Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah ambrol dan menyentuh level terlemah sepanjang sejarah. Pelaku usaha di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pun ancang-ancang siasat menanggulangi dampak pelemahan rupiah.
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,48% atau 84 poin ke Rp17.498 per dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pukul 09.15 WIB. Kemudian, rupiah kembali mencatatkan pelemahan ke level 17.507 per dolar AS pada pukul 11.30 WIB, yang menjadi terlemah sepanjang sejarah.
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah yang saat ini bahkan telah menyentuh level psikologis baru di Rp17.500 per dolar AS tentu menjadi perhatian bagi dunia usaha. Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah perlu direspons secara serius dan terkoordinasi karena secara paralel terus menciptakan level baru all-time low.
Namun, tekanan ini dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari dinamika global yang lebih luas. Kenaikan yield US Treasury yang dipicu oleh kebutuhan pembiayaan fiskal AS, termasuk eskalasi konflik geopolitik, telah mendorong terjadinya global capital reallocation menuju aset dolar AS.
Kondisi ini berdampak pada hampir seluruh negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui tekanan nilai tukar dan meningkatnya capital outflow. Menurutnya, tekanan yang terjadi bukan bersifat sementara, tetapi berpotensi berlanjut selama faktor global masih belum mereda.
"Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri," katanya kepada Bisnis pada Selasa (12/5/2026).
Saat ini, sekitar 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah.
Sementara, sektor yang paling rentan adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi seperti petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, serta manufaktur berbasis energi.
Di sisi lain, tekanan juga dirasakan dari aspek keuangan korporasi. Penguatan dolar AS meningkatkan beban kewajiban dalam valuta asing, baik dari sisi pembayaran bunga maupun pokok utang. Hal ini berdampak pada cash flow management dan meningkatkan profil risiko perusahaan.
Dalam kondisi daya beli yang belum sepenuhnya pulih, ruang untuk melakukan penyesuaian harga juga terbatas, sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Kondisi ini yang kemudian menekan margin dan mempengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja.
"Menyikapi kondisi ini, dunia usaha pada dasarnya melakukan penyesuaian strategi ke arah yang lebih prudent dan risk-adjusted," katanya.
Menurut Shinta, pendekatan yang saat ini banyak diambil adalah selective growth. Ekspansi tetap dilakukan tetapi secara lebih selektif, dengan mempertimbangkan visibilitas permintaan, efisiensi biaya, serta kepastian return on investment. Sementara itu, investasi yang bersifat lebih spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal cenderung ditunda.
"Dari sisi antisipasi, perusahaan juga memperkuat strategi manajemen risiko secara lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan, disertai dengan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing," ujar Shinta.
Di sisi operasional, fokus diarahkan pada efisiensi melalui rasionalisasi capital expenditure (capex), optimalisasi working capital, serta peningkatan produktivitas.
Selain itu, diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor mulai dilakukan. Meskipun, menurutnya kemampuan substitusi domestik saat ini masih terbatas di banyak sektor.
Apindo sendiri menilai langkah Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga kebijakan di level 4,75% merupakan bagian dari policy prudence untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar di tengah tekanan global. Stabilitas ini menjadi key anchor bagi dunia usaha dalam menjaga keberlangsungan operasional dan perencanaan jangka menengah.
Namun, dalam situasi tekanan yang semakin dalam seperti saat ini, stabilitas saja menurutnya belum cukup. Maka, dibutuhkan penguatan koordinasi kebijakan yang lebih solid dan respons yang semakin terkalibrasi untuk menjaga kepercayaan pasar dan dunia usaha.
Ke depan, dalam situasi di mana tekanan eksternal masih cukup kuat dan ruang pelonggaran kebijakan relatif terbatas, menurutnya sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi sangat krusial.
"Dunia usaha pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk menjaga resiliensi, sekaligus menangkap peluang secara selektif. Dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat, kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," ungkapnya
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.