Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan kinerja sektor manufaktur yang tercermin dari anjloknya Purchasing Managers’ Index (PMI) ke bawah level 50 dinilai membutuhkan respons kebijakan yang komprehensif, baik dari sisi jangka pendek maupun struktural.
Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, penurunan PMI manufaktur sebenarnya sudah terindikasi sejak beberapa bulan terakhir, seiring memburuknya dinamika global dan melemahnya indikator domestik.
“PMI yang anjlok ini sudah diprediksi, terutama setelah perang di Timur Tengah bergejolak dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) BI itu melemah,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (4/5/2026).
Menurut Nailul, tekanan terhadap sektor manufaktur datang dari dua arah. Dari eksternal, konflik geopolitik mendorong kenaikan harga barang impor sehingga meningkatkan biaya produksi. Sementara dari dalam negeri, pelemahan permintaan membuat pelaku usaha menahan ekspansi.
“Dalam ekonomi yang lemah, ya sangat wajar perusahaan menahan ekspansinya. Maka tidak heran PMI manufaktur Indonesia berada di bawah 50 basis poin,” sebutnya.
Dia memperkirakan tekanan terhadap sektor manufaktur masih akan berlanjut dalam waktu dekat. Bahkan, risiko terhadap perekonomian nasional dinilai semakin besar jika tidak direspons dengan kebijakan yang tepat.
Oleh karena itu, selain faktor global, persoalan domestik menjadi kunci dalam menentukan arah pemulihan. Kekhawatiran pelaku usaha terhadap stabilitas fiskal pemerintah turut memengaruhi keputusan investasi.
“Mereka khawatir jika pemerintah default, gagal bayar utang, hingga terjadi government shutdown. Jika benar mengarah ke sana, resesi ekonomi sangat mungkin terjadi,” tutur Nailul.
Untuk meredam tekanan jangka pendek, dia menyarankan pemerintah memperkuat strategi mitigasi dari sisi pasokan dan perdagangan. Salah satunya dengan mencari alternatif sumber impor bahan baku guna mengurangi ketergantungan pada wilayah yang terdampak konflik.
Selain itu, pemberian insentif bagi pelaku usaha yang terlibat dalam aktivitas ekspor-impor dinilai dapat membantu menjaga kelancaran produksi dan distribusi.
Dari sisi domestik, Nailul menekankan pentingnya menjaga kredibilitas pengelolaan fiskal. Pemerintah perlu memastikan defisit anggaran tetap terkendali serta memprioritaskan belanja yang berdampak langsung terhadap perekonomian.
“Perketat anggaran prioritas seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) dan KDKMP (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih), sehingga kepercayaan investor jadi pulih,” tambahnya.
Dalam jangka menengah hingga panjang, perbaikan struktur ekonomi menjadi kunci untuk memperkuat daya tahan sektor manufaktur. Huda menyoroti masih tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang mencerminkan rendahnya efisiensi investasi.
Menurutnya, tingginya ICOR tidak terlepas dari praktik korupsi, khususnya dalam proses perizinan, yang pada akhirnya meningkatkan biaya investasi. “Maka pemberantasan korupsi menjadi kunci ke depan,” tegasnya.
Selain itu, penguatan inovasi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penentu. “Mau tidak mau, SDM menjadi kunci dalam hal inovasi,” pungkasnya.