Bisnis.com, JAKARTA — Popularitas maraton sebagai bagian dari gaya hidup urban terus meningkat. Namun di balik euforia tersebut, terdapat risiko kesehatan serius yang kerap luput dari perhatian, terutama bagi pelari yang tidak mempersiapkan diri secara optimal.
Salah satu ancaman utama adalah heatstroke atau serangan panas, kondisi ketika suhu tubuh meningkat drastis hingga menembus 40 derajat Celcius atau lebih.
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Eka Hospital BSD, dr. Hendyono Lim, menegaskan bahwa heatstroke bukan sekadar tubuh kepanasan, melainkan kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh yang dapat berujung fatal jika terlambat ditangani.
Iklim tropis Indonesia dengan suhu rata-rata di atas 30 derajat Celcius dan tingkat kelembapan tinggi memperbesar risiko tersebut. Kondisi ini menjadi lebih berbahaya ketika pelari tidak terbiasa berlatih di cuaca panas, sehingga tubuh tidak memiliki adaptasi yang memadai terhadap stres panas saat lomba berlangsung.
Durasi maraton yang panjang juga menuntut strategi hidrasi dan asupan elektrolit yang tepat. Kekurangan cairan dan ketidakseimbangan elektrolit dapat mempercepat terjadinya heatstroke.
“Intake cairannya kurang, elektrolitnya terganggu. Itu bisa memicu heatstroke,” ujar pria yang karib disapa Hendy itu kepada Bisnis, beberapa waktu lalu.
Dampak heatstroke tidak berhenti pada peningkatan suhu tubuh. Dehidrasi dan gangguan elektrolit dapat membebani kerja jantung secara signifikan. Salah satu komplikasi yang paling sering muncul adalah aritmia atau gangguan irama jantung, yang berpotensi memicu kegagalan organ hingga kematian.
Selain itu, terdapat risiko lain yang lebih tersembunyi, yakni kelainan jantung yang belum terdeteksi. Pelari berusia di atas 40 tahun atau mereka yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, serta riwayat merokok, memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gangguan jantung saat menjalani aktivitas fisik intens dalam durasi panjang.
Kondisi ini menjelaskan mengapa sejumlah kasus kolaps saat maraton kerap terjadi pada peserta yang sebelumnya terlihat sehat. Oleh karena itu, Hendy menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti maraton.
Medical check up diperlukan untuk mengetahui kondisi jantung dan kemampuan tubuh menghadapi beban fisik ekstrem. Persiapan latihan yang terstruktur dan bertahap juga menjadi kunci keselamatan.
Pelari juga perlu mengenali tanda awal heatstroke. Gejala seperti pusing, rasa melayang, kulit panas dan kering, kram otot, mual, hingga pandangan kabur merupakan sinyal bahwa tubuh bekerja melampaui kapasitasnya.
Lonjakan detak jantung yang terekam smartwatch seharusnya menjadi peringatan, bukan tantangan untuk memacu kecepatan.
“Itu sudah menjadi tanda-tanda yang harus diwaspadai untuk menjadi heatstroke,” tegasnya.
Sementara itu, bagi pelari pemula yang mengikuti maraton semata karena tren, Hendy berpesan bahwa intensitas yang terlalu cepat dengan durasi panjang dapat memicu gangguan irama jantung dan menurunkan aliran darah ke organ vital.
Untuk meminimalkan risiko, Hendy menyarankan pelari melakukan adaptasi latihan di cuaca panas, memantau tekanan darah, terutama bagi usia di atas 40 tahun, serta tidak memaksakan diri saat kondisi tubuh menurun atau sedang demam. Selama lomba, pelari dianjurkan menjaga detak jantung tetap di zona aman, mencukupi kebutuhan cairan dan elektrolit, serta mengenakan pakaian yang sesuai untuk melindungi dari paparan panas langsung.
“Jika sudah mulai pusing, kram, mual,kulit terasa kering dan panas, jangan dipaksakan. Segera minta bantuan medis,” imbaunya.
Bagi penyelenggara, Hendy menekankan tersedianya pos medis setiap 2–5 kilometer, didukung tim terlatih dan ambulans di titik-titik strategis untuk evakuasi cepat. Keberadaan Automated External Defibrillator (AED) dinilai krusial untuk menangani kolaps akibat gangguan irama jantung, sementara penanganan heatstroke membutuhkan fasilitas pendinginan seperti ice pack dan spons basah di sepanjang rute.