NEUCHATEL, KOMPAS.com — Di tengah upaya pemerintah mempercepat hilirisasi sebagai salah satu prioritas nasional, Indonesia dinilai masih perlu memperkuat satu mata rantai penting agar sumber daya alam tidak hanya diolah menjadi produk bernilai tambah, tetapi juga melahirkan ekonomi berbasis teknologi.
Untuk mempelajari model tersebut, serta dalam rangka memperingati 75 tahun Indonesia-Swiss, delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Media, termasuk Kompas.com, mengunjungi Centre Suisse d'Electronique et de Microtechnique (CSEM) di Neuchatel, Swiss, Jumat (26/6/2026).
CSEM (Pusat Elektronika dan Mikroteknologi Swiss) merupakan pusat inovasi teknologi Swiss yang berperan menjembatani hasil riset akademik dengan kebutuhan industri.
Menurut CSEM, mata rantai yang perlu diperkuat adalah transfer teknologi, yakni proses menjembatani hasil riset agar tidak berhenti di laboratorium, melainkan berkembang menjadi produk yang diproduksi industri dan menciptakan nilai tambah ekonomi.
"Saya pikir Indonesia banyak berinvestasi dalam pendidikan dan riset. Indonesia juga memiliki banyak perusahaan dan banyak produksi. Tetapi banyak perusahaan gagal karena mereka berinvestasi besar di fase awal dan memiliki sistem industri, tetapi lupa berinvestasi pada teknologi," kata VP Marketing and Business Development CSEM Bahaa Roustom.
"Bagi Indonesia, itu akan menjadi nilai tambah yang bagus, bukan hanya riset, tetapi transfer teknologi dan pengembangan teknologi," lanjut Bahaa.
Menurut Bahaa, pelajaran tersebut lahir dari pengalaman Swiss menghadapi krisis industri jam pada era teknologi quartz. Saat itu Swiss menjadi salah satu negara pertama yang mengembangkan teknologi quartz, tetapi gagal mengubahnya menjadi produk industri.
Sebaliknya, Jepang berhasil mengindustrialisasi dan mengomersialkan teknologi tersebut sehingga industri jam Swiss mengalami krisis besar yang menyebabkan sekitar 90.000 pekerjaan hilang.
"Pertanyaannya saat itu, bagaimana memastikan apa yang ditemukan di Swiss tetap berada di Swiss, menghindari valley of death, lalu masuk ke industrialisasi dan menciptakan dampak serta nilai," ujar Bahaa.
Menjembatani riset hingga industri
DOK. KBRI BERN Delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group saat mengunjungi CSEM di Neuchâtel, Swiss, Jumat (26/6/2026). Dari pengalaman tersebut, tiga lembaga riset publik kemudian digabung menjadi CSEM yang kini berstatus perusahaan privat nirlaba.
Menurut Bahaa, status privat membuat CSEM lebih lincah mengikuti perubahan teknologi yang siklusnya hanya sekitar lima hingga enam tahun. Sementara status nirlaba membuat seluruh aktivitas organisasi berorientasi pada keberhasilan industri, bukan mengejar keuntungan perusahaan.
"Profit kami adalah ketika klien kami berhasil," kata Bahaa.
Ia menjelaskan, CSEM berada di antara universitas dan industri. Universitas bertugas menghasilkan riset dasar, sedangkan perusahaan memproduksi dan memasarkan produk. Adapun CSEM berfokus mematangkan teknologi agar siap diindustrialisasi.
Karena itu, komposisi pegawainya juga dibuat seimbang. Sebagian merupakan peneliti yang baru menyelesaikan pendidikan doktoral sehingga memahami perkembangan riset terbaru, sementara sebagian lainnya merupakan insinyur yang telah memiliki pengalaman 10 hingga 20 tahun di industri.
"CSEM harus berbicara dalam dua bahasa, bahasa riset dan bahasa industri," ujar Bahaa.
Saat ini CSEM memiliki sekitar 640 spesialis. Pada 2025, lembaga tersebut membukukan pendapatan 118 juta franc Swiss, memiliki 170 keluarga paten, serta telah melahirkan lebih dari 50 perusahaan rintisan berbasis teknologi.
Pendanaannya juga dibuat berimbang, yakni berasal dari proyek industri, kontribusi industri, pemerintah federal, pemerintah kanton, proyek Uni Eropa, Innosuisse, dan sumber lainnya.
Bahaa menyebut keseimbangan tersebut menjadi "golden rule" CSEM. Sepertiga anggaran digunakan untuk mengembangkan teknologi baru melalui pendanaan publik, sepertiga mematangkan teknologi melalui proyek kompetitif, dan sepertiga lagi mentransfer teknologi kepada industri.
"Kami mengembangkan hari ini apa yang akan dibutuhkan industri dalam lima tahun untuk menjadi produk dalam tiga sampai empat tahun," katanya.
Investasi inovasi saat krisis
KOMPAS.com/Aprillia Ika Gedung CSEM (Pusat Elektronika dan Mikroteknologi Swiss) di Neuchâtel, Swiss, yang dikunjungi delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Media untuk mempelajari model transfer teknologi, Jumat (26/6/2026).Bahaa mengatakan, salah satu pelajaran lain dari Swiss adalah tetap meningkatkan investasi inovasi ketika kondisi ekonomi sedang sulit.
Menurut dia, banyak negara justru memangkas anggaran riset saat krisis. Padahal, inovasi menjadi salah satu cara agar industri tetap kompetitif ketika ekonomi memburuk.
"Ketika ada krisis, berinvestasilah pada inovasi karena itu satu-satunya cara untuk bertahan," ujarnya.
Ia mencontohkan, perusahaan-perusahaan Swiss justru datang ke CSEM saat menghadapi tekanan ekonomi untuk mengembangkan produk baru, menekan biaya produksi, dan meningkatkan nilai tambah.
Pemerintah Swiss maupun pemerintah kanton juga memberikan dukungan pembiayaan agar perusahaan tetap menjalankan proyek inovasi.
Menurut Bahaa, pemerintah tidak menilai CSEM berdasarkan jumlah publikasi ilmiah ataupun faktor dampak penelitian. Yang dinilai adalah berapa banyak proyek transfer teknologi yang berhasil dilakukan dan dampak ekonominya bagi Swiss.
"Mereka hanya bertanya berapa banyak proyek transfer teknologi yang dilakukan di Swiss dan apa dampak ekonominya," kata Bahaa.
Target Hilirisasi Jadi Prioritas Pemerintah
GALIH PRADIPTA Presiden Prabowo Subianto memberi sambutan saat pembukaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta, Jumat (26/6/2026). Sarasehan Kebangsaan yang dihadiri 2.600 rektor, dekan dan dosen Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Indonesia tersebut diselenggarakan dengan tema Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/kyePemerintah menjadikan hilirisasi dan industrialisasi sebagai salah satu agenda pembangunan nasional.
Sebelumnya, dalam rapat terbatas di Hambalang, Bogor, Rabu (25/3/2026), Presiden Prabowo Subianto menegaskan percepatan hilirisasi sebagai bagian dari penguatan ekonomi nasional.
Selanjutnya, dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026), Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi negara lain.
"Yang paling penting kita akan melakukan industrialisasi. Kita akan melaksanakan industrialisasi melalui hilirisasi. Semua komoditas kita akan olah dan akan menjadi industri-industri di Indonesia," ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, seluruh kekayaan alam Indonesia harus diolah di dalam negeri agar menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat daya saing industri nasional.
Ia juga menyebut kebijakan hilirisasi akan membuka peluang bagi pengusaha muda untuk berkembang dan menjadi pelaku dalam pembangunan industri nasional.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang