JAKARTA, KOMPAS.com - Industri pengelolaan susu nasional bisa berkembang dengan kerja sama antara pelaku industri, sektor swasta, hingga pemerintah.
Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Peternakan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Karsan, juga mengaku optimistis terhadap industri persusuan nasional.
Menurut dia, industri susu Indonesia memiliki potensi yang sangat besar.
Untuk itu, terdapat tiga hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan industri susu nasional.
"Kami percaya bahwa masa depan industri persusuan Indonesia akan ditentukan oleh tiga hal, yang pertama adalah penguatan kapasitas peternak dan koperasi, memperkuat akses pembiayaan, teknologi, dan pendampingan agar produktivitas meningkat secara berkelanjutan," kata dia, Senin (15/12/2025).
Setelah itu, industri susu Indonesia memerlukan investasi industri dalam negeri. Berikutnya, industri susu membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
"Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Pemerintah, industri, koperasi, akademisi, dan peternak harus berjalan bersama dalam satu visi, yakni mewujudkan swasembada susu nasional,” ungkap dia.
Industri susu nasional penuhi Makan Bergizi Gratis
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, pengelolaan industri pengelolaan susu nasional mampu memenuhi tantangan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan, optimisme pelaku industri masih memiliki kecenderungan ekspansi.
Hal tersebut tecermin dalam indeks kepercayaan industri pada November 2025 di angka 53,45.
Sedangkan indeks Purchasing Managers Index (PMI) November 2025 berada di angka 53,3. "Artinya, industri pengolahan susu kita secara nasional mampu untuk memenuhi tantangan kebutuhan MBG," kata dia.
Ia menambahkan, saat ini industri pengolahan susu nasional masih berupaya memenuhi kebutuhan program MBG.
Adapun tantangan muncul dengan adanya keterbatasan unit pengisian (filling) untuk kemasan berukuran kecil yang kapasitasnya belum sesuai. "Jadi, sedang berproses, semoga dalam waktu dekat bisa memenuhi secara nasional," ungkap dia.
Konsumsi susu nasional masih rendah
Merrijantij memerinci, untuk mendorong kemajuan industri susu nasional di Indonesia, baik sektor swasta maupun Kementerian Perindustrian Republik Indonesia turut memperkuat rantai pasok bahan baku susu segar dalam negeri.
Hal tersebut dilakukan antara lain dengan peningkatan teknologi melalui bantuan mesin peralatan digitalisasi di pos penampungan susu dan peralatan cooling unit untuk meningkatkan kualitas bahan baku bagi industri.
Data World Population Review melaporkan, pada 2022 tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia berada di level 17,76 liter per kapita per tahun.
Sebagai gambaran, tingkat konsumsi tersebut masih berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Malaysia yang memiliki tingkat konsumsi susu 42,49 liter per kapita per tahun, Singapura dengan tingkat konsumsi 46,1 liter per kapita per tahun, hingga Vietnam dengan tingkat konsumsi 37,21 liter per tahun.
"Seiring dengan transformasi gaya hidup masyarakat yang lebih sehat, kami meyakini peluang pasar produk susu seperti susu cair, akan terus tumbuh tinggi ke depannya," ucap dia.
Perlu peningkatan produktivitas
Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GCSI) Jawa Timur, H. Nur Kayin, mengungkapkan, pemenuhan kebutuhan susu sapi tidak dapat dipenuhi berdasarkan jumlah sapi perah saja, tetapi pada produktivitasnya.
"Bagaimana kemudian hari ini produktivitas itu di angka 12 liter per ekor per hari, padahal kalau sapi itu 20. Kendalanya adalah di pakan," ungkap dia.
Ia menilai pemerintah perlu melakukan intervensi di sektor pakan ternak. Berdasarkan data yang dia miliki, sebanyak 80 persen bahan baku pakan ternak itu konsentratnya adalah pabrikan. Sedangkan pabrikan itu mayoritas diekspor.
Hal tersebut membuat harga pakan ternak menjadi fluktuatif. "Harapan kami dari koperasi itu, pemerintah mengintervensi di situ," tutur dia.
KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Nestlé Indonesia memperingati 50 tahun kemitraannya bersama para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur.Kemitraan Nestlé Indonesia
Kehadiran perusahaan swasta sangat diperlukan oleh pelaku industri susu nasional untuk dapat terus berkembang.
Tahun ini, Nestlé Indonesia memperingati 50 tahun kemitraannya bersama para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur.
Kemitraan dimulai dengan pendampingan, edukasi, dan bantuan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas susu sapi segar, maupun peningkatan kesejahteraan komunitas peternak sapi perah rakyat, dan sekarang telah berkembang untuk mendorong implementasi pertanian regeneratif.
Presiden Direktur PT Nestlé Indonesia, Georgios Badaro, mengatakan, saat ini lebih dari 13.000 peternak sapi perah rakyat dari 28 koperasi di Jawa Timur merupakan mitra kerja Nestlé Indonesia.
“Kisah kami bermula pada 1975, ketika kami membeli 160 liter susu segar dari sebuah koperasi di Pujon, Malang," ungkap dia.
Dengan dukungan tim Milk Procurement and Dairy Development (MPDD), tujuan awal Nestlé Indonesia adalah meningkatkan produktivitas dan kualitas susu segar melalui pendampingan teknis dan pelatihan, serta dukungan finansial untuk pengadaan peralatan peternakan.
Selama 50 tahun terakhir, Nestlé Indonesia telah membangun kemitraan yang kuat dengan ribuan peternak sapi perah, koperasi, serta pemerintah pusat dan daerah, dan berperan penting dalam membangun komunitas persusuan yang tangguh di Jawa Timur.
Pendekatan pertanian regeneratif
Sustainable Agri Advisor PT Nestlé Indonesia, Syahrudi, menambahkan, upaya Nestlé Indonesia dalam mentransformasi praktik usaha lokal tidak hanya berhenti pada dukungan kepada peternak, tetapi juga mencakup pendekatan pertanian regeneratif yang memulihkan dan merevitalisasi ekosistem.
Nestlé Indonesia berkomitmen untuk mengurangi dampak negatif sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan.
"Hingga kini, kami telah membangun 8.700 unit biogas dan 2.000 fasilitas aplikasi pupuk kandang untuk mengubah limbah menjadi energi bersih dan pupuk alami," ungkap dia.
Lebih dari 200.000 pohon legum seperti Calliandra dan Indigofera telah ditanam melalui program silvopastura untuk mendukung restorasi tanah.
Upaya ini diperkuat dengan konservasi air, vermikompos untuk peningkatan kesehatan tanah, serta pengurangan emisi melalui optimasi pakan, pemanfaatan biogas, manajemen kotoran ternak, dan praktik pertanian regeneratif lainnya.
Nestlé Indonesia turut berkomitmen untuk meningkatkan perekonomian nasional, melalui pemberdayaan para pemasok bahan baku, seperti para peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur.
Sejak 1975, Nestlé Indonesia telah menginvestasikan dukungan, pendampingan, atau bantuan bagi para peternak di Jawa Timur, serta melakukan pembelian susu segar lebih dari 60 juta dollar AS setiap tahunnya.
Adapun pada 2019, Nestlé Indonesia menginvestasikan sekitar 100 juta dollar AS untuk memperluas tiga pabrik, dan pada 2021 berkomitmen sekitar 220 juta dollar AS untuk membangun Pabrik Bandaraya terbaru di Jawa Tengah. "Sehingga total investasi hingga saat ini mencapai sekitar 617 juta dollar AS," ucap dia.
Syahrudi menerangkan, kolaborasi yang telah terbangun antara komunitas peternak sapi perah rakyat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus dilanjutkan agar pertumbuhan dan keberlanjutan dapat senantiasa berjalan selaras.
Momentum peringatan 50 tahun kemitraan PT Nestlé Indonesia dengan peternak sapi perah rakyat di Jawa Timur dapat menjadi model praktik terbaik pengembangan kemitraan persusuan nasional yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang