Bisnis.com, JAKARTA — Laporan terbaru hasil kolaborasi Climate Finance Asia dan World Economic Forum (WEF) mengungkap bahwa korporasi-korporasi dengan jejak emisi tinggi di negara-negara anggota BASIC, yakni Brasil, Afrika Selatan, India dan China, secara proaktif beradaptasi terhadap mekanisme karbon lintas batas.
Dalam laporan bertajuk Climate and Competitiveness: Border Carbon Adjustments in Action tersebut, korporasi memanfaatkan momentum ini sebagai katalisator modernisasi teknologi dan peningkatan daya saing di pasar.
Seiring dengan implementasi Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa pada 1 Januari 2026, laporan ini menyediakan paparan komprehensif yang mengulas kesiapan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di negara anggota BASIC.
Melalui keterlibatan dengan raksasa industri baja, semen, minyak dan gas, serta pertambangan, laporan ini mengungkap bahwa perusahaan multinasional yang terlibat dalam rantai pasok global menerapkan kepatuhan dan langkah-langkah strategis untuk menghadapi beragam regulasi karbon di negara tujuan ekspor.
Perusahaan-perusahaan yang dikaji tercatat mulai mengadopsi perubahan mendasar menuju teknologi produksi rendah karbon.
Di sisi taktis, perusahaan juga memperkuat sistem akuntansi karbon digital serta meningkatkan transparansi rantai pasok guna memastikan kepatuhan jangka pendek sekaligus membangun ketahanan operasional.
“Temuan kami jelas: penyesuaian karbon lintas batas belum memicu kerugian daya saing secara luas. Sebaliknya, mekanisme ini menciptakan jurang strategis baru. Keunggulan first mover mulai muncul bagi perusahaan yang bertindak lebih awal,” ujar Alan To, CEO Climate Finance Asia.
Menurutnya, korporasi yang paling cepat memanfaatkan investasi awal pada teknologi rendah karbon untuk membedakan produk, memperoleh harga premium, dan mengonsolidasikan pangsa pasar akan secara efektif mengubah tekanan regulasi menjadi instrumen kompetisi.
Dokumen ini menawarkan peta jalan yang jelas bagi transformasi strategis korporasi melalui kerangka PACE, yakni Strategy Playbook bagi jajaran C-suite, direktur rantai pasok, dan manajer pengadaan untuk menavigasi lanskap kebijakan karbon.
PACE merinci empat pilar aksi krusial: perencanaan tata kelola kebijakan karbon, pencapaian kepatuhan domestik dan internasional, perubahan operasional untuk dekarbonisasi, serta pelibatan pemangku kepentingan di sepanjang rantai nilai. Strategy Playbook tersebut juga menyediakan jalur spesifik per industri berdasarkan kombinasi tindakan internal dan eksternal yang relevan.
Laia Barbara, Kepala Strategi Iklim World Economic Forum, menyatakan bahwa penyesuaian karbon lintas batas kian menjadi elemen penting dalam sistem perdagangan global, dengan implikasi nyata terhadap daya saing bisnis, investasi, dan ketahanan rantai pasok.
“Makalah ini membekali para pemimpin dengan studi kasus, wawasan, dan playbook praktis untuk menavigasi pergeseran tersebut serta menyelaraskan strategi dekarbonisasi dengan ekspektasi pasar yang terus berkembang, sekaligus memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh BCA,” ujarnya.