Bisnis.com, JAKARTA — Menjelang datangnya Ramadan yang tinggal menghitung hari, muncul istilah tarhib Ramadan. Meski Ramadan selalu disambut dengan antusias, tidak banyak orang yang benar-benar memahami makna tarhib Ramadan.
Sebagian masyarakat menganggap istilah tersebut hanya sebagai acara penyambutan atau tradisi tahunan semata, padahal tarhib Ramadan memiliki arti yang lebih dalam sebagai bentuk persiapan menyambut bulan suci. Lantas, apa itu tarhib Ramadan dan bagaimana makna di baliknya?
Mengutip dari situs Baitulmaal Muamalat, secara bahasa, kata tarhib (ترحيب) berasal dari akar kata Rahiba-Yarhabu-Rahaban (رحبا) yang berarti meluaskan, melapangkan, dan menyambut dengan hati terbuka. Dalam konteks Ramadan, tarhib berarti menyambut bulan suci dengan penuh kebahagiaan, persiapan, dan kesiapan spiritual.
Merujuk pada definisi tersebut, arti tarhib Ramadan adalah upaya menyambut bulan suci dengan persiapan yang utuh serta sikap hati yang terbuka. Persiapan ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik atau materi, tetapi juga mencakup kesiapan batin dan spiritual agar seseorang benar-benar siap menjalani ibadah puasa Ramadan secara maksimal.
Tarhib Ramadan dapat dilakukan dengan beberapa amalan dan persiapan, seperti mempelajari ilmu seputar Ramadan, persiapan fisik, persiapan harta untuk zakat dan sedekah, hingga membaca doa menyambut Ramadan.
Berdasarkan keterangan di laman Kemendikdasmen, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat mengajak umat Islam menyambutnya dengan rasa gembira, penuh penghormatan, dan kesadaran spiritual yang mendalam. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum istimewa yang harus disambut dengan penuh kemuliaan.
“Rasulullah SAW menyambut Ramadan dengan memberikan kehormatan atas kedatangannya. Ini menunjukkan bahwa bulan yang akan datang bukan bulan sembarangan, melainkan bulan yang memiliki nilai agung,” ujar Atip dalam ceramah Tarhib Ramadan 1447 Hijriah bertema Ramadan Gembira, di Masjid Baitut Tholibin, Jumat (6/2/2026).
Dalam ceramahnya, Atip juga mengingatkan bahwa hal yang paling utama dari ibadah puasa adalah bagaimana seseorang mampu mengendalikan diri dan membangun kedisiplinan. Pada momen Ramadan, dia mengatakan akan menjadi latihan spiritual agar manusia menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar permanen di dunia, kecuali kehidupan akhirat.
Dia berharap Ramadan 1447 Hijriah dapat menjadi momentum bagi seluruh umat untuk menyambut ibadah dengan kesiapan lahir dan batin, serta menjalaninya dengan rasa syukur dan kegembiraan.
“Semoga Allah SWT memberikan kepada kita semua kesempatan, kesehatan, dan kekuatan untuk menjalani Ramadan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya. (Putri Astrian Surahman)