Bisnis.com, JAKARTA — Rupiah yang terperosok ke atas Rp17.000 per dolar AS mulai menekan pasar surat berharga negara (SBN) dan menguji daya tahan perbankan nasional, dengan bank besar dinilai lebih tahan sementara bank kecil kian rentan terhadap lonjakan yield dan biaya dana.
Data terbaru menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp17.445 per dolar AS dan bergerak di kisaran Rp17.300 – Rp17.400 sepanjang pekan ini, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar keuangan domestik.
Pelemahan tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya volatilitas di pasar SBN, yang ditandai kenaikan yield dan penurunan harga di pasar sekunder.
Pergerakan ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga arus modal global, arah suku bunga internasional, serta persepsi risiko investor terhadap aset rupiah. Dalam kondisi tersebut, pasar SBN menjadi salah satu kanal utama transmisi gejolak global ke sektor keuangan domestik.
Di tengah tekanan itu, perhatian mengarah pada perbankan nasional yang memiliki kepemilikan SBN besar. Namun, peran bank tidak seragam, sebagian mampu menyerap gejolak, sementara lainnya lebih sensitif terhadap tekanan pasar.
Lingkaran Tekanan Rupiah dan SBN
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan keterkaitan rupiah dan SBN paling jelas terlihat dari perilaku investor asing di pasar obligasi.
“Ketika rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah otomatis mengalami penurunan return dalam dolar, yield SBN 10 tahun memang masih tinggi di kisaran 6,7%, tetapi kalau rupiah melemah 4% dalam setahun, return riil dalam dolar menjadi jauh lebih kecil dan kalah menarik dibanding US Treasury yang risikonya lebih rendah,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Kondisi tersebut mendorong investor asing keluar dari pasar SBN dan mengonversi dana ke dolar AS, yang pada akhirnya kembali menekan nilai tukar rupiah. Dengan demikian, pelemahan rupiah dan arus keluar dari SBN membentuk siklus yang saling memperkuat.
Dia menambahkan, tekanan saat ini datang dari kombinasi faktor global dan domestik.Dari sisi eksternal, tingginya harga minyak memperburuk kebutuhan impor energi Indonesia dan menekan transaksi berjalan.
Dari sisi finansial, ketidakpastian arah suku bunga global mendorong investor beralih ke aset safe haven.Dalam situasi tersebut, perbankan nasional mengambil peran sebagai penyangga pasar SBN, terutama ketika investor asing menarik dananya.
“Di tengah kondisi itu, perbankan nasional sekarang berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah mulai menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik secara tidak langsung didorong menjadi anchor investor,” kata Yusuf.
Secara kapasitas, likuiditas perbankan masih relatif longgar dan pertumbuhan kredit belum terlalu agresif. Hal ini membuat sebagian dana yang belum terserap ke kredit dialihkan ke SBN dan instrumen moneter.
Namun, peningkatan peran tersebut juga membawa konsekuensi. Semakin besar alokasi dana ke SBN, semakin besar pula potensi crowding out terhadap kredit sektor riil dalam jangka menengah. Risiko ini belum terasa saat ini karena permintaan kredit masih lemah, tetapi dapat muncul ketika ekonomi mulai pulih.
Selain itu, kenaikan yield SBN juga memberikan tekanan langsung terhadap kinerja bank. Dari sisi valuasi, kenaikan yield akan menekan harga obligasi dan mempengaruhi nilai portofolio, terutama pada instrumen yang diklasifikasikan sebagai available for sale atau trading book.
Dari sisi biaya dana, kenaikan yield SBN ritel membuat deposan membandingkan imbal hasil dengan deposito, sehingga berpotensi memicu perpindahan dana atau menekan margin bunga bank.
Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi bank dengan kemampuan treasury yang kuat untuk mengakumulasi SBN pada level yield yang lebih menarik dan memperoleh capital gain ketika yield kembali turun.
Yusuf menekankan dampak volatilitas ini tidak merata antar bank.
“Bank-bank besar KBMI 4 relatif lebih tahan karena pendapatannya lebih terdiversifikasi dan kemampuan treasury mereka lebih matang. Sementara bank yang lebih kecil dan masih sangat bergantung pada margin bunga cenderung lebih sensitif terhadap volatilitas yield dan biaya dana,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dan tekanan di pasar SBN membentuk hubungan dua arah yang saling memperkuat.
“Ketika rupiah melemah, investor asing menuntut imbal hasil SBN yang lebih tinggi untuk menutup risiko kurs. Pada saat yang sama, ketika investor asing melepas SBN, mereka menukar rupiah menjadi dolar sehingga tekanan ke rupiah bertambah,” ujarJosua kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).
Pola tersebut tercermin dari arus dana. Pada kuartal I/2026, investor asing mencatat arus keluar sekitar US$1,79 miliar dari pasar domestik, dengan arus keluar dari SBN sebesar US$1,48 miliar dan saham US$1,95 miliar.
Di sisi lain, instrumen SRBI masih menarik arus masuk sekitar US$1,64 miliar. Memasuki April, arus masuk sekitar US$2,06 miliar mulai terlihat, namun belum cukup kuat mengubah sentimen karena pasar saham masih mencatat outflow sekitar US$0,99 miliar.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini bukan terutama dipicu faktor moneter domestik. Suku bunga acuan masih berada di level 4,75%, inflasi terkendali, intervensi valas berjalan, dan likuiditas perbankan tetap memadai.
Bahkan secara nilai tukar riil efektif, rupiah dinilai masih undervalued, sehingga pelemahan lebih mencerminkan kenaikan premi risiko.
Faktor eksternal seperti konflik geopolitik yang mendorong harga minyak serta ketidakpastian global memperburuk sentimen, sementara dari domestik muncul tekanan dari risiko pasar modal dan perubahan outlook lembaga pemeringkat.
Kombinasi ini membuat investor meminta imbal hasil lebih tinggi atas SBN dan lebih selektif terhadap aset rupiah.
Dalam konteks tersebut, pelemahan rupiah di atas level psikologis Rp17.000 menjadi sinyal penting karena berkaitan dengan tiga risiko sekaligus, yakni inflasi impor, potensi respons kebijakan moneter yang lebih ketat, dan tekanan fiskal akibat kenaikan harga energi.
Bahkan, kombinasi pelemahan rupiah di atas Rp17.400 dan harga minyak di kisaran US$100 per barel berpotensi mendorong kenaikan yield SBN tambahan sekitar 30 sampai 60 basis poin.
Tekanan juga dapat bertambah 25 hingga 50 basis poin dari penurunan outlook kredit, serta 40 hingga 80 basis poin dari skenario suku bunga global tinggi lebih lama.
Peran Bank Terbatas
Di tengah tekanan tersebut, perbankan nasional dinilai memiliki ruang untuk menyerap sebagian volatilitas, tetapi tidak tanpa batas.
“Secara likuiditas, bank sebenarnya masih cukup kuat. OJK mencatat pada Maret 2026 DPK tumbuh 13,55% secara tahunan menjadi Rp10.231 triliun, sementara berbagai rasio likuiditas berada di level tinggi. Namun bank juga tetap harus menjaga kualitas aset, kebutuhan likuiditas, dan risiko nilai pasar portofolio,” tuturnya.
Rasio alat likuid terhadap DPK tercatat 27,85%, rasio alat likuid terhadap dana noninti 122,55%, LCR 193,64%, dan NSFR 128,84%, mencerminkan bantalan likuiditas yang memadai.
Namun demikian, data kepemilikan SBN menunjukkan peran bank sebagai penyangga bersifat dinamis.
Sepanjang 2026 hingga 6 Mei, kontribusi terbesar terhadap kepemilikan SBN justru berasal dari asuransi dan dana pensiun sekitar Rp81 triliun (year-to-date), diikuti bank sentral sekitar Rp68 triliun, sementara kepemilikan perbankan justru turun sekitar Rp111 triliun dan investor asing turun sekitar Rp11 triliun.
Hal ini menunjukkan bank tidak selalu menjadi pembeli utama saat pasar bergejolak. Perbankan dapat mengurangi eksposur SBN untuk menjaga likuiditas, mengelola risiko harga, atau menyesuaikan portofolio dengan kebutuhan kredit.
Kenaikan yield SBN, lanjut Josua, akan mempengaruhi perbankan melalui tiga jalur utama, yakni valuasi portofolio, likuiditas, dan strategi aset.
Dari sisi valuasi, kenaikan yield akan menekan harga SBN sehingga bank yang mencatat portofolio berbasis harga pasar akan mengalami penurunan nilai, baik di laba rugi maupun ekuitas.
Sementara dari sisi likuiditas, meskipun SBN tetap menjadi aset likuid, penurunan harga membuat nilai agunan menjadi lebih sensitif.
Dari sisi strategi, bank cenderung memperpendek durasi portofolio, lebih selektif pada tenor panjang, serta menyeimbangkan alokasi antara kredit, SBN, SRBI, dan instrumen pasar uang.
Selain itu, kenaikan yield SBN juga berdampak pada bunga kredit. SBN sebagai acuan imbal hasil bebas risiko mendorong bank untuk menetapkan pricing kredit yang lebih tinggi, sehingga penurunan bunga kredit berpotensi lebih lambat, terutama pada segmen yang berisiko lebih tinggi seperti kredit modal kerja dan UMKM.
Meski demikian, kondisi perbankan masih relatif solid. OJK mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,14% dan NPL net 0,83%, Loan at Risk 8,94%, serta CAR di level tinggi 25,09%.
Di sisi lain, peran otoritas moneter tetap krusial dalam menjaga stabilitas. Intervensi di pasar valas, pembelian SBN di pasar sekunder, serta optimalisasi instrumen seperti SRBI dinilai membantu menahan gejolak.
Namun, kebijakan tersebut perlu dijaga agar tetap kredibel dan tidak menimbulkan persepsi pembiayaan fiskal oleh bank sentral.