Bisnis.com, JAKARTA — Kurang optimalnya pengelolaan data perusahaan di Indonesia dinilai turut berdampak pada terhambatnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di korporasi. Hal ini juga membuat pengembalian investasi atas teknologi AI menjadi tidak stabil.
Perusahaan penyedia data cloud, Cloudera, melaporkan bahwa kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, juga di global. Mayoritas organisasi global saat ini menghadapi tantangan besar dalam mengelola fondasi data yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan implementasi kecerdasan artifisial (AI).
Berdasarkan survei terhadap 1.270 pemimpin IT global, ditemukan fenomena "ilusi kesiapan AI" di mana 96% organisasi telah mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis inti, namun 80% di antaranya masih terkendala akses data.
Country Manager Cloudera Indonesia Sherlie Karnidta menyampaikan bahwa di Indonesia fenomena ini terlihat lebih kontras. Di mana 100% pemimpin IT menyatakan sangat yakin terhadap data organisasi mereka, namun hanya 26% yang mengakui data tersebut telah sepenuhnya terkelola.
"Gap antara ambisi tersebut dan juga gap infrastruktur dan tata kelola datanya yang masih harus kita lihat lebih lanjut dan itu yang terkadang menghalangi organisasi itu untuk bisa mengeksplor penerapan AI dengan lebih luas,” kata Sherlie dalam acara Small Group Media Interview Cloudera di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Cloudera juga melaporkan bahwa pengembalian investasi (ROI) dari implementasi AI di korporasi tidak konsisten. Hal tersebut disebabkan kualitas data yang buruk dengan 22% responden menjawab hal tersebut, pembengkakan biaya sebesar 16%, serta integrasi yang lemah ke dalam alur kerja yang mencapai 15%.
Sherlie juga menambahkan bahwa faktor organisasi seperti resistensi budaya terhadap berbagi data dikeluhkan oleh 52% responden lokal, sementara 26% lainnya masih berkutat dengan masalah silo data.
Laporan ini juga mencatat bahwa 78% responden di Indonesia berencana meningkatkan penggunaan cloud, melampaui angka global yang berada di kisaran 65%.
Tingginya minat migrasi ke komputasi awan (cloud) di pasar domestik tersebut dipicu oleh momentum transformasi digital yang saat ini tengah berada dalam fase pertumbuhan pesat. Kondisi ini dinilai berbeda dengan pasar global yang mulai menunjukkan tren perlambatan.
Sherlie menjelaskan bahwa pasar luar negeri cenderung lebih matang karena telah memulai adopsi cloud lebih awal. Sebaliknya, pelaku usaha di Indonesia masih menunjukkan antusiasme tinggi untuk memindahkan beban kerja mereka ke cloud untuk mendukung skalabilitas teknologi.
“Organisasi yang mampu mengakses dan mengelola seluruh data mereka secara penuh, di mana pun data tersebut berada, akan jauh lebih siap untuk menghadirkan AI yang andal dan dapat diskalakan,” ujar Sherlie.