Bisnis.com, SURABAYA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) merespons anggapan bahwa pelaku usaha di bidang furnitur ataupun mebel yang diuntungkan imbas dari menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang masuk level Rp18.000.
Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kemenperin Andi Rizaldi memaparkan bahwa utilisasi industri furnitur nasional saat ini telah mencapai 60%, dengan nilai ekspor furnitur pada 2024 mencapai sekitar US$1,92 miliar dan pada 2025 sebesar US$1,84 miliar.
Untuk sektor manufaktur, Andi menjelaskan secara keseluruhan industri mebel masih menjadi kontributor utama ekspor nasional dengan porsi hampir 80% terhadap total ekspor Indonesia
"Pada 2024 tercatat sebesar US$1,92 miliar, dan 2025 US$1,84 miliar. Kalau secara industri keseluruhan kita kontribusi manufaktur itu hampir 80%. Jadi dari total kegiatan ekonomi yang bisa diekspor manufaktur ya, Alhamdulillah menempati angka yang dominan, 80% kontribusi manufaktur itu adalah kontribusi ekspor nasional," beber Andi pada sela-sela Indonesia Forestry and Woodworking Machinery (Indowood) Expo di Grand City, Surabaya, Kamis (4/6/2026).
Terkait penguatan mata uang asing, terkhusus dolar AS terhadap rupiah, Andi mengakui bahwa hal tersebut mendatangkan "angin segar" bagi para pelaku usaha di bidang pengolahan kayu tersebut. Apalagi, sebut dia, aktivitas ekspor dapat lebih digenjot oleh para pengusaha mengingat bahan baku yang digunakan mayoritas berasal dari domestik dan sebagian hasil produksi diperdagangkan ke luar negeri.
"Kalau kita lihat sektor furnitur karena 60% bahan baku lokal, sedangkan penjualannya 80% ekspor berarti kenaikan nilai tukar dolar itu sebetulnya menguntungkan karena dia sampai 80% ekspor dan bahan baku lokalnya sebagian besar berasal dari lokal," ucapnya.
Meski industri furnitur ketiban "durian runtuh" atas keadaan moneter dewasa ini, Andi menyebut bahwa sektor industri lain mengalami pukulan akibat terdepresiasinya nilai tukar rupiah tersebut. Menurutnya, peristiwa menguatnya dolar AS terhadap rupiah tersebut ibarat seperti dua sisi mata pisau, yang bisa mendatangkan manfaat, tetapi sekaligus berpotensi menimbulkan kerugian.
"Ibaratnya, namanya dua mata pisau hari ini mungkin nilai tukar kita sudah tembus angka Rp18.000. Saya enggak tahu, HIMKI senang atau sedih dengan angka Rp18.000 ini. Di satu sisi ada yang senang, ada yang sedih gitu ya. Mudah-mudahan kondisi ini mungkin bisa kita ambil hikmahnya. Kita ambil sisi baiknya, dari sisi ekspor mungkin nilai tukarnya dia lebih bagus, nilainya juga jadi lebih besar," ungkapnya.
Lebih lanjut, mantan Atase Perindustrian di KBRI Tokyo itu menyatakan bahwa pemerintah tetap konsisten untuk menjalankan kebijakan hilirisasi lewat larangan ekspor kayu bulat atau log guna meningkatkan nilai tambah terhadap roda perekonomian domestik.
Ia mengeklaim bahwa penerapan kebijakan tersebut malahan mendorong banyak pemodal asing untuk membangun fasilitas produksi di tanah air guna memperoleh akses terhadap bahan baku serta memperkuat rantai pasok industri nasional.
Selain itu, Andi juga mengapresiasi peran besar Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) yang dapat mendorong investor asing untuk melakukan produksi pengolahan kayu di Indonesia.
"Industri Cina itu mungkin juga sedang mencari sumber bahan baku, tapi kan kita sudah dilarang untuk menjual kayu log, Jadi, tanda kutip dengan kata lain sebetulnya, HIMKI ini juga berusaha menggiring partnernya itu untuk berinvestasi di Indonesia karena kita enggak bisa jual kayu log lagi, bahan baku mentah lagi ke negara lain. Nah, kalau mereka bangun industrinya ya kan berarti penjualannya domestik bukan ekspor, bisa kita lakukan. Itu indikasi yang bagus," pungkasnya.