Bisnis.com, JAKARTA — Zurich Indonesia memprediksi bahwa premi asuransi kesehatan pada 2026 akan tetap tumbuh, walau kemungkinan tingkat pertumbuhannya akan melambat. Hal itu disampaikan setelah kinerja produk asuransi kesehatan Zurich meningkat signifikan pada Januari 2026.
Perusahaan asuransi tersebut menyatakan bahwa produk asuransi kesehatan kelompok miliknya mencatatkan pertumbuhan premi tertulis bruto atau gross written premium (GWP) hingga 40% (year on year/YoY) pada awal 2026.
Sementara itu, pada periode yang sama, produk asuransi kesehatan individu Zurich Indonesia juga mengalami kenaikan 23% (YoY). Kinerja positif pada awal tahun tersebut ikut mendorong harapan Zurich bahwa premi di sektor asuransi kesehatan akan tetap tumbuh positif pada tahun ini.
“Tahun ini kurang lebih mungkin akan melambat sedikit, enggak setinggi tahun lalu, tetapi masih mungkin bisa seperempat pertumbuhan dari overall company growth di top line-nya,” ujar Country Manager Zurich Indonesia dan Presiden Direktur PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk. Edhi Tjahja Negara dalam acara kumpul media di Jakarta, belum lama ini.
Dia juga memperkirakan bahwa pertumbuhan tersebut akan terjadi pada 2026 karena pasar bagi asuransi kesehatan akan tetap ada.
Dengan begitu, salah satu fokus Zurich Indonesia dalam sektor kesehatan pada tahun ini adalah mengupayakan agar pertumbuhan yang ada dapat tetap terjaga, berkelanjutan, dan sehat. Hal tersebut ingin dicapai perusahaan melalui berbagai aktivitas kerja sama.
Edhi menyebut bahwa pertumbuhan itu akan membawa manfaat positif bagi para pelanggannya, yaitu hadirnya perlindungan kesehatan yang baik. Selain itu, pertumbuhan juga akan baik dari sisi korporat, yakni dengan memperoleh premi yang sesuai dengan risiko yang ada sehingga risiko tersebut tidak menimbulkan kerugian.
Menurutnya, salah satu risiko yang harus diperhatikan oleh sektor asuransi kesehatan pada tahun ini adalah inflasi medis yang terus terjadi pada tahun lalu. Berdasarkan data yang dipunyai pihaknya, dalam 5 tahun terakhir, inflasi medis berada dalam rentang 12% hingga 15%.
Dia pun menyebutkan beberapa solusi yang dilakukan pihaknya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
“[Langkah-langkah seperti] penanganan klaim yang lebih baik, memitigasi [agar] tidak overtreatment, bekerja sama dengan partner hospital agar juga tidak melakukan overutilisation,” jelasnya.
Edhi membeberkan bahwa Zurich Indonesia melakukan langkah-langkah untuk mengurangi dampak inflasi medis tersebut dengan menggunakan bantuan dari teknologi-teknologi terbaru. Jika tidak memanfaatkan kemajuan teknologi, dia mengatakan bahwa perusahaan asuransi akan bisa menaikkan bujetnya secara besar-besaran tiap tahunnya.
Sebagai informasi, Edhi mengatakan bahwa pada 2025 porsi premi asuransi kesehatan Zurich Indonesia juga tumbuh dan porsinya menjadi hampir seperempat dari keseluruhan premi perusahaan. (Laurensius Katon Kandela)