Indonesia dan Arab Saudi, dua negara dengan ekonomi bernilai lebih dari US$1 triliun, memiliki potensi besar untuk mempererat hubungan bisnis dan investasi. Hal tersebut disampaikan oleh Pure International, anak perusahaan dari Pure Consulting.
Untuk mendukung visi tersebut, Pure International melakukan misi penjajakan investasi ke Indonesia guna memperkuat hubungan strategis, mendorong kolaborasi bisnis, serta memperkenalkan berbagai peluang yang muncul seiring transformasi Arab Saudi di bawah Vision 2030.
Sebagai perusahaan yang berkomitmen memperkenalkan perkembangan dan transformasi Arab Saudi kepada dunia internasional, Pure International membantu meningkatkan pemahaman global mengenai transformasi ekonomi dan peluang investasi yang berkembang di Arab Saudi.
Kunjungan ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan peluang di berbagai sektor serta mempererat hubungan dengan perusahaan dan investor Indonesia yang ingin membangun kemitraan dan menjadi bagian dari pertumbuhan Arab Saudi yang terus berlanjut.
CEO Pure Consulting, Khalid AlShakhshir, menilai hubungan yang telah lama terjalin antara kedua negara menjadi fondasi yang kuat untuk memperluas kerja sama ekonomi di masa depan.
"Hubungan Arab Saudi dan Indonesia telah dibangun di atas fondasi agama, budaya, sejarah, serta hubungan antar masyarakat yang kuat. Yang berubah saat ini adalah Arab Saudi tidak lagi hanya menjadi destinasi spiritual, tetapi juga berkembang menjadi ekonomi yang terdiversifikasi, tumbuh pesat, dan didorong oleh investasi," ujarnya.
Kisah Sukses Indonesia di Arab Saudi
Misi ini mencerminkan semakin besarnya kesadaran bahwa ekonomi yang berkembang pesat seperti Indonesia dan Arab Saudi perlu memperkuat hubungan antar pelaku usaha guna mendorong pertumbuhan bersama yang saling menguntungkan.
Peluang kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi bukanlah hal baru. Sejumlah perusahaan Indonesia, seperti Indofood, telah hadir di Arab Saudi selama puluhan tahun dan dikenal luas oleh masyarakat setempat.
Produk Indomie telah diproduksi di Jeddah sejak 1992 dan didistribusikan ke berbagai negara di Timur Tengah melalui kemitraan dengan perusahaan Arab Saudi.
Masyarakat Indonesia juga memiliki peran penting dalam penyelenggaraan ibadah Haji dan Umrah setiap tahun. Indonesia merupakan salah satu negara asal jamaah terbesar di dunia.
Perusahaan Indonesia juga telah berinvestasi di sektor Haji dan Umrah di Arab Saudi, termasuk melalui akuisisi Hotel Novotel Makkah Thakher oleh Danantara pada 2025.
Pertumbuhan Investasi Arab Saudi
Arab Saudi kini berkembang melampaui peran tradisionalnya sebagai salah satu pilar ekonomi energi dunia. Pada 2025, sektor non-migas menyumbang 55% terhadap PDB atau setara sekitar US$892 miliar.
Pertumbuhan ini didukung oleh berbagai kebijakan yang pro terhadap dunia usaha, seperti penyederhanaan proses perizinan, perluasan layanan pemerintah digital, kebijakan kepemilikan asing hingga 100% di berbagai sektor, serta populasi yang muda dan dinamis.
Dalam wawancara dengan CNN Indonesia, Khalid AlShakhshir menjelaskan bahwa masyarakat Arab Saudi memiliki daya beli yang tinggi, didominasi generasi muda, dan sangat akrab dengan teknologi digital.
Infrastruktur digital di negara tersebut juga telah berkembang dengan baik dan mendukung aktivitas bisnis. Posisi geografis Arab Saudi juga menjadikannya pusat konektivitas yang strategis karena berada di persimpangan Eropa, Asia, dan Afrika.
Keunggulan ini semakin diperkuat melalui pengembangan berbagai kawasan industri dan infrastruktur utama seperti Ras Al Khair, Jubail Industrial City, dan King Abdullah Economic City yang mendukung aktivitas manufaktur, logistik, dan industri teknologi tinggi.
Sebagaimana Indonesia menjadi penghubung antara Samudra Hindia dan Pasifik, Arab Saudi berperan menghubungkan Timur dan Barat. Kondisi ini menjadikan kedua negara sebagai koridor perdagangan yang penting di kawasan masing-masing.
Di samping itu, rangkaian agenda internasional Arab Saudi yang ambisius juga menciptakan permintaan jangka panjang di berbagai sektor.
Agenda besar seperti AFC Asian Cup 2027, Expo 2030 Riyadh yang diperkirakan akan menarik lebih dari 42 juta kunjungan, serta FIFA World Cup 2034 membuka peluang baru di sektor hospitality, logistik, konstruksi, teknologi, hiburan, dan jasa profesional.
Sektor pariwisata Arab Saudi juga mengalami pertumbuhan yang pesat. Pada 2025, negara tersebut menerima 123 juta wisatawan dan menargetkan peningkatan menjadi 150 juta wisatawan pada 2030.
Belanja wisata mencapai sekitar US$81 miliar, sementara jumlah jamaah umrah internasional telah melampaui 18 juta orang.
Angka-angka tersebut semakin memperkuat posisi Arab Saudi sebagai salah satu destinasi wisata religi dan pariwisata terbesar di dunia sekaligus menciptakan permintaan yang berkelanjutan bagi berbagai industri terkait.
Kementerian Investasi Arab Saudi telah membangun proses investasi yang lebih sederhana dan berorientasi pada investor melalui sistem yang dirancang untuk menyederhanakan serta mendigitalisasi seluruh proses investasi.
Kerangka ini menawarkan tahapan yang jelas, cepat, dan transparan, didukung oleh proses digital onboarding serta pusat layanan terpadu yang membantu mempercepat pengambilan keputusan bagi investor global.
Untuk memperkuat daya saingnya, Arab Saudi juga menawarkan berbagai insentif dan fasilitas yang dirancang untuk menarik investasi asing, sekaligus membuka peluang pertumbuhan bisnis lintas negara di kawasan sekitarnya.
Managing Partner Pure Consulting, Anas AlSafi, mengatakan Arab Saudi menawarkan berbagai insentif dan pembebasan pajak yang menarik bagi investor asing untuk membangun keunggulan kompetitif jangka panjang.
"Dalam kondisi tertentu, investor berpotensi memperoleh pembebasan pajak penghasilan hingga 10 tahun, serta pengecualian terhadap beberapa ketentuan ketenagakerjaan lokal yang dapat meningkatkan fleksibilitas operasional bagi investasi yang memenuhi syarat," paparnya.
Sebagai platform pertumbuhan, Arab Saudi telah mencatat kemajuan yang signifikan dalam satu dekade terakhir dan diperkirakan akan terus berakselerasi dalam lima tahun ke depan. Vision 2030 bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan transformasi yang akan berlanjut melalui Vision 2040.
Dengan posisinya sebagai penghubung Timur Tengah, Eropa, dan Afrika, Arab Saudi semakin memperkuat perannya sebagai pusat pertumbuhan strategis yang membuka peluang regional dan lintas negara bagi investor maupun pelaku usaha.
Peluang Perusahaan Indonesia
Perkembangan tersebut membuka peluang besar bagi perusahaan Indonesia di berbagai sektor, termasuk pariwisata dan hospitality, manufaktur (termasuk produk halal), logistik, serta ekonomi digital.
Keunggulan Indonesia di bidang manufaktur, komponen otomotif, industri halal, layanan hospitality, dan talenta digital sejalan dengan upaya Arab Saudi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi non-migas.
Indonesia memiliki hubungan yang kuat dan telah terjalin lama dengan Arab Saudi di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan budaya. Kedekatan ini menjadi keunggulan tersendiri bagi Indonesia dalam membangun kerja sama dengan Arab Saudi.
"Arab Saudi dan Indonesia bukanlah dua negara yang asing satu sama lain. Jembatannya sudah ada; peluang berikutnya adalah memperluas hubungan antar masyarakat menjadi kemitraan antar bisnis," kata Khalid AlShakhshir.
"Arab Saudi saat ini lebih terbuka dari sebelumnya, baik untuk pariwisata maupun dunia usaha," pungkasnya.