Bisnis.com, JAKARTA — Janji keuntungan besar dalam waktu singkat dengan risiko minim, bahkan nihil, masih menjadi modus paling umum dalam berbagai kasus penipuan investasi yang menjerat masyarakat.
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi Mike Rini Sutikno menuturkan bahwa narasi seperti “uang bekerja untuk kita” atau cukup menaruh modal lalu menikmati hasil rutin, kerap dijadikan umpan utama oleh pelaku. Skema ini dinilai sangat efektif menarik minat calon investor yang menginginkan hasil instan tanpa proses panjang.
“Kalau sudah dijanjikan untung tinggi tanpa risiko, itu sebenarnya tanda bahaya paling awal. Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko,” ujarnya saat berbincang dengan Bisnis, belum lama ini.
Selain imbal hasil yang tidak rasional, Mike menekankan bahwa minimnya transparansi juga menjadi ciri khas penipuan investasi. Informasi mengenai pengelola dana, mekanisme bisnis, hingga dasar perhitungan keuntungan sering kali tidak disampaikan secara jelas, bahkan sengaja disamarkan. Kondisi ini membuat investor rentan mengambil keputusan tanpa verifikasi memadai.
Pelaku penipuan, lanjutnya, umumnya juga menciptakan tekanan psikologis berupa rasa takut kehilangan peluang atau fear of missing out (FOMO). Investor didorong untuk segera menyetor dana dengan batas waktu sempit, sehingga tidak memiliki ruang untuk berpikir kritis maupun melakukan uji kelayakan.
Tekanan tersebut kerap diperkuat dengan testimoni dan pamer kemewahan di media sosial. Tampilan gaya hidup mewah, kendaraan mahal, hingga klaim sukses dalam waktu singkat digunakan sebagai alat persuasi, meski sulit dibuktikan kebenarannya secara independen.
“Yang sering pamer lifestyle, gaya hidup mewah itu yang patut dicurigai,” kata Mike.
Menurutnya, investor yang benar-benar sukses justru cenderung tidak menonjolkan kemewahan secara berlebihan. Oleh karena itu, Mike mengingatkan pentingnya mencermati latar belakang edukator investasi, terutama di sektor kripto.
Di Indonesia, pasar kripto masih didominasi investor pemula, bahkan regulator pun masih terus belajar mengikuti perkembangan industri tersebut. “Sehingga kelakuan kriminalnya itu memang lebih leluasa beroperasi, beda sama banking,” imbuhnya.
Dalam berinvestasi, Mike menegaskan bahwa kemungkinan terburuk harus selalu diperhitungkan. Tidak ada instrumen yang dapat menjamin pertumbuhan di masa depan. Karena itu, sikap skeptis dan kebiasaan melakukan verifikasi menjadi kunci utama bagi investor.
Strategi Investasi Paling Dasar
Menurutnya, langkah paling dasar sebelum memilih instrumen investasi adalah melakukan riset secara mendalam.
“Riset, pelajari lah,” tegas Mike.
Calon investor perlu memahami instrumen yang dipilih hingga detail, sekaligus menyesuaikannya dengan profil risiko pribadi yang dipengaruhi tujuan investasi dan usia. Selain itu, legalitas produk juga wajib dicek melalui lembaga resmi seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Konsultasi dengan perencana keuangan independen dinilai penting untuk memahami mekanisme produk yang ditawarkan. Strategi diversifikasi portofolio juga menjadi elemen krusial untuk meminimalkan risiko.
Mike menyarankan, penempatan aset sebaiknya dibagi ke berbagai instrumen dengan tingkat risiko berbeda, mulai dari yang relatif aman dan bertumbuh stabil, berpendapatan reguler jangka menengah, hingga berpotensi memberikan pertumbuhan signifikan dalam jangka panjang.
“Perlu diatur sedemikian rupa dan tiap orang itu susunan atau strategi diversifikasi portofolio investasinya bisa berbeda-beda,” ujarnya.
Di samping itu, menjaga likuiditas tetap menjadi keharusan. Dana darurat diperlukan untuk mengantisipasi kondisi rugi, mengingat risiko selalu melekat dalam setiap investasi.
Investor juga disarankan memiliki exit plan yang jelas. Target keuntungan, batas kerugian, serta waktu evaluasi perlu ditentukan sejak awal. “Kalau sudah mencapai kuota atau target keuntungan, kita mesti exit atau evaluasi lagi target kita,” jelas Mike.