Selain itu, apabila diidap oleh ibu hamil, RSV juga dapat menyebabkan bayi lahir prematur, yang pada akhirnya dapat mengganggu tumbuh kembang bayi.
Hal ini menekankan pentingnya upaya pencegahan dengan vaksinasi, yang bisa dimulai bahkan sejak masa kehamilan.
8. Influenza
Menuju akhir tahun, banyak orang akan melakukan perjalanan jauh, baik pergi berlibur atau pun melakukan perjalanan ibadah. Salah satu penyakit yang harus dihindari adalah influenza.
Sering disepelekan, influenza berbeda dengan batuk pilek biasa, karena bisa mematikan. Terlebih, di Indonesia sebagai negara tropis, infeksi virus penyebab influenza bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun. Pada anak-anak, tidak sedikit peningkatan kasus juga membuat lonjakan rawat inap dan membuat layanan rumah sakit penuh.
Penularan influenza bisa terjadi seperti virus pada umumnya, yakni melalui droplet, lewat kontak langsung dengan cairan yang keluar dari hidung dan mulut saat batuk, bersin, atau berbicara. Secepat kilat, influenza bisa menular dari satu orang ke dua atau tiga orang di sekitarnya.
Selain menyebabkan gejala di atas, influenza yang tidak ditangani juga dapat menyebabkan komplikasi yang berat, bahkan bisa sampai terjadi gagal ginjal, gagal hati, atau gagal liver, bahkan mengacam jiwa.
Virus influenza yang paling sering menjadi penyebab sakit adalah Influenza B dan C yang umumnya menimbulkan gejala ringan. Namun, ada pula influenza A, yang bisa berupa H1N1 atau H3N2 yang sering berubah, sehingga kebutuhan vaksinnya akan berbeda setiap tahun.
Influenza sendiri masih menjadi salah satu penyebab pneumonia atau radang paru terbesar, terutama pada anak-anak. Penyakit ini juga bisa menyerang seluruh usia, dan yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, pasien dengan penyakit komorbid, serta ibu hamil.