Bisnis.com, JAKARTA — Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menyetujui resolusi yang mendukung rencana perdamaian Gaza dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang salah satunya mencakup pembentukan pasukan perdamaian di kawasan tersebut.
Melansir Bloomberg pada Selasa (18/11/2025), sebanyak 13 negara mendukung proposal yang dipimpin AS dalam pemungutan suara pada Senin, sementara Rusia dan China memilih abstain.
Keputusan tersebut bersifat simbolis karena rencana 20 poin Trump pada dasarnya sudah berjalan sejak Israel dan Hamas menyepakati kesepakatan damai pada Oktober.
Meski begitu, AS mendorong pengesahan DK PBB untuk menjaga momentum diplomatik dan mengamankan dukungan internasional, termasuk pengerahan pasukan penjaga perdamaian yang dibutuhkan untuk memantau gencatan senjata di Gaza.
“Resolusi hari ini merupakan langkah signifikan menuju Gaza yang stabil dan sejahtera, serta lingkungan yang memungkinkan Israel hidup dalam keamanan,” ujar Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz dalam sidang DK PBB.
Tidak adanya penolakan dari Rusia dan China, yang memiliki hak veto, menandakan keduanya memilih untuk tidak menghalangi rencana tersebut di forum internasional.
Waltz juga menyampaikan bahwa pasukan dari sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim, termasuk Indonesia dan Azerbaijan, akan tergabung dalam International Stabilization Force.
Pasukan ini akan bekerja sama dengan Mesir dan Israel untuk menjaga ketertiban selama Israel Defense Forces (IDF) menarik pasukannya dari Gaza, sementara Board of Peace yang digagas Trump mempersiapkan pemerintahan transisi. Mandat pasukan tersebut berlaku hingga 31 Desember 2027 dan dapat diperpanjang oleh DK PBB.
“Itu penting untuk menerjemahkan momentum diplomatik menjadi langkah nyata dan mendesak di lapangan,” ujar juru bicara PBB Stéphane Dujarric.
Dia menegaskan komitmen PBB untuk menjalankan peran yang diberikan dalam resolusi tersebut, termasuk meningkatkan bantuan kemanusiaan di Gaza. Dalam dokumen resolusi, Board of Peace yang dipimpin Trump diwajibkan melaporkan perkembangan kepada DK PBB setiap enam bulan.
Trump menyambut keputusan tersebut lewat unggahan di Truth Social. “Selamat kepada dunia atas hasil pemungutan suara luar biasa di DK PBB yang mengakui dan mendukung Board of Peace, yang akan saya pimpin bersama para pemimpin paling berpengaruh di dunia. Ini akan menjadi salah satu persetujuan terbesar dalam sejarah PBB," tulisnya.
Walaupun resolusi tersebut memperoleh dukungan dari beberapa pihak di luar DK, termasuk Otoritas Palestina, sejumlah negara menyatakan kekhawatiran bahwa rencana itu belum memberikan jalur jelas menuju solusi dua negara.
Dokumen itu menyatakan rencana Trump akan memfasilitasi jalur kredibel menuju penentuan nasib sendiri dan kenegaraan Palestina, serta mengatakan bahwa AS akan memulai dialog antara Israel dan Palestina untuk menyepakati horizon politik bagi koeksistensi damai dan sejahtera.
Pekan lalu, Rusia mengajukan draft resolusinya sendiri yang lebih mengutamakan pembentukan negara Palestina. Delegasi AS memperingatkan bahwa upaya untuk memecah belah akan berdampak serius dan merugikan warga Palestina di Gaza.