Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kepulauan Riau (OJK Kepri) menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kepulauan Riau (DPK Kepri) untuk memperkuat literasi ... [367] url asal
Batam (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kepulauan Riau (OJK Kepri) menggandeng Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kepulauan Riau (DPK Kepri) untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui pendekatan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal Melayu.
Asisten Direktur Bagian Pelindungan Konsumen OJK Kepri Muhammad Lutfi menyampaikan bahwa pemikiran ulama dan sejarawan Melayu, Raja Ali Haji, memiliki relevansi yang kuat dengan upaya peningkatan literasi keuangan masyarakat.
"Literasi keuangan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak. Masyarakat yang cerdas keuangan akan mampu mengelola keuangan secara bijak, terhindar dari jeratan utang yang tidak produktif, serta semakin inklusif dalam memanfaatkan layanan keuangan,” katanya dalam keterangan yang diterima di Batam, Kamis.
OJK Kepri menyelenggarakan Seminar Literasi Keuangan bertajuk ‘Konsep Keuangan dalam Pemikiran Raja Ali Haji’ dan diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas pustakawan, mahasiswa, akademisi, pegiat literasi dan budaya melayu, serta masyarakat umum.
“Seminar menghadirkan pembahasan mengenai pemikiran Raja Ali terkait tata kelola kehidupan sosial dan ekonomi, etika, amanah, serta nilai-nilai kebijaksanaan dalam mengelola keuangan yang dinilai tetap relevan dengan perkembangan sistem ekonomi modern saat ini,” kata dia.
Upaya peningkatan literasi ini sejalan dengan program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) yang telah dicanangkan oleh OJK.
Kepala DPK Kepri Moh. Bisri turut menyampaikan pentingnya menghidupkan kembali nilai dan pemikiran Raja Ali Haji melalui penguatan budaya literasi keuangan di masyarakat.
Dalam seminar ini turut menghadirkan narasumber Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kepulauan Riau Anastasia Wiwik Swastiwi yang membahas relevansi pemikiran Raja Ali Haji terhadap tata kelola ekonomi modern dan sistem keuangan yang berkembang saat ini, pentingnya perencanaan keuangan, serta kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Pada kesempatan ini, OJK Kepri juga menyerahkan 17 buku literasi keuangan dengan beberapa topik seperti perencanaan keuangan keluarga, Literasi Keuangan untuk tingkat PAUD, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
Selain itu, pihaknya juga memberikan buku literasi keuangan bagi calon pengantin, Pekerja Migran Indonesia (PMI), serta buku Perempuan Cerdas Keuangan.
OJK Kepri juga tengah mengembangkan Pojok Literasi di Perpustakaan dan Pustakawan sebagai OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan (OJK PEDULI) guna mendukung terciptanya masyarakat yang cerdas, inklusif, dan berdaya saing di Kepri.
Melalui kegiatan ini, OJK Kepri bersama para pemangku kepentingan akan terus memperkuat sinergi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Desa Balai Pungut di Riau kembangkan wisata sejarah dan pacu sampan di Batang Mandau, mengangkat sejarah migas dan budaya lokal untuk tingkatkan ekonomi warga. [1,673] url asal
Bisnis.com, PEKANBARU — Pagi menjelang siang itu cuaca cerah dengan kabut tipis menghiasi langit biru di atas Tepian Batang Mandau, Riau. Suara dayung sampan terdengar jelas oleh pengunjung yang duduk di tepi anak Sungai Siak itu. Perahu-perahu berwarna oranye tampak berkejar-kejaran diiringi suara sorakan karena dikayuh dengan cepat oleh 4 penumpang di atas sampan fiber.
Itulah suasana saat Bisnis bersama puluhan jurnalis lainnya dari Pekanbaru, Dumai, Bengkalis dan Rohil berkunjung ke tepian Batang Mandau di Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir Bengkalis, Riau pada pekan pertama Oktober 2025. Kampung ini tengah bersolek untuk dikembangkan menjadi tempat wisata baru di sekitar Duri Bengkalis.
Tepian sungai di Balai Pungut ini dahulunya punya julukan jalur minyak, karena pada 1939 silam menjadi dermaga pelabuhan dan lokasi utama tempat penurunan alat-alat pengeboran migas lapangan Duri Blok Rokan oleh Nederlandsche Pacific Petroleum Maatschappij (NPPM), yang kemudian berganti nama menjadi Caltex Pacific Oil Company.
Majrun, warga Balai Pungut yang juga Direktur BUMdes setempat mengakui kampungnya dulu jadi tempat lalu lintas alat pengeboran minyak yang didatangkan langsung oleh perusahaan Amerika itu ke Duri.
“Jadi tepian Batang Mandau ini dulunya yard tempat area kerja dan gudang bagi orang NPPM atau Caltex meletakkan berbagai peralatannya sesaat usai diturunkan dari kapal. Ada macam-macam jenisnya untuk pengeboran minyak di Duri,” ungkapnya baru-baru ini.
Mesin-mesin, pipa, sampai ke bahan bakar pendukung operasional kerja perusahaan dibongkar muat dan disimpan di tepian sungai tersebut, untuk kemudian dibawa ke berbagai lokasi sumur migas di Blok Rokan.
“Memang Desa Balai Pungut ini jadi tempat pertama pendukung pengeboran minyak di Duri, sehingga tersohorlah minyak Duri ke seluruh dunia dan Duri menjadi penghasil minyak terbesar di Indonesia,” ujarnya.
Dari cerita orang tuanya dulu di sungai itu ada banyak kapal besar dari perusahaan minyak NPPM yang bersandar, lalu ada juga rakit dan tongkang yang membawa alat-alat pengeboran, sedangkan warga sekitar berprofesi sebagai nelayan dengan sampan kecil mencari ikan.
Untuk mengenang sejarah erat orang Melayu Mandau di Balai Pungut dengan perusahaan minyak NPPM, akhirnya dibangunlah monumen unik di tepi aliran sungai Batang Mandau yang diberi nama Tugu Nasi Kunyit Pagar Telur, dan terakhir direnovasi pada 2021 lalu oleh operator Blok Rokan sebelumnya.
Tugu ini dibangun lima tingkat, sebagai simbol persaudaraan dan penghormatan warga tempatan dengan perusahaan NPPM.
"Istilah lainnya dari nasi kunyit ini adalah sebagai bentuk penghargaan dan selamat datang kepada perusahaan NPPM yang beroperasi dan melakukan pengeboran migas di Mandau ini yang dulunya masuk dalam wilayah Kerajaan Siak," ungkap Majrun.
Dia menyebut di dalam tradisi Melayu, nasi kunyit yang dibuat dari bahan beras ketan atau pulut berwarna kuning keemasan biasanya disajikan di berbagai momen besar keagamaan seperti syukuran, pernikahan, khatam Alquran dan lainnya.
Dari warna kuning itulah yang melambangkan kemuliaan dan keberkahan serta nasi pulut yang lengket itu menggambarkan persaudaraan dan ikatan yang erat dari orang Melayu kepada para tamu yang datang dari negara, bangsa, dan budaya manapun.
Sejumlah tokoh masyarakat tempatan menurutnya juga menceritakan kisah awalnya bagaimana NPPM mendapatkan izin dari Sultan Siak Sri Indrapura untuk mulai mencari minyak di wilayah Mandau. Lalu setelah beberapa tahun kemudian perusahaan tiba di Balai Pungut, dan disanalah akhirnya membawa perubahan dan sejarah panjang sebagai jalur minyak pertama di Riau bagi kampung Melayu itu.
Kini setelah delapan dekade kemudian, warga Balai Pungut mulai menyadari pentingnya menjaga sejarah masa silam, sambil mengembangkan potensi daerah dengan mengangkat kegemaran masyarakatnya yaitu berpacu sampan.
Biasanya para nelayan atau warga setempat yang selesai memancing, akan memilih untuk healing atau melepas penat dengan saling memacu sampannya di aliran sungai Batang Mandau.
Penjabat Kades Balai Pungut, Aisyah menyebut perlu upaya untuk mengembangkan potensi desanya agar bisa mandiri dengan mengangkat kearifan lokal tadi.
“Sejak kecil-kecil dulu saya juga sering melihat para orang tua dan pemuda di sini, setelah mencari ikan di sungai dia suka berlomba atau memacu sampannya di sungai. Hal inilah yang kami angkat kembali agar bisa menjadi sesuatu yang menarik sekaligus bisa menggerakkan ekonomi warga kampung kami,” ujarnya.
Untuk itu pihaknya membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan BUMDes Tuah Melayu untuk serius menggarap potensi Pacu Sampan agar bisa menjadi objek wisata unggulan yang digemari tidak hanya oleh orang di Balai Pungut saja, tetapi juga warga di kampung lainnya di Kecamatan Pinggir.
Karena keseriusan warga desa, dukungan pun mulai berdatangan dari berbagai pihak, salah satunya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan.
Sejumlah bantuan yang sudah disalurkan ke kampung itu tidak hanya sarana seperti sampan pacu saja tetapi yang diberikan mulai dari hulu ke hilir seperti pelatihan dan pengembangan potensi wisata dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) sebagai pendamping program tersebut.
Aisyah menyadari dukungan itu sebagai bentuk stimulus agar pengembangan wisata di daerahnya dapat meningkat, tetapi kunci utama keberhasilan program ini terletak pada keseriusan warga untuk menjaga kebersihan sungai, mengelola dan mengatur kalender wisata dengan baik guna menjaga warisan sejarah kampung itu ke depannya.
“Warga kami sebagian besarnya adalah nelayan dan petani sawit, sekarang sejak adanya program pengembangan wisata di Balai Pungut ini, masyarakat pun mulai punya penghasilan tambahan,” ujarnya.
Dia menyebutkan pada momen puncak lomba Pacu Sampan di Balai Pungut, jumlah pengunjung mencapai ribuan orang dan desa bisa mendapatkan pendapatan asli desa hingga Rp9 juta. Kemudian warga yang membuka usaha kuliner bisa meraih omzet hingga Rp10 juta lebih.
“Memang pacu sampan ini masih dilakukan sekali setahun yaitu di momen 17 Agustus sekaligus merayakan HUT RI, tapi antusiasnya tiap tahun meningkat dan peminatnya juga mulai datang dari kampung lain. Belum lagi soal meningkatnya pendapatan, dulu PAD desa kami kosong sekarang bisa dapat Rp9 juta dari acara pacu sampai di tepian sungai ini,” ungkapnya.
Aisyah mengatakan sampan kayuh yang dikelola BUMDes tersebut bisa digunakan oleh pengunjung hanya dengan membayar Rp5.000 perorang. Hal inilah yang menjadi daya tarik pengunjung untuk mencoba langsung mendayung sampan di Batang Mandau yang alirannya tenang itu.
Lalu ada juga sampan bermotor yang bisa digunakan rombongan 10—15 orang dengan biaya sewa Rp300.000 sehari, dan dengan sampan bermesin tempel itu pengunjung bisa menyusuri aliran Batang Mandau hingga ke hulunya.
Pengunjung mengayuh sampan fiber di Tepian Batang Mandau, Rabu (8/10/2025). Di lokasi ini pemerintah desa mengelola wisata alam termasuk dengan menyewakan sampan fiber dan sampan motor bagi wisatawan yang ingin mencoba sensasi mendayung sampan hingga menyusuri aliran sungai Batang Mandau, Desa Balai Pungut, Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis, Riau. / Bisnis-Arif Gunawan
Pihaknya menyadari kemeriahan lomba pacu sampan hanya terjadi setahun sekali, sehingga membuat pemerintah desa mencari peluang lain untuk mendatangkan keramaian. Diantaranya dengan membuka lomba mancing, karena di sungai itu punya beragam jenis ikan dan cocok jadi tempat spot memancing bagi warga lokal.
Ada beragam jenis ikan sungai yang bisa didapatkan di sini di antaranya adalah ikan baung, ikan toman, serta selais. Bagi tiap pengunjung yang berminat tinggal datang ke lokasi dan membayar Rp5.000 untuk retribusi.
Aisyah menambahkan untuk menjaga sejarah Balai Pungut sebagai tempat pertama turunnya alat pengeboran migas di Riau, pihaknya berencana membangun Tugu Sejarah Minyak Mandau, karena hingga kini masih ada 22 sumur migas tua aktif di Tandun Field yang lokasinya tidak jauh dari kampung tersebut.
Selain punya wisata sejarah migas dan budaya lokal, Balai Pungut juga memiliki potensi wisata religi. Di kampung itu terdapat makam Syekh Haji Imam Sabar, ulama penyebar tarekat Naqsyabandiyah pertama di Mandau.
Lokasi ini kerap diziarahi masyarakat dan menjadi pelengkap spiritual di tengah geliat wisata sungai yang berkembang.
Dukungan yang diberikan PHR ternyata tidak berhenti sampai di situ saja. Kaum ibu dan pemudi desa juga tidak luput dari dukungan dan pengembangan keterampilan. Mereka diajak untuk mengikuti pelatihan manajemen usaha kuliner dan pelayanan wisata.
Lewat acara itu peserta diberikan keterampilan mengolah hasil tangkapan ikan sungai menjadi berbagai jenis kuliner, seperti gulai baung, salai ikan selais, hingga pepes ikan toman.
Kemudian juga diajarkan cara penyajian yang higienis dan membuat kemasan produk menjadi semenarik mungkin untuk memanjakan para tamu dan pengunjung tepian sungai yang berdatangan ke kampungnya.
Kegiatan ini difasilitasi UMRI bersama Institut Pariwisata Yogyakarta untuk mendukung program Wisata Gastronomi Batang Mandau yang sudah disiapkan oleh PHR.
Dosen dan penanggung jawab program pengembangan Desa Wisata dari UMRI, Delovita menyebutkan kalau untuk menjadi tujuan wisata berkelanjutan, desa tidak boleh berhenti hanya mengembangkan event saja.
“Jadi kami bersama Pemerintah Desa sudah menyusun Rencana Induk Pariwisata Desa atau RIPARDES, agar wisata di Balai Pungut ini berkelanjutan dan semuanya itu dilakukan berbasis data dimulai dari potensi alamnya, budayanya hingga sejarah Balai Pungut yang tidak bisa dilepaskan dari industri migas di Indonesia,” ujarnya.
Indah Melia, salah seorang pengunjung asal pulau Bengkalis, menyebut dirinya sengaja datang ke Tepian Batang Mandau untuk berlibur bersama keluarga. Dirinya mengakui berwisata ke sungai itu menjadi kesenangan dirinya ditambah lagi lingkungan sekitar lokasi itu menurutnya bersih dan indah.
“Sungainya dan lingkungan di sini bersih membuat kami nyaman untuk berkunjung bersama keluarga. Biaya masuk dan parkirnya juga sangat terjangkau, jadi cocok untuk piknik bareng dan melepas lelah di sini,” ungkapnya.
Bagi PHR, inisiatif pihaknya untuk mendukung pengembangan wisata di Batang Mandau ini sejalan dengan visi menjadi perusahaan migas terkemuka yang mengutamakan ketahanan dan keberlanjutan energi sekaligus memberi nilai tambah bagi lingkungan sekitarnya.
“Lewat pendekatan dan pemberdayaan ke masyarakat, pelestarian lingkungan dan inovasi sosial, PHR berupaya menjaga keseimbangan produksi energi dan kehidupan sekitar,” ujar Senior Officer CID PHR, R. Muhammad Wildan.
Pihaknya juga menyadari kunci kesuksesan wisata di kampung Balai Pungut ini terletak pada semangat warganya karena sudah berkomitmen dan mau bersama-sama mengembangkan sejarah masa lalu dari jalur minyak menjadi desa mandiri dari mengelola wisata sungai Batang Mandau.
Setelah hampir 3 jam berkeliling di Batang Mandau, Bisnis merasakan langsung bagaimana tepian sungai itu sudah berhasil disulap warganya menjadi kampung wisata yang punya daya tarik unik, dan mampu menggerakkan denyut ekonomi bagi rakyatnya.
Memang dengan semangat gotong royong serta kebersamaan dan didukung perusahaan, Balai Pungut telah menjelma tidak hanya sekadar kampung yang menjadi jalur alat pengeboran, tapi kini telah membawa pundi-pundi penghasilan dan masa depan bagi warganya dari para tamu yang datang untuk pelesiran.
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Balai Pungut, Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis mendampingi pengunjung objek wisata sampan motor di Tepian Batang Mandau, Rabu (8/10/2025). Pemerintah desa Balai Pungut serius mengembangkan wisata daerahnya dengan mengangkat sejarah asal mula eksplorasi migas di Riau, sambil mengulik potensi wisata alam dari aliran anak sungai Siak. / Bisnis-Arif Gunawan.