Bisnis.com, JAKARTA — Perubahan iklim telah memicu terjadinya bencana kebakaran lahan dengan korban jiwa dan kerugian ekonomi jumbo yang lebih sering dan intens dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya, menurut studi terbaru dari University of Tasmania.
Mengutip Bloomberg, studi yang dipublikasi di jurnal Science ini mengungkap bahwa lebih dari 43% kebakaran dengan kerugian ekonomi terbesar sejak 1980 terjadi dalam kurun 10 tahun terakhir.
“Kita kini melihat dampak sosial dari kebakaran yang jauh lebih besar daripada sebelumnya, dan bencana ini dipicu oleh perubahan iklim,” kata Calum Cunningham, research fellow dari Fire Center di University of Tasmania.
Untuk mengukur skala dampak ekonomi yang ditimbulkan dari kebakaran ini, Cunningham dan peneliti lainnya dalam studi ini melihat besaran rasio biaya relatif yang timbul dari kebakaran terhadap PDB. Metris ini dipakai untuk membedakan skala dampak kebakaran di negara maju dan negara berkembang. Para peneliti juga mengukur faktor-faktor apa yang memicu bencana kebakaran yang terjadi, termasuk kemarau atau kekeringan.
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa terdapat 43 peristiwa kebakaran sejak 1980 yang memicu kerugian ekonomi langsung dengan nilai US$1 miliar atau sekitar Rp16,5 triliun, bahkan lebih. Lebih dari separuh kejadian ini bahkan terjadi dalam 10 tahun terakhir.
Sebagian besar kebakaran besar itu terjadi di Amerika Utara, di mana nilai infrastruktur yang terdampak lebih tinggi. Kerugian ekonomi juga mencerminkan karakteristik wilayah terdampak, yakni kawasan urban padat penduduk yang berdekatan dengan area hutan dan semak liar. Menurut US Fire Administration, terdapat lebih dari 60.000 komunitas di Amerika Serikat yang berisiko tinggi terhadap kebakaran di zona tersebut.
Penelitian itu juga menemukan peningkatan frekuensi kebakaran mematikan selama beberapa tahun terakhir. Para penulis menyoroti celah besar dalam sistem adaptasi bencana, termasuk minimnya komunikasi risiko dan perencanaan evakuasi yang efektif.
“Bencana kebakaran tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan iklim,” ujar Cunningham. “Cara kita mengelola lingkungan buatan dan alam juga berperan besar.”
Periode penelitian ini mencakup serangkaian kebakaran besar yang terjadi dalam satu dekade terakhir, termasuk kebakaran di Kanada pada 2016 dan di California pada 2017.
Kebakaran Camp Fire di Paradise, California pada 2018 yang menewaskan 85 orang dengan kerugian sekitar US$16 miliar juga masuk dalam perhitungan. Kemudian pada 2020, kebakaran di California menimbulkan kerusakan emisi senilai US$100 juta, sementara kebakaran Lahaina di Hawaii pada 2023 menewaskan 102 orang.
Namun, analisis ini belum mencakup beberapa kebakaran terbaru, termasuk di Valparaiso, Chile (2024) dan Los Angeles (awal 2025). Menurut Cunningham, kebakaran Los Angeles kemungkinan merupakan bencana kebakaran paling mahal dalam sejarah, dengan kerugian langsung sekitar US$65 miliar.
“Dampak ekonomi kebakaran di Los Angeles benar-benar di luar perhitungan, lebih dari dua kali lipat dibandingkan kejadian besar sebelumnya,” ujar Cunningham.