Bisnis.com,JAKARTA — PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) menargetkan penyerapan biomassa sekitar 3,65 juta ton pada 2026 untuk mendukung program cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi penyerapan biomassa pada 2025 yang mencapai sekitar 2,4 juta ton.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, peningkatan penyerapan biomassa tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas pemanfaatan bioenergi sebagai substitusi sebagian bahan bakar batu bara di pembangkit listrik.
“Untuk cofiring saja, pada 2026 kami harapkan bisa menyentuh sekitar 3,65 juta ton biomassa,” ujarnya kepada Bisnis dikutip Rabu (11/3/2026).
Program cofiring biomassa merupakan upaya PT PLN (Persero) untuk menurunkan emisi dari pembangkit listrik berbasis batu bara sekaligus meningkatkan porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional.
Hokkop menjelaskan, PLN EPI saat ini juga telah menyiapkan pasokan biomassa dari berbagai mitra untuk mendukung target tersebut. Secara total, perusahaan telah mengamankan kontrak pasokan biomassa hingga sekitar 4,5 juta ton.
“Volume kontrak yang kita siapkan memang harus lebih besar dari target penyerapan, agar pasokan tetap terjamin,” imbuhnya.
Adapun pasokan biomassa tersebut diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari limbah industri kehutanan, residu perkebunan, hingga bahan baku dari pelaku usaha kecil dan menengah.
Menurut Hokkop, hingga saat ini PLN EPI telah menggandeng hampir 100 perusahaan dan pelaku usaha sebagai mitra pemasok biomassa. Selain memperluas jaringan pemasok, PLN EPI juga membangun fasilitas pengolahan biomassa untuk memastikan rantai pasok bahan baku ke pembangkit berjalan lebih efisien.
Dia mencatat, perusahaan telah memulai pembangunan fasilitas produksi biomassa di Ciamis dan Tasikmalaya, Jawa Barat pada 2025. Fasilitas tersebut akan berfungsi sebagai pusat pengumpulan dan pengolahan biomassa sebelum dikirim ke pembangkit listrik.
Ke depan, PLN EPI menargetkan pembangunan sekitar 20 fasilitas produksi biomassa dengan konsep hub dan spoke yang tersebar di sejumlah wilayah.
Dalam skema tersebut, satu fasilitas pengolahan akan melayani dua hingga tiga pembangkit listrik di sekitarnya. Model ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengumpulan biomassa dari masyarakat maupun pelaku usaha di daerah.
“Karena lokasi perkebunan atau sumber biomassa itu terpencar, maka kita harus menjemput bola dengan menyiapkan fasilitas pengolahan di titik-titik strategis,” ujar Hokkop.
Dia menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar, terutama dari sektor perkebunan dan kehutanan. Namun, potensi tersebut masih perlu dioptimalkan melalui pembangunan ekosistem pasokan yang terintegrasi.
“Potensi biomassa kita sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistemnya agar bahan baku ini bisa dikumpulkan, diolah, lalu disalurkan secara efisien ke pembangkit listrik,” katanya.