Bisnis.com, JAKARTA — Emiten terafiliasi Prajogo Pangestu PT Petrosea tbk Tbk. (PTRO) mengungkapkan alasan penjualan tambang perseroan lewat PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) kepada perusahaan terafiliasi Happy Hapsoro PT Singaraja Putra Tbk. (SINI).
Sekretaris Perusahaan PTRO Anto Broto mengatakan rencana transaksi itu dilatarbelakangi oleh inisiatif perseroan dalam melakukan penataan portofolio usaha secara berkelanjutan.
"Sehubungan dengan hal tersebut, Perseroan memandang perlu untuk melakukan optimalisasi struktur usaha serta meningkatkan skala bisnis melalui penguatan fokus pada kegiatan usaha inti (core business), yaitu lini bisnis jasa pertambangan, EPC, EPCI dan logistik yang terintegrasi, termasuk pengembangan pada sektor pertambangan mineral lainnya yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang," tulis Anto dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (22/4/2026).
Adapun, penjualan KMS ini diharapkan memberi fleksibilitas yang lebih besar kepada PTRO dalam mengelola struktur keuangan dan mendukung pengembangan usaha ke depan.
PT KMS dilepas kepada PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) senilai Rp1,73 triliun, dengan nilai transaksi penjualan KMS ditentukan berdasarkan laporan penilaian independen.
Dari sisi valuasi, nilai akuisisi KMS sebesar Rp1,73 triliun berada di bawah estimasi nilai pasar sebesar Rp1,84 triliun, sehingga dinilai wajar dari aspek keuangan.
Dana dari transaksi penjualan KMS sebagian besar atau 70% akan digunakan oleh PTRO untuk melunasi pinjaman jangka panjang pihak ketiga. Sisanya akan digunakan untuk mendukung kegiatan operasional, investasi, dan keperluan lainnya.
Sebelumnya, PTRO telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PPJB) dengan PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) sehubungan dengan rencana pengambilalihan PT Kemilau Mulia Sakti.
"Berdasarkan PPJB tersebut, Perseroan bermaksud untuk menjual seluruh kepemilikan sahamnya pada KMS sebanyak 507.380.875 saham, yang mewakili 99,995% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor dalam KMS kepada SINI," kata Anto.
Adapun, PT KMS merupakan perusahaan penambangan batu bara dengan area operasional di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Perusahaan yang diakuisisi PTRO pada 2023 tersebut memiliki cadangan batu bara dengan sumber daya teridentifikasi sebesar 164,1 juta ton.
Selanjutnya, mineable reserves sebesar 82 juta ton dengan perkiraan volume overburden removal sebesar 549 juta BCM dan long term stripping ratio sekitar 6,7 kali di area seluas 4.776 hektare.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.