Bisnis.com, JAKARTA — Asuransi properti diproyeksikan tetap menjadi salah satu kontributor terbesar bagi pendapatan premi di industri asuransi umum pada 2026.
Pengamat asuransi Dedi Kristianto berpendapat demikian lantaran menurutnya ini didorong oleh nilai pertanggungan korporasi yang besar dan kebutuhan proteksi aset industri.
Meski demikian, dia tetap menilai pada 2026 ini masih terdapat ruang ekspansi yang cukup besar untuk asuransi properti di segmen UMKM dan residensial. Pasalnya, tingkat penetrasi dan literasi asuransi di segmen ini masih bisa ditingkatkan.
“Namun tantangannya adalah sensitivitas harga dan rendahnya kesadaran proteksi, perlu produk yang sederhana dan premi terjangkau, distribusi harus efektif [melalui bank, pembiayaan, atau bundling properti],” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (26/2/2026).
Menurutnya, supaya bisa tetap untung atau profitable dari produk asuransi properti, perusahaan harus menerapkan pricing berbasis zona risiko, kontrol akumulasi wilayah, dan governance klaim yang disiplin.
“Intinya, peluang ada, tetapi keberhasilan ekspansi bergantung pada keseimbangan antara volume pertumbuhan dan pengelolaan risiko yang baik,” tegasnya.
Lebih lanjut, secara keseluruhan Dedi melihat pertumbuhan asuransi properti pada 2026 ini cenderung moderat dan lebih selektif. Hal ini karena adanya pengaruh dari kenaikan biaya reasuransi, tekanan dari risiko katastropik dan perubahan iklim, sehingga menuntut disiplin underwriting dan risk engineering yang lebih kuat.
“Secara strategis, isu utamanya bukan lagi sekadar apakah properti tetap terbesar, tetapi apakah portofolio properti tetap profitable dan sustainable? Ke depan, perusahaan yang disiplin dalam risk selection dan claim governance akan lebih stabil dibanding yang hanya mengejar volume premi,” ucapnya.
Baginya, tren peningkatan bencana alam dan dampak perubahan iklim akan memberi tekanan besar pada tarif premi (pricing) dan profitabilitas asuransi properti. Karena dampak tren itu membuat frekuensi dan nilai klaim meningkat, pricing menjadi lebih risk-based dan selektif, biaya reasuransi cenderung naik, hingga profitabilitas yang menjadi lebih volatil jika tidak didukung manajemen risiko yang kuat.
Selain masalah bencana, Dedi turut berujar tantangan lain dalam memasarkan asuransi properti meliputi persaingan tarif yang ketat sehingga margin tertekan, ketergantungan pada kapasitas reasuransi, proses underwriting yang kompleks dan teknis, sehingga memperlambat akuisisi, dan literasi pasar yang masih rendah, khususnya di segmen SME.
“Intinya, tantangan terbesar adalah menyeimbangkan pertumbuhan premi dengan kualitas risiko dan profitabilitas jangka panjang,” ucapnya.
Oleh karena itu, dia menyarankan agar perusahaan asuransi fokus pada pertumbuhan berbasis kualitas risiko dalam mendongkrak pendapatan premi. Menurutnya, sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan perang tarif.
“Strategi utamanya meliputi risk-based underwriting, optimalisasi pricing dan reasuransi, ekspansi segmen potensial, kolaborasi strategis, dan penguatan claim governance,” tutupnya.
Sebagai informasi, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat pendapatan premi dari lini usaha properti sepanjang 2025 mencapai Rp32,86 triliun, tumbuh 8,6% (year on year/YoY) dari Rp30,27 triliun.
Sementara itu, klaim yang dibayar dari asuransi properti naik 1,8% YoY menjadi Rp8,58 triliun sepanjang 2025. Adapun, rasio klaim asuransi properti sebesar 26,1%.