Bisnis.com, JAKARTA — Keberhasilan layanan internetfixed wireless access (FWA) Rp100.000-an milik Surge dan MyRepublic dinilai sangat bergantung dari preferensi masyarakat dalam memilih internet rumah. Persoalan bukan terletak pada harga saja, tetapi juga kestabilan.
Pengamat dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, menilai kehadiran internet murah dan cepat akan mengubah struktur pasar. Dia menekankan pentingnya pemahaman konsumen terhadap perbedaan teknologi FWA, FTTH, dan seluler yang bersifat saling melengkapi.
Untuk diketahui, fiber to the home (FTTH) adalah koneksi internet kabel yang menggunakan kabel serat optik murni hingga ke titik masuk rumah pelanggan. Kelebihannya, sangat stabil dan tidak terpengaruh oleh gangguan cuaca atau interferensi frekuensi radio. Kekurangannya, waktu instalasi lama.
Sementara itu, adalah teknologi yang menggunakan gelombang radio (biasanya melalui jaringan 4G atau 5G) untuk menyalurkan internet ke perangkat penerima tetap di lokasi pelanggan. Kelebihannya, proses instalasi sangat cepat (plug-and-play) dan biaya penggelaran jauh lebih murah dibanding menarik kabel fiber. Kekurangannya, sangat bergantung pada kualitas sinyal dari BTS dan kapasitasnya harus berbagi dengan pengguna seluler lain di area tersebut.
Sementara itu seluler adalah konektivitas nirkabel yang dirancang khusus untuk mobilitas melalui perangkat genggam seperti ponsel pintar. Kelebihannya, fleksibilitas mobilitas tinggi. Kekurangannya, berbasis kuota dan kecepatan bisa berfluktuasi tergantung pada kepadatan pengguna (network congestion).
“Pengguna akan memilih layanan apakah FWA 100 Mbps Rp100.000 dengan kecepatan pemasangan atau FTTH dengan kestabilan dan jaminan QoS atau seluler dengan mobility-nya,” kata Ian kepada Bisnis, Jumat (17/4/2026).
Dia menambahkan harga bandwidth cenderung semakin murah seiring perkembangan teknologi. Namun, berdasarkan survei, konsumen tetap menempatkan stabilitas sebagai faktor utama, diikuti harga sebagai pertimbangan kedua atau ketiga. Hal ini menunjukkan adanya diferensiasi layanan yang saling melengkapi di pasar.
Sementara itu, pengamat ITB lainnya, Agung Harsoyo, melihat karakteristik pasar fixed broadband tidak sedinamis seluler. Dia memperkirakan sekitar 10% pelanggan bersifat fleksibel dan berpotensi berpindah operator. Jika diasumsikan serupa di fixed broadband, maka terdapat sekitar 2 juta pelanggan potensial yang bisa beralih ke layanan internet murah.
Dia mencatat saat ini terdapat sekitar 20 juta pelanggan FTTH, sementara jumlah rumah tangga yang telah teraliri listrik mencapai sekitar 80 juta. Artinya, peluang ekspansi pelanggan baru masih sangat besar.
Menurutnya, pelanggan FTTH umumnya tidak terlalu sensitif terhadap harga, melainkan lebih mengutamakan kualitas layanan (QoS). Oleh karena itu, operator perlu terus meningkatkan kualitas untuk mempertahankan loyalitas pelanggan. Di sisi lain, biaya penggelaran jaringan relatif seragam antaroperator, sehingga mekanisme pasar akan menjaga harga pada level tertentu.
“Karakteristik pelanggan FTTH tidak sedinamis pelanggan selular; yang sempat mengalami era petang harga. Kemungkinan adanya perang harga saya kira kecil,” katanya.
Adapun Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai struktur pasar saat ini terdiri dari fixed broadband (FBB), mobile broadband (MBB), dan fixed mobile convergence (FMC). FBB dan MBB disebut telah matang, sehingga sensitif terhadap harga dan kualitas, termasuk kecepatan dan latensi.
Ketua Umum Mastel, Sarwoto Atmosutarno, menyatakan jika internet Rp100.000 masuk dalam kategori FBB, maka persaingan akan berfokus pada konsistensi kualitas layanan.
“Kualitas layanan yang konsisten menjadi kunci di FBB. Konsumen mudah berpindah,” katanya.
Dia menambahkan tiga operator besar (Telkomsel, XLSMART, dan Indosat) telah mengonsolidasikan bisnisnya dan akan lebih fokus pada FMC, sehingga ruang kompetisi juga akan bergeser ke segmen tersebut. Dalam kondisi ini, pelaku FBB skala kecil diperkirakan menghadapi tekanan dan berpotensi melakukan merger atau akuisisi untuk mencapai skala ekonomi.
“Kita setuju Komdigi mulai kampanye perlunya konsep infrastruktur sharing dilaksanakan,” katanya.
Ke depan, Sarwoto menilai konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga bandwidth murah, tetapi juga kualitas dan kenyamanan, terutama dengan semakin berkembangnya penggunaan teknologi berbasis AI. Dia juga menilai batas antara layanan fixed dan mobile akan semakin kabur, sementara nilai tambah akan bergeser ke aplikasi yang mendukung aktivitas ekonomi dan sosial.
“Jasa nilai tambahnya adalah aplikasi yang mendorong aktifitas ekonomi dan sosial para pelanggannya. Fixed atau mobile sudah tidak ada bedanya,” ungkapnya.