Bisnis.com, JAKARTA — Prospek kinerja emiten perkebunan dengan eksposur besar di Indonesia dinilai makin tertekan di tengah kombinasi beban fiskal yang lebih tinggi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan meningkatnya risiko operasional. Kondisi tersebut membuat analis memproyeksikan perusahaan sawit yang berfokus di Malaysia akan lebih unggul.
Salah satu faktor utama berasal dari perbedaan kebijakan fiskal. Malaysia saat ini menerapkan bea ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar 9,5%, lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia yang mencapai 12,5% setelah naik dari 10% untuk mendukung implementasi program biodiesel.
Tekanan juga datang dari sisi nilai tukar. Pelemahan rupiah sekitar 4% terhadap ringgit sejak awal 2026, serta depresiasi sekitar 5% pada kuartal IV/2025, dinilai menekan profitabilitas perusahaan yang memiliki eksposur besar di Indonesia.
Analis Senior Fastmarkets Palm Oil Analytics Sathia Varqa mengatakan perusahaan perkebunan murni Malaysia diperkirakan akan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan emiten yang banyak beroperasi di Indonesia.
“Pemain perkebunan murni Malaysia diperkirakan akan mengungguli,” ujarnya, dikutip dari The Edge, Kamis (9/4/2026).
Selain faktor fiskal dan kurs, risiko regulasi di Indonesia juga dinilai meningkat. Langkah penindakan berupa penyitaan lahan dan pengenaan denda atas dugaan ketidakpatuhan dinilai menambah tekanan terhadap valuasi perusahaan perkebunan.
Analis CIMB Securities Ivy Ng menilai daya tarik pasar Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas.
“Apakah pasar Indonesia tetap menarik atau tidak bergantung pada harga perkebunan,” katanya.
Berdasarkan laporan The Edge, sejumlah emiten dengan eksposur besar di Indonesia telah mencatat pelemahan kinerja. MKH Oil Palm (East Kalimantan) Bhd, yang seluruh operasinya berada di Indonesia, membukukan penurunan laba bersih 70,5% menjadi 9,42 ringgit Malaysia juta pada kuartal IV/2025, seiring dengan penurunan pendapatan 29,3%.
Kinerja serupa juga terjadi pada TSH Resources Bhd, yang sekitar 91% lahannya berada di Indonesia. Perseroan membukukan penurunan laba bersih 53% secara tahunan pada periode yang sama.
Sementara itu, SD Guthrie Bhd mencatat laba operasional dari Indonesia turun 12% sepanjang 2025, berbanding terbalik dengan pertumbuhan yang dibukukan di Malaysia.
Adapun Genting Plantations Bhd juga terdampak. Perseroan membukukan laba bersih hanya 14,14 juta ringgit Malaysia pada kuartal IV/2025, turun tajam dari 112,05 juta ringgit Malaysia pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu antara lain dipengaruhi denda sebesar 97 juta ringgit Malaysia terkait dugaan pelanggaran kawasan hutan.
Di sisi lain, saham-saham perkebunan di Bursa Malaysia masih mencatatkan penguatan, ditopang oleh kenaikan harga CPO serta sentimen positif dari kebijakan biodiesel B50 di Indonesia yang dinilai dapat menopang harga minyak sawit global.
Indeks Perkebunan Bursa Malaysia tercatat naik hampir 14% sejak awal tahun dan menguat 7,8% dalam satu bulan terakhir. Saham berbasis Malaysia memimpin penguatan, di antaranya Sarawak Oil Palms Bhd yang naik 20% sejak awal tahun.
Selain itu, Johor Plantations Group Bhd menguat 18,4% sejak Maret, Ta Ann Holdings Bhd melonjak 34% sejak awal tahun, dan Hap Seng Plantations Holdings Bhd naik 9,9% dalam periode yang sama.
Harga CPO masih menjadi penopang utama sektor ini. Setelah sempat menyentuh level 4.799 ringgit Malaysia per ton, harga CPO kini berada di kisaran 4.557 ringgit Malaysia per ton, masih lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi median analis untuk paruh kedua 2026 sebesar 4.400 ringgit Malaysia per ton.
Hong Leong Investment Bank memperkirakan harga CPO akan bertahan di kisaran 4.500–4.600 ringgit Malaysia per ton pada kuartal II/2026, sebelum berpotensi melandai pada paruh kedua tahun ini.
Dukungan harga juga datang dari arah kebijakan energi global, termasuk standar bahan bakar terbarukan di Amerika Serikat yang berpotensi meningkatkan permintaan terhadap minyak nabati.
Meski demikian, prospek sektor ini masih dibayangi sejumlah risiko. Potensi El Niño dapat menekan produktivitas kebun, sementara gangguan pasokan pupuk akibat ketegangan di Timur Tengah berisiko menahan hasil produksi pada tahun ini.