Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperluas peluang penempatan magang teknis Indonesia ke Miyazaki, Jepang melalui kerja sama dengan Pemerintah ... [347] url asal
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperluas peluang penempatan magang teknis Indonesia ke Miyazaki, Jepang melalui kerja sama dengan Pemerintah Prefektur Miyazaki.
Sekretaris Jenderal Kemnaker Cris Kuntadi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa kerja sama ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat hubungan Indonesia–Jepang di bidang ketenagakerjaan, khususnya dalam peningkatan kompetensi dan perluasan peluang penempatan peserta magang teknis.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Prefektur Miyazaki atas komitmennya dalam memperluas kerja sama ini, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan peningkatan kesempatan penempatan magang teknis Indonesia,” ujar Cris.
Lebih lanjut ia menjelaskan, ruang lingkup kerja sama mencakup pelatihan, pengiriman, dan penerimaan peserta magang teknis Indonesia di Prefektur Miyazaki.
Selain itu, kedua pihak akan memperkuat pertukaran data dan informasi secara berkala untuk mendukung keberlanjutan program.
Kemnaker, lanjut Cris, juga menyiapkan pengembangan sistem berbagi informasi untuk mendukung pengembangan karier peserta setelah menyelesaikan program magang di Jepang.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan tenaga kerja di Jepang, termasuk di Prefektur Miyazaki yang tengah menghadapi penurunan jumlah penduduk.
Cris menambahkan, salah satu fokus utama kerja sama ini adalah pelaksanaan job matching untuk memastikan kesesuaian antara kompetensi calon peserta dengan kebutuhan mitra industri di Jepang.
Selain itu, Kemnaker juga menyiapkan pelatihan prapenempatan melalui balai pelatihan milik pemerintah maupun swasta yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Berdasarkan data Kemnaker, penempatan peserta magang teknis Indonesia ke Jepang pada 2025 mencapai 19.332 orang.
Sementara itu, hingga Mei 2026, jumlah peserta yang telah diberangkatkan tercatat sebanyak 18.316 orang, yang menunjukkan capaian penempatan yang tetap tinggi pada periode awal tahun berjalan.
Khusus di Prefektur Miyazaki, jumlah peserta magang Indonesia juga mengalami peningkatan dari 243 orang pada 2025 menjadi 285 orang pada 2026.
Di sisi lain, Gubernur Prefektur Miyazaki Shunji Kono menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menegaskan bahwa Prefektur Miyazaki saat ini menghadapi tantangan depopulasi sehingga membutuhkan peserta magang asing untuk mendukung berbagai sektor industri.
“Keberadaan warga Indonesia telah memberikan kontribusi besar bagi sektor pertanian di Prefektur Miyazaki. Kami melihat peluang bagi peserta magang Indonesia untuk berkiprah di lebih banyak sektor ke depannya,” ujarnya.
Apindo menekankan bahwa implementasi adalah kunci sukses kerja sama RI-Jepang senilai US$22,6 miliar, yang mencakup energi, industri, dan teknologi. [408] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan bahwa tahap implementasi akan menjadi kunci keberhasilan dari kesepakatan kerja sama Indonesia dengan Jepang senilai US$22,6 miliar. Penandatanganan kesepakatan tersebut disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto di Tokyo, Jepang, pada Senin (30/3/2026).
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani menyampaikan bahwa kerja sama ini tidak hanya besar dari sisi nilai, tetapi juga dari sisi kualitas sektor yang disentuh mulai dari energi, industri, hingga teknologi dan pembiayaan. Jepang juga disebutnya sebagai salah satu mitra ekonomi utama Indonesia, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai US$30 miliar per tahun.
“Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang secara konsisten berada di jajaran enam besar sumber foreign direct investment [FDI] di Indonesia, dengan investasi yang kuat di sektor energi, otomotif, manufaktur, dan elektronik,” kata Shinta kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).
Dia kemudian memperkirakan dampak yang diharapkan dari kesepakatan ini akan cukup luas. Dari sektor energi, kerja sama ini berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong transisi ke energi alternatif melalui proyek-proyek seperti gas, panas bumi, maupun pemanfaatan teknologi rendah karbon.
Lebih lanjut, masuknya investasi Jepang pada industri manufaktur bernilai tambah tinggi dinilai dapat mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih berkualitas serta transfer teknologi, tak terkecuali pengembangan ekosistem teknologi seperti semikonduktor.
Sementara itu, dari sisi pembiayaan, kerja sama di sektor keuangan juga dinilai dapat memperdalam ekosistem investasi domestik dan inklusi keuangan.
“Namun demikian, kami juga melihat bahwa kunci dari keberhasilan kesepakatan ini ada pada tahap implementasi, karena sebagian besar masih dalam bentuk MoU business-to-business, maka langkah ke depan yang sangat penting adalah memastikan proyek-proyek ini dapat direalisasikan dengan baik,” terang Shinta.
Menurut Shinta, dunia usaha menggarisbawahi pentingnya percepatan perizinan, kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, serta koordinasi lintas institusi yang dapat diupayakan pemerintah. Adanya efek pengganda bagi industri dalam negeri juga patut dipastikan dari kerja sama ini.
Mengenai krisis energi global saat ini, Apindo menyebut kerja sama Indonesia–Jepang dapat menjadi langkah strategis, mengingat banyak negara terdorong untuk memperkuat kemitraan jangka panjang dalam memastikan pasokan energi yang stabil, sekaligus bertransisi ke sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Shinta memandang kolaborasi Indonesia–Jepang yang mencakup energi fosil sebagai jembatan maupun energi baru terbarukan dapat memberikan keseimbangan yang penting antara ketahanan energi dan agenda transisi energi.
“Ke depan, dunia usaha berharap agar momentum ini dapat terus dijaga, tidak hanya dalam bentuk komitmen, tetapi benar-benar diwujudkan dalam proyek nyata yang memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya saing industri, serta penciptaan lapangan kerja di dalam negeri,” pungkasnya.
Prabowo dan PM Jepang Takaichi sepakat memperkuat kemitraan strategis Indonesia-Jepang melalui IJEPA, investasi mineral kritis, dan penguatan SDM. [1,163] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Istana Akasaka, Tokyo, pada (31/3/2026) menjadi penanda penting bahwa hubungan Indonesia–Jepang tengah memasuki fase baru yang lebih strategis, lebih konkret, dan makin relevan di tengah dunia yang kian tidak pasti.
Hubungan Indonesia–Jepang bukanlah hubungan yang baru dibangun. Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan bahwa relasi kedua negara telah lama berdiri di atas fondasi kepercayaan.
“Indonesia dan Jepang adalah sahabat dekat dan mitra strategis. Hubungan kita sudah sangat lama dibangun atas dasar kepercayaan dan saling menghormati kepentingan bersama,” ujar Presiden dalam joint statement di Tokyo, Selasa (31/3/2026).
Namun, yang menjadi sorotan utama dalam pertemuan kali ini adalah bagaimana fondasi tersebut ditransformasikan menjadi kemitraan yang lebih adaptif terhadap tantangan zaman.
Takaichi menegaskan hal serupa, bahwa hubungan yang telah terjalin kini berkembang menjadi kemitraan strategis komprehensif yang mencakup spektrum luas, dari ekonomi hingga keamanan.
Di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, kedua negara sepakat bahwa hubungan bilateral mereka dapat menjadi jangkar stabilitas kawasan. Prabowo bahkan menekankan peran aktif Indonesia dan Jepang dalam mendorong deeskalasi konflik global.
“Kami sepakat bahwa baik Jepang maupun Indonesia akan berusaha keras untuk meyakinkan semua pihak untuk melakukan deeskalasi,” ucap Prabowo.
Lebih jauh, dia menambahkan kesiapan kedua negara untuk berperan sebagai mediator dalam konflik internasional, sebuah posisi yang menunjukkan peningkatan peran diplomatik Indonesia di panggung global.
IJEPA: Kunci Akselerasi Perdagangan dan Investasi
Salah satu isu paling krusial dalam pertemuan ini adalah percepatan ratifikasi dan implementasi amandemen Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA). Perjanjian yang telah berjalan sejak 2008 ini kini memasuki fase baru setelah pembaruan pada 2024.
“Kami akan bekerja keras untuk mempercepat ratifikasi dan implementasi dari protokol amandemen IJEPA. Saya berharap dalam waktu cepat ini bisa kita selesaikan,” tegas Prabowo.
Pembaruan IJEPA menjadi sangat strategis karena tidak hanya memperluas akses pasar, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Jepang memberikan pembebasan tarif hingga 0% untuk sejumlah produk unggulan Indonesia, mulai dari olahan perikanan hingga komponen otomotif dan tekstil.
Lebih dari sekadar liberalisasi perdagangan barang, IJEPA versi terbaru juga mencakup sektor ekonomi digital dan penguatan supply chain. Ini menjadi relevan dalam konteks global saat ini, di mana ketahanan rantai pasok menjadi isu utama pascapandemi dan konflik geopolitik.
Bagi Indonesia, peluang ini membuka ruang besar untuk meningkatkan ekspor bernilai tambah. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam kesiapan pelaku usaha domestik memanfaatkan fasilitas tersebut, termasuk pemenuhan dokumen seperti Surat Keterangan Asal (SKA).
Investasi Jepang: Dari Infrastruktur ke Hilirisasi
Jepang selama ini dikenal sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia, khususnya di sektor infrastruktur dan manufaktur. Dalam pertemuan kali ini, arah investasi tersebut mulai bergeser ke sektor yang lebih strategis, seperti mineral kritis dan hilirisasi industri.
“Kami terus mengajak dan membuka diri untuk partisipasi Jepang dalam ekonomi Indonesia, termasuk kerja sama di bidang mineral kritis dan rare earth, serta hilirisasi industri,” ujar Prabowo.
Pergeseran ini sejalan dengan agenda besar pemerintah Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Jepang, dengan keunggulan teknologi dan kebutuhan akan bahan baku industri, menjadi mitra ideal dalam proses ini.
Selain itu, kerja sama di sektor energi juga menjadi fokus utama. Indonesia membuka peluang kolaborasi dalam energi terbarukan hingga energi nuklir, sebuah langkah yang mencerminkan diversifikasi strategi energi nasional.
Proyek Strategis: Ujian Implementasi
Komitmen investasi tidak akan berarti tanpa implementasi di lapangan. Dalam hal ini, Prabowo menekankan pentingnya percepatan penyelesaian hambatan proyek strategis atau debottlenecking.
Beberapa proyek yang menjadi sorotan antara lain Legok Nangka dan Sarulla. Proyek Legok Nangka, yang akan dikembangkan menjadi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa), melibatkan perusahaan Jepang seperti Sumitomo Corporation. Sementara itu, proyek Sarulla di Sumatra Utara merupakan salah satu pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di dunia dengan keterlibatan Itochu dan Kyushu Electric Power.
Selain itu, proyek gas Abadi di Blok Masela yang melibatkan INPEX juga diharapkan segera terealisasi setelah mengalami penundaan panjang.
“Kita berharap proyek ini bisa segera terwujud,” kata Prabowo.
Proyek-proyek ini menjadi indikator penting sejauh mana kerja sama Indonesia–Jepang dapat berjalan efektif, tidak hanya di atas kertas, tetapi juga dalam realisasi investasi.
SDM: Pilar Tak Terlihat yang Menguatkan
Di luar angka investasi dan nilai perdagangan, hubungan Indonesia–Jepang juga diperkuat oleh kerja sama di bidang sumber daya manusia. Prabowo secara khusus menyoroti kontribusi Jepang dalam pendidikan dan pelatihan tenaga kerja Indonesia.
“Kami sangat berterima kasih karena pemuda-pemudi kami banyak diberikan kesempatan belajar di Jepang di semua bidang, dan juga banyak tenaga kerja kami diizinkan untuk magang di Jepang ini,” tuturnya.
Data menunjukkan tren peningkatan signifikan jumlah pelajar dan pekerja Indonesia di Jepang. Hingga 2025, jumlah mahasiswa Indonesia mencapai sekitar 7.000 orang, sementara peserta magang menembus hampir 75.000 orang atau di angka 74.879 orang.
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan hubungan yang erat, tetapi juga menjadi jalur transfer teknologi dan pengetahuan yang sangat penting bagi Indonesia. Jepang, di sisi lain, mendapatkan pasokan tenaga kerja produktif untuk menopang sektor-sektor krusialnya.
Indo-Pasifik dan Dimensi Geopolitik
Di luar ekonomi, pertemuan ini juga menegaskan posisi strategis Indonesia dalam visi Free and Open Indo-Pacific (FOIP) yang diusung Jepang.
“Kerja sama dengan Indonesia, yang berada di kawasan penting antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, sangat penting bagi terwujudnya Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka,” ujar Takaichi.
Posisi geografis Indonesia yang strategis menjadikannya kunci dalam menjaga stabilitas kawasan. Dalam konteks ini, kerja sama tidak hanya terbatas pada ekonomi, tetapi juga mencakup keamanan maritim, pertahanan, dan penanganan bencana.
Kedua negara juga bertukar pandangan mengenai berbagai isu global, termasuk Timur Tengah, Laut China Selatan, hingga Korea Utara
“Kami juga bertukar pandangan mengenai situasi Timur Tengah, termasuk Iran, serta Laut China Selatan, berbagai isu misil, dan penanganan Korea Utara, termasuk masalah penculikan,” kata Takaichi.
PM Takaichi menegaskan pentingnya kerja sama, terutama dalam konteks keamanan energi global.
“Khususnya mengenai Timur Tengah, kami menegaskan akan bekerja sama erat dari perspektif keamanan energi,” tandasnya.
Menuju 70 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Jepang
Pertemuan ini juga memiliki makna simbolik menjelang peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Jepang pada 2028. Takaichi menekankan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat.
“Melalui pertemuan puncak ini, kami akan semakin mempererat hubungan kedua negara, serta terus mengembangkan kemitraan strategis komprehensif yang didukung oleh ikatan kuat antarmasyarakat,” ujar Takaichi.
Ikatan tersebut terlihat dari berbagai bentuk pertukaran budaya dan kemanusiaan, termasuk tradisi peringatan bencana yang saling menghargai antara kedua negara.
Meskipun prospek kerja sama terlihat cerah, tantangan tetap ada. Dari sisi Indonesia, kesiapan regulasi, birokrasi, dan infrastruktur menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi investasi Jepang. Sementara itu, Jepang juga menghadapi tekanan domestik terkait kebutuhan energi dan demografi.
Kendati demikian, pertemuan Prabowo dan Takaichi memberikan sinyal kuat bahwa kedua negara memiliki komitmen politik yang tinggi untuk mengatasi tantangan tersebut.
“Melalui upaya-upaya ini, kedua negara akan semakin berkontribusi terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan serta dunia,” tegas Takaichi.
Pada akhirnya, hubungan Indonesia–Jepang tidak lagi sekadar hubungan bilateral biasa. Ia telah berkembang menjadi kemitraan strategis yang memainkan peran penting dalam ekonomi dan geopolitik kawasan.
Dengan arah kebijakan yang semakin konkret—mulai dari IJEPA, investasi hilirisasi, hingga penguatan SDM—kemitraan ini berpotensi menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.