Bisnis.com, JAKARTA — PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) belum berencana melakukan revisi target untuk segmen business to business (B2B) atau korporasi di tengah kondisi geopolitik yang memanas. XLSMART menyampaikan kinerja bisnis B2B atau enterprise tetap on track hingga akhir Maret 2026
Direktur & Chief Enterprise Strategic Relationship Officer XLSMART Andrijanto Muljono mengatakan kondisi bisnis korporasi perseroan masih berjalan sesuai target yang ditetapkan di awal tahun. Hal ini terjadi di tengah fenomena cost-of-living crisis yang menekan konsumsi rumah tangga secara luas akibat kenaikan harga barang pokok di pasar global.
"Sampai dengan Q1/2026, pencapaian enterprise masih on track sesuai target yang sudah ditetapkan sebelumnya," ujar Andrijanto kepada Bisnis, Sabtu (11/4/2026).
Dia menambahkan, secara proyeksi tahunan, segmen B2B perseroan ditargetkan tumbuh double digit dibandingkan tahun lalu—pertumbuhan yang lebih agresif dibanding rata-rata industri telekomunikasi nasional.
Lebih jauh, Andrijanto mengungkapkan aspirasi perseroan agar pendapatan layanan B2B dapat menyentuh hingga 20% dari total pendapatan konsolidasi XLSMART. Bila dibandingkan dengan struktur pendapatan perusahaan telekomunikasi besar lain yang umumnya masih didominasi segmen konsumer di kisaran 80–85%, target 20% dari B2B menjadi ambisi yang cukup signifikan dan mencerminkan pergeseran strategi bisnis XLSMART pascamerger.
Untuk mendorong capaian tersebut, perseroan menyasar sektor-sektor yang masih memiliki kebutuhan konektivitas tinggi, terutama layanan 5G. Menurut Andrijanto, permintaan konektivitas dari segmen korporasi dan pemerintahan terus meningkat, sehingga kualitas dan jangkauan jaringan menjadi prioritas utama solusi yang ditawarkan perseroan.
"Kami memprioritaskan solusi dari sisi kualitas dan jangkauan layanan connectivity, selaras dengan kebutuhan konektivitas masyarakat yang tinggi dan terus meningkat," katanya.
Langkah perseroan mengoptimalkan segmen B2B tidak lepas dari konteks kinerja keuangan XLSMART secara keseluruhan. Sepanjang 2025, XLSMART membukukan pendapatan sebesar Rp42,4 triliun, meningkat 23,41% dibandingkan 2024 yang tercatat sebesar Rp34,39 triliun.
EBITDA yang dinormalisasi tumbuh 13% menjadi Rp20,1 triliun, sementara laba bersih yang dinormalisasi melesat 63% menjadi Rp3 triliun. Layanan data dan digital menjadi tulang punggung perseroan, menyumbang lebih dari 90% terhadap total pendapatan.
Meski demikian, beban operasional yang tinggi—termasuk beban penyusutan dan amortisasi pascamerger—membuat perseroan mencatat rugi usaha sebesar Rp1,13 triliun pada 2025, berbalik dari laba usaha Rp5,75 triliun pada 2024. Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa efisiensi melalui pertumbuhan segmen B2B bernilai tinggi menjadi prioritas strategis ke depan.
Dengan fondasi pendapatan yang tumbuh konsisten dan pipeline korporasi yang masih solid di awal 2026, XLSMART tampaknya memilih jalan memutar dari tekanan segmen ritel